Loading...

Novel Belle Bab 3 oleh De Moi

September 08, 2022 Add Comment

 


POV Ara

Saat tidak melakukan apapun, namun seolah kebaikan selalu datang menghujani. Aku tidak menyukai hal-hal seperti ini, hanya akan menjadi beban hidup dan pikiran saja. Aku benci merasa berhutang budi kepada orang lain.

Aku berjalan menyusuri trotoar menuju kampus, hujan masih mengguyur kota yang memiliki lambang jembatan merah yang menyatukan tiap sisi sungai. 

"Al Feres!" Suara cewek terdengar nyaring di antara rintik hujan.

"Dek, ngapain di sini? Nggak sopan manggil nama."

"Biarin. Nyusul kakak lah." Perempuan itu mendekat lalu menempel seperti permen karet.

"Kakak mau masuk kelas," ucapnya jutek.

"Kak Feres jangan ngojol hari ini! Aku mau ditemenin ke toko buku."

"Aku berpikir, kalau kamu ini nggak punya teman."

"Ih!" Perempuan itu memukul bahunya. 

"Pulanglah, nanti Kakak temenin."

"Nggak, aku mau nunggu di sini."

"Jangan membuat kekacauan."

"Tenang, aman. Aku adalah adik dari panti asuhan." Perempuan itu mencebil.

Aku mematung memperhatikan dua orang yang sedang berdebat kecil. 

"Aw!"

"Kenapa?" Dia nampak panik memegang kepalanya.

"Mataku." Perempuan itu meringis menahan sakit.

Setelah mobil lewat di sampingnya. Sepertinya dia kena percik sesuatu. Lelaki itu meniup matanya sekali, tapi tidak berhasil. Aku tidak ingin melihat adegan itu, hendak pergi, tapi kaki ini terpeleset. 

"Ara?" serunya.

Aku memalingkan wajah dan mencoba bangkit. Pakaianku menjadi basah juga kotor. 
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.

"Dia dari tadi di situ tau, Kak."

Wajahnya terlihat kaget dan malu setelah perempuan itu angkat bicara.

"Permisi," ucapku.

"Ara, tunggu!" cegahnya, "Kamu jangan salah paham, dia ...."

"Iya Fer. Tidak apa, santai saja," jawabku menyambung.

"Fer? Kamu tau nama aku?"

"Ah, iya, tadi ... saya dengar dia panggil kamu."

Feres menggaruk kepalanya. 

"Ehm, kalian? Eh, cie ...." Perempuan muda itu menyambung.

"Hust!" Feres langsung menghentikannya.

"Saya adiknya kok Mbak, bukan pacar."

Aku meringis, "Bukan urusan saya juga, permisi." Aku pamit dari kedua orang yang nampak menyembunyikan sesuatu.

"Griz," panggilku pada Griz yang tengah berjalan sendiri.

Dia menoleh lalu memalingkan wajah tanpa mengindahkanku.

"Griz kenapa ya? Tidak seperti biasanya." Aku mengernyit bingung.

"Ara, kamu nggak liat aku ya?" Joa tiba-tiba muncul di samping.

"Lihat."

"Kenapa nggak manggil?"

"Kenapa harus manggil?"

"Kamu ini!" dengusnya kesal.

"Aku buru-buru, nanti telat tidak boleh masuk."

"Oke, semangat!"

"Joa, tolong jangan tersenyum seperti itu," batinku.

Aku menutup payung, ternyata Dosen belum datang. Mungkin karena hujan sejak subuh belum reda, jadi molor. Aku meletakkan payung di dekatku.

"Ara, payungnya jangan letakkan di situ dong, basah tau."

"Letakkan di mana?"

"Sana!" Tunjuknya.

Aku meletakkan payung di belakang pintu. Ada beberapa payung milik mahasiswa lain juga di sana.

Hari ini presentasi makalah mandiri. Aku mendapat giliran dan melakukannya dengan sebaik mungkin. Jam telah dilalui dengan semangat, meski cuaca sedang dingin-dinginnya. 

"Ra, bisa bicara sebentar?" tanya Pak Bara.

"Bisa Pak."

Beberapa mahasiswa yang masih di dalam kelas melirik sinis juga berbisik-bisik.

"Saya mau bicara dengan Ara." Pak Bara meminta yang lain keluar.

"Ngapain coba?" decak salah satunya.

"Pak Bara kan duda tajir, meski udah umur lima puluhan tapi masih keliatan ganteng juga," imbuh yang lain.

"Dahlah, biarkan saja, yang rusak juga dia."

Jantungku berdenyit mendengar celoteh mereka.

"Maaf, ada perlu apa ya Pak?"

"Setelah kelas ini saya ada pertemuan para Dosen di aula, jadi tidak bisa masuk ke kelas hukum. Saya ada dua jam di sana. Apa kamu bisa menggantikan saya?"

"Tapi ada jam Bu Ratna, Pak."

"Bu Ratna jadi MC, nggak bakalan masuk kelas dia."

Aku berpikir, ini kesempatan, siapa tau aku akan dijadikan asdos. Lumayan menambah pemasukan juga kenalan.

"Baik, Pak."

"Oke, saya Permisi."

Aku mengangguk mempersilakan.

"Segera ke sana ya, mereka pasti sudah menunggu saya."

"Siap, Pak."

Aku bergegas, saat di pintu dikejutkan oleh Griz. Wajah dan matanya seolah ingin menghabisiku. 

"Griz, aku di suruh Pak Bara gantiin dia di kelas hukum." Aku tersenyum bangga juga senang.

"Oh." 

Griz nampak kesal, dia pergi begitu saja. Dia benar-benar berubah. 

"Apa aku melakukan kesalahan?" Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sejak kemarin masih belum bisa menemukan letak kesalahanku padanya.

Aku berjalan cepat menuju kelas hukum, jantungku seketika mencelos, saat netra menangkap sosok yang tadi meniup mata perempuan muda.

"Maaf, benar di sini kelasnya Pak Bara?"

"Iya dek."

"Oke, saya menyampaikan permintaan maaf Pak Bara karena tidak bisa hadir. Beliau juga meminta saya untuk menggantikannya. Apakah bisa diterima?"

"Oke."

"Oh, jadi dia asdos. Kukira anak tersesat."

Gelak tawa mulai terdengar.

"Bisa kita mulai?"

Seseorang mengangkat tangannya.

"Silakan?" suruhku.

"Bagaimana kami bisa menerima materi dengan baik, kalau wajahnya Mbak Asdos di tutup?" ungkapnya.

"Kalau anda memfokuskan indra pendengaran, maka itu jadi sangat mudah."

"Baiklah, mari kita mulai." Feres angkat bicara.

"Siapa ketua kelas?" tanyaku.

"Feres," jawabnya sendiri.

"Bisakah anda meletakkan kamera ini di sudut sana?"

"Kenapa harus ada kamera, sih?" protes yang lain.

"Ini bukan keinginan saya," tegasku.

Aku memulai pelajaran dengan beberapa pertanyaan. Jam Pak Bara di kelas hukum berakhir, aku kembali ke kelas teringat dengan payung. Aku tertegun, payung itu sudah tidak ada di sana. 

"Payung itu pasti mahal, melihat dari bentuknya." Aku bergumam.

"Hei, ngapain sih mondar mandir gitu?" Joa datang tiba-tiba.

"Payung yang saya bawa tidak ada."

"Payung? Ya elah, Ra. Beli lagi aja."

Aku terdiam mendengar kalimatnya, "Itu mudah buat kamu," jawabku kesal.

"Maaf, maksudku ... kamu bisa pulang sama aku."

"Itu bukan payung saya."

"Ya, udah. Kita beli lagi yang seperti itu."

"Saya tidak punya uang Joa!"

"Biar saya yang belikan. Anggap saja itu balasan kamu bantuin aku ngerjain tugas kemarin."

Aku akan menerima, sebab dia bilang balasan dari membantunya kemarin. Aku pergi bersamanya memasuki mobil.

"Oh, jadi dia?" Griz datang menghadang Joa membuka pintu mobil.



Baca selengkapnya di KBM App


#novel
#belle
#writingcontest4
#demoi

Novel Belle Bab 2 oleh De Moi

September 06, 2022 Add Comment

 


Bab 2

POV Ara

"Tumben cepet!" seru Kak Mely dari meja kasir.
Aku meringis lalu melirik cermin besar yang terpasang agar pelanggan bisa menata dirinya setelah makan. Terlihat mataku menyipit dan aku menahannya cukup lama.

"Ngaca nggak ngaca sama aja nggak keliatan juga, Ra!"

"Keliatan kok. Aku bisa membayangkan bentuk bibir simetris, juga gigi kuning tidak beraturan."
 
"Menjijikkan!" ungkap Kak Mely.

Aku terkekeh kemudian meletakkan sling bag ke lemari khusus karyawan. 

"Ra, antar ini ke meja 20 ya!" perintah salah satu karyawan.

"Siap." Aku mengenakan celemek hitam dengan gambar segelas kopi. Celemek ini tidak terlihat begitu menonjol, karena sama dengan warna pakaianku.

"Kopi!" ucapku ketika sampai, "Dia kan? Oh, cowok yang di ruangan Dekan." Aku menebaknya.

"Kenapa?" tanyanya.

"Oh, tidak, maaf!" jawabku, "Ekspresinya menjengkelkan, mana pakai acara baca Quran segala!" gumamku lagi.

Dia memicingkan matanya, aku mengangguk lalu pergi.

"Mel, Ara ada?" Terdengar seseorang mencariku.

"Tuh!"

Aku memunculkan kepala.

"Joa?"

Joa tersenyum, "Benar-benar manis dengan lesung pipi itu." Aku menggeleng pelan.

"Bantu aku ngerjain tugas!"

"Kebiasaan Joa ini!" seru Kak Mely.

Aku masih diam di tempat, tidak enak karena Joa selalu membuatku tidak bekerja.

"Anggap saja itu pekerjaannya," bisik Joa pada Mely.

"Lagi rame Jo?" Mely masih tidak terima.

"Kamu turun tangan dong!"

Kak Mely memutar bola matanya dan mendengus kesal.

"Ganti karyawan lagi aja lah."

"Jangan coba-coba. Kalau mau nambah lagi silakan. Dia tetap di sini dan dapat gaji," tutur Joa.

"Buang-buang duit," ketus Kak Mely.

"Bukan duit kamu, aja kok."

"Iya, Bos." Mely membuang muka.

"Jangan sewot gitu, nanti cantiknya hilang. Aku butuh dia buat ngerjain tugas, oke!"

"Hm," sahut Kak Mely.

Aku masih merasa tidak enak hati, memandangi Kak Mely yang memerah.

"Ya udah, sana!" perintahnya padaku dengan ketus.

Akhirnya aku mendekati Joa yang sudah duduk menghadap laptop dan beberapa buku. 

"Kamu mau minum apa?"

"Tidak."

"Puasa?"

"Tidak, kok."

"Kamu emang selalu pakai bahasa formal gitu?"

"Iya, biar jadi ciri khas."

Joa terkekeh.

"Lemon tea, ya?"

"Kamu saja, saya sudah minum."

"Hm, okelah. Mel, lemon tea satu ya!" pinta Joa setengah teriak, namun tidak ada sahutan.

"Jo," panggilku pelan.

"Iya?"

"Aku tidak enak sama Kak Mely. Kenapa tidak di kampus tadi saja sih?"

"Mely itu sepupuku, santai aja."

"Tapi kan saya kerja, di sini. Nanti gaji saya dipotong."

"Nggak bakal, tenang aja."

Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Aku melirik tempat duduk cowok yang ada di ruang Dekan tadi, tapi sudah tidak ada. Mungkin melakukan layanan OJOL.

"Ra."

"Iya?"

"Mama menjodohkanku."

"Wah, bagus dong."

"Bagus?"


Lengkapnya di KBM App.

#novel
#kbmapp
#writingcontest4
#belle
#demoi


Novel BELLE oleh De Moi

September 05, 2022 Add Comment

 


Bab 1
POV Ara

Seorang perempuan cantik dengan gaya khas konglomerat datang, Bunda dan dia berdebat di ruang tamu, kemudian beberapa orang lagi menyusul masuk, tubuh mereka kekar dan berwajah garang. Mereka membawa beberapa botol air. Salah satu menyodorkan botol itu ke teman debat Bunda. Tanpa aba-aba, ia menyiramkan air ke wajah Bunda, lalu mencekokinya. Terlihat Bunda mengerang kesakitan dan meminta ampun. 

Lalu yang lain menyiramkan air itu ke lantai dan dinding rumah, kali ini baunya menyengat. Aku semakin ketakutan, celana tidur menjadi basah. Perempuan itu menyalakan pemantik dan melemparkannya sebelum melangkah pergi. Malam begitu gelap, saat paling tepat manusia beristirahat, tapi aku justru berteriak, api mulai melahap dengan cepat. Tiba-tiba seorang lelaki tua mendobrak pintu menyeret Bunda keluar. Terlihat tangan Bunda menunjuk ke arahku bersembunyi. Lelaki tua itu mencari ke sana kemari, ia berhenti sejenak, aku sudah tidak mengingat apapun.


"Ara!" 

"Ah, iya." Aku terkejut, ternyata Bu Ratna menepak meja dengan keras.

"Kebiasaan tidur di kelas, keluar!" Tangannya menunjuk keluar.

Aku bergegas keluar dan mencuci muka, kemudian kembali lagi ke kelas.

"Siapa yang menyuruhmu kembali?" sentak Bu Ratna saat selangkah kaki memasuki kelas.

Semua mata memandang ke arahku dengan berbagai ekspresi. Aku menelan saliva dan melangkah mundur.

"Dasar aneh!" ucapnya lagi dengan pelan. 

Aku jongkok bersandar di dinding luar kelas, setiap kali mahasiswa lewat, mereka berbisik. Terserah merekalah. Meski sayup, aku berusaha keras memfokuskan mendengar penjelasan Bu Ratna di kelas. 

"Ra, kamu dipanggil Dekan." Seseorang menyapaku.

"Kenapa?"

"Mana kutau?" Ia menunjuk CCTV di sudut koridor.

Tidak pakai lama, aku segera menuju ruang Dekan.

"Permisi," ucapku seraya mengetuk pintu.

"Masuk!"

Aku masuk dan berdiri di balik pintu.

"Duduk!" pinta Dekan.

Aku duduk menghadap Dekan yang sedang bersandar meluruskan kakinya.

"Kamu tau kenapa dipanggil ke sini?"

Jantungku berdebar memikirkan ada apa gerangan.

"Tidak Pak."

"Kamu bisa masuk ke Universitas ini karena beasiswa. Tapi ... kalau seperti ini terus bisa saja dikeluarkan, tidak bisa memenuhi prasyarat penerima beasiswa prestasi."

"Iya, Pak."

"Iya apanya?"

"Saya akan berusaha lebih keras."

"Sudah banyak Dosen yang mengeluh dengan kebiasaanmu tidur di kelas. Sering tidak masuk jam. Kamu tidak suka dengan Dosen yang mengajar atau ada masalah lain?"

"Tidak Pak."

"Tidak apanya?"

"Saya ... saya selalu mengerjakan tugas dan antusias di kelas."

"Hah, bagaimana kamu bisa antusias kalau selalu tidur?"

"Saya akan berusaha lebih baik Pak."

"Kalau kamu tidak ada teman cerita, bisa cerita ke saya. Apa ada masalah di rumah? Kenapa akhir-akhir ini ngantukmu semakin parah? Kamu nggak masuk kelas ke mana? Tidur? Atau melakukan hal lain?"

"Seperti?"

"Ya mana saya tau, Ara!" Dekan menaikkan volume suaranya.

Aku bingung mau jawab apa, terlalu banyak yang ada di benak.

"Kalau nilai semester ini turun lagi, terpaksa saya keluarkan kamu. Rugi kampus ngasih beasiswa."

"Iya, Pak."

"Ya sudah, sana. Masih ada jam kan?"

"Iya. Permisi." Saat hendak keluar, mataku menangkap seseorang sedang menulis sesuatu di kertas di meja Dekan.

"Dia anak hukum yang selalu meraih IPK di atas 3,90 tiap semester. Dia juga kuliah di Universitas S jurusan TI," tutur Dekan.

"Apa dia anak orang kaya?"

"Dia driver ojek online."

Aku mengangguk, otakku berpikir yang tidak-tidak.

"Sangat tampan, penampilan tidak seperti anak hukum, TI? ojek online?" gumamku sendirian.
Aku harus bisa mengatur waktu, membaginya dengan benar. Impian menjadi psikolog anak tidak boleh kandas begitu saja. 

"Ara, nama kamu Ara?" panggil seseorang.

"I-iya."

"Kamu meninggalkan ini di ruang Dekan."

"Oh, iya. Eh, bukan."

"Jadi, iya apa enggak nih?"

"Bukan, saya tidak punya buku seperti itu."

"Maaf, aku tadi membukanya, ada namamu tertulis di dalam."

"Benarkah?"

Dia menyodorkan buku itu untuk kuperiksa.
"Oh, iya benar. Ini punya saya." Aku meraih buku itu setelah melihat nama tertulis di sana.

"Bisa lupa sama buku sendiri," gumamnya.

"Kenapa?" tanyaku yang pura-pura tidak dengar.

"Apa kamu gugup?"

"Gugup? Kenapa harus gugup?"

"Karena didekati cowok tampan, cerdas dan keren seperti saya."

"Hist!" batinku. Namun dia sudah berlalu pergi, "Eh, dia kan cowok yang ada di ruang Dekan tadi?" pikirku.

Aku mengikutinya menuju parkiran, dia menaiki motor matic, memasang jaket dan helm berwarna hijau dengan tulisan khas ojek online di bagian belakang.

"Tengil!" umpatku lalu memalingkan badan ke arah kantin.

"Ara!" panggil Griz.

"Eh, dari mana?"

"Bukan dari tapi mau ke mana?"

"Oh, iya, mau ke mana?" Aku mengganti pertanyaan.

"Mau ke Musola. Ikutan yuk!"

"Ngapain?"

"Dengerin tausiyahnya Ustazah Nana."

"Ehm, kamu duluan saja!"

"Oke."

Aku bertemu dengannya waktu pendaftaran, dia juga penerima beasiswa prestasi, jurusan kami pun sama, cuma beda kelas saja. Dia bukan hanya terkenal pintar, tapi juga cantik dan tajir melintir. Griz selalu di antar sopir pribadinya kemanapun pergi.

"Si Ara itu aneh, dia berpakaian seperti itu, tapi aku gak pernah liat dia ke Musola."

"Hust!" 

Aku mendengar Griz memarahi temannya. Griz memang cewek idaman, aku saja terpesona dengan segala yang ada pada dirinya. Hari ini hanya ada tiga mata kuliah saja. Jam terakhir aku dihitung tidak masuk karena tertidur di kelas. 

Rintik hujan perlahan jatuh ke bumi, awan gelap menggelayut di langit. Aku bergegas menuju kantin dan mengambil mi instan, meminta Pak Darso menuangkan air panas. 

"Pak, catat ya!" pintaku seraya membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral, "Sama ini." Aku menunjukkan botol dan bergegas pergi. Mi instan itu sudah lembut dan belum mengembang, saat sudah berada di dalam angkot, aku memakannya. 

"Baunya menggoda Neng," ucap sopir angkot.

"Eh, mau Pak?"

"Gaklah, nanti kamu kurang. Sepertinya sangat lapar."

Aku terkekeh dan terbatuk. Mataku melirik ke kanan, sebab merasa seseorang sedang mengawasi, tapi itu cuma si ojek online dan penumpangnya.

"Aku seperti pernah lihat motor itu," gumamku.

"Kenapa Neng?" tanya Pak Sopir dikira aku bicara padanya.

"Seperti pernah lihat motor itu," sahutku.

"Temen kamu mungkin, atau pacar." Kekeh sopir angkot, "Banyak Neng anak muda yang kerja sampingan sebagai ojol."

"Gitu."

"Nengnya kuliah atau masih sekolah?"

"Kuliah Pak, di kampus itu!" Aku menunjuk arah lorong yang ada gapura dengan tulisan nama universitas.

Tidak berlanjut perbincangan kami, sebab penumpang mulai memenuhi angkot. Aku masih menyeruput kuah mi instan. Seorang Ibu bersama anaknya memakai seragam SD menatap tajam. Aku melepas senyum dan mengangguk, namun dia justru membuang muka dan menggeser posisinya.

"Ma, kakak itu cantik banget ya."

"Cantik apanya? Cuma keliatan mata doang."

"Mata dan alisnya cantik."

"Jorok!"

"Kok jorok?"

"Liat aja, kerudungnya kotor ketetesan kuah mi. Mana pakaiannya seperti orang habis takziyah."
Aku menelan saliva dan pura-pura tidak mendengar, menikmati musik yang diputar oleh Pak Sopir. 

Ucapan sarkas sudah seperti makanan sehari-hari, tatapan sinis juga menjadi bumbu penyedap menjalani kehidupan. 

Seberapa keras aku mencoba bergaul dengan mereka, tidak pernah berhasil, jikapun berhasil tidak akan berjalan dengan mulus. Hanya ada satu orang yang tetap bertahan bersikap baik dan berteman denganku. 

Seberapa keras aku mencoba bergaul dengan mereka, tidak pernah berhasil, jikapun berhasil tidak akan berjalan dengan mulus. Hanya ada satu orang yang tetap bertahan bersikap baik dan berteman denganku.

"Neng, nggak usah bayar."

Aku menoleh, "Apa Bapak itu tau kalau aku tidak memiliki uang di dalam tas?" pikirku.

Aku masih saja menggerayangi tas dan menemukan uang logam lima ratus. Aku memejamkan mata dan perlahan turun. Para penghuni angkot mulai gaduh dan melirik. Aku menganggukkan kepala dan melepas senyum. Entah mereka tau atau tidak kalau ini senyum malu dan tidak enak hati pada Bapak sopir.

Aku mengeluarkan ponsel pintar yang dibelikan kakek. Berjalan ke depan mobil dan mengambil gambar. 

"Pak, makasih, saya akan mengingatnya."

"Nggak usah diingat, anggap saja itu balasan kebaikanmu hari ini."

"Saya tidak melakukan kebaikan apapun hari ini." Otakku kembali memutar ulang apa saja yang sudah terjadi.

"Udah, sana!" Bapak itu memintaku segera pergi.

"Makasih Pak."

Angkot kembali melaju meninggalkan perih di hati.


Bersambung ....

Baca novelnya hanya di KBM App.


#Novel

#KBMApp

#writingcontest

#Belle

#DeMoi

Novel Bab 5 Masih Sama

Juni 05, 2022 Add Comment

 

Hari pernikahan Sally telah tiba. Arini dan Rijal tiba lebih dulu, sebab mereka diminta untuk mendampingi ijab qobul. Suasana sakral yang membahagiakan kedua belah pihak mempelai. 

"Tuh, gue udah nikah, kita bakal nggak sesering dulu sama-sama. Lo cepetan nikah juga ya. Biar nanti kita bisa ngedate bareng."

Air mata Arini jatuh terkulai di pipinya yang ranum, dagu bulat miliknya seketika melancip, ujung bibir merah muda membentuk lengkungan simetris. Ia merengkuh tubuh sahabatnya itu.

"Semoga kamu selalu bahagia," ucap Arini, kemudian meletakkan kedua telapak tangannya ke pipi Sally.

"Makasih. Lo juga, bahagia terus dunia akhirat, ya."

"Aamiin."

Tentu saja dua sahabat itu tidak hanya bahagia tapi juga sangat sedih, sebab mereka akan jarang bertemu. Kabarnya Sally akan ikut suaminya ke Medan. 

"Ya udah sana, ganti baju, kan mau mejeng di depan banyak orang." Goda Arini seraya mencubit pipit tembam Sally.

"Lo makan dan minum dulu gih!"

"Siap, Ibu Sally."

Sally terkekeh dan melangkah pergi. Arini mematung cukup lama, memandang hiruk pikuk manusia. Ia menarik napas lalu memutar tubuhnya.

"Astaghfirullah." Jantungnya mencelos, hampir saja menabrak seseorang.

Arini tidak melihat itu siapa, matanya tertunduk karena tubuh laki-laki berdiri di depannya.

"Permisi." Arini mengambil jalur kiri.

Namun lelaki itu pun sama. Ia mencoba mengambil jalur kanan, lelaki itu pun melakukannya.

"Aku mau ngomong," ucap lelaki itu.

Arini hapal dengan suaranya. Ia berhenti dan diam. 

"Saya haus."

"Aku ambilkan!" 

"Saya mau ambil sendiri. Makasih. Permisi."

"Apa aku harus berlutut di depan semua orang?" ucapnya penuh penekanan.

"Mau ngomong apa lagi, Mas Azam?" Arini mendongak, setelah menarik napas panjang.

Azam menatap lembut mata Arini yang kesal. 

"Ya, udah, nggak jadi aja. Sepertinya emang nggak mau lagi ngomong sama aku." Mata Azam berkaca-kaca, suaranya bergetar.

Hati Arini rasanya sangat pedih. Kenapa Allah mempertemukan ia dengannya lagi. Azam menggeser posisi mempersilakan Arini pergi.

"Silakan!" ucap Azam pelan.

Arini menghela napas lagi.

"Mas Azam, mau bilang apa?"

Azam menggeleng, wajahnya tertunduk.

"Mau bilang hal yang sama?" tanya Arini kemudian.

Azam mengangguk seraya menggigit bibir bawahnya.

"Saran saya, jangan sia-siakan waktu hanya untuk hal ini. Saya yakin di luar sana banyak perempuan yang jauh lebih segalanya dari pada saya. Saya akan berdoa, semoga Mas Azam mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah." Arini mengulas senyum.

Azam membasahi bibirnya. "Oke. Kalau begitu, saya juga akan berdoa, agar Allah menjadikan Mbak jodoh terbaik saya."

"Tolong jangan halangi doa saya, Mas!" pinta Arini.

"Biarkan doa kita bertarung di langit, dan kita lihat, siapa yang akan jadi pemenangnya," ucap Azam, menantang, menatap Arini tajam lalu mundur perlahan.

Arini terdiam, menahan kelenjar lakrimal berdesakan keluar. Dadanya sesak, ia bersandar di dinding depan meja prasmanan.

"Mbak!"

"Hah." Arini terkejut saat Rijal menyentuh bahunya.

"Ngapain di sini?"

"Ng-nggak papa. Mau minum." Ia terbata membetulkan posisinya berdiri.

Rijal memperhatikan keanehan saudaranya itu. 

"Mau minum yang mana?"

"Air mineral aja."

Rijal mengambilkan, Arini menyedot dengan pipet sedikit dan menatap wajah adiknya itu.

"Makasih." Arini tersenyum lebar.

"Sama-sama. Ya udah, yuk kita ke sana!" Ajak Rijal.

Arini mengangguk.

"Apa kaki Mbak sakit?"

"Enggak kok."

"Ya, udah, ayo!" Rijal menggandeng tangannya. 

Arini  tidak lagi mendapati Azam setelah berbicara dengannya sebentar.

"Mbak ketemu Mas Azam?"

"Iya."

'Mungkin karena itu dia bersandar di dinding.' batin Rijal.

"Nah, itu Mas Azam sama Mas Zaky." Rijal menarik tangannya mengajak mendekati mereka.

Arini melepas genggaman Rijal.

"Kamu aja," ucapnya pelan.

Arini mencari tempat duduk yang kosong, melepas pegal di kaki dan pikirannya. Meminum kembali air mineral yang masih dipegang sejak tadi.

Tidak lama Rijal datang menghampiri. Namun Arini mendadak merasakan nyeri pada lututnya. 

"Mbak, kenapa?" Rijal mengkhawatirkan ekspresi Arini.

"Kaki Mbak, nyeri."

"Coba Mbak luruskan sini!" Rijal meraih kakinya dan meletakkan di atas pahanya.

"Udah, nggak papa. Malu diliat orang, numpangin kaki gitu."

Rijal jongkok dan memijat kaki Arini. Hati Azam dan Zaky berdesir melihat pemandangan itu. Mereka saling menatap. Mata Azam kembali berkaca-kaca.

"Mau ke sana?" Tawar Zaky.

"Udah ada Rijal," jawab Azam.

"Udah dek, gak papa. Nanti juga ilang sendiri nyerinya. Tadi kelamaan berdiri aja."

Rijal menatap Arini. Ia merasa saudaranya itu sedang tidak baik-baik saja.

"Mau pulang?"

"Masa iya pulang sekarang."

"Ya, nggak papa. Mbak Sally bakal ngertiin kok," tutur Rijal.

Arini diam tidak menanggapi. Ia melihat pengantin yang duduk bersanding tersenyum bahagia.

"Mbak?" Rijal khawatir Arini terkulai lemah seperti beberapa hari yang lalu. Untungnya itu di rumah.

"Bentar lagi." Arini menghabiskan air mineral yang tinggal seperempat.

"Mbak udah lama nggak check up." Rijal masih berceloteh.

Arini sering tidak menggubris permintaan Rijal untuk sering check up ke dokter biasanya.

"Nggak usah bahas itu di sini!" pinta Arini, "Dek, kita pulang aja yuk!" ajak Arini setelah ia merasa semakin tidak nyaman pada kaki dan hatinya.

"Iya, ayo!" 

Mereka pulang tidak pamit pada Sally ataupun orang tuanya. Hanya Rijal yang memberikan anggukan saat melihat Azam dan Zaky. Saat di halaman gedung menuju parkiran motor, Arini diam tidak bergerak.

"Mbak, ayo!" Rijal sudah hampir dekat ke motor.

Arini masih mematung, ia tidak bisa menggerakkan kaki kirinya. Rijal kembali mendekati.

"Mbak?" Rijal mulai panik.

"Kaki Mbak nggak bisa digerakin," ucap Arini pelan.

Tanpa berpikir panjang. Rijal menggendongnya sampai ke motor.

"Mbak masih bisa kan?"

"Iya. Tapi dudukkan ke atas motor sekalian."

Rijal terlihat repot mengurus Arini.

"Pegangan!" pinta Rijal.

Arini memegang pinggang Rijal erat. Sesekali ia menggigit bibirnya menahan ngilu.

"Mau ke mana?" Arini bertanya saat laju motor tidak melewati jalan menuju rumah.

"Rumah sakit."

"Nggak usah dek, pulang aja."

Rijal tidak menggubris Arini. Bagaimana mungkin ia akan baik-baik saja ketika saudaranya terluka.

Motor terparkir di halaman rumah sakit, Rijal membopong Arini langsung ke ruang dokter saraf. Qodarullah dokternya ada di ruangan. Arini segera ditangani dan berada di ruang rawat inap.

"Maaf Dok, gimana kaki Mbak Arini?" tanya Rijal.

"Karena lututnya yang retak, dia akan mengalami hal seperti ini. Sarafnya rusak. Dan tidak mudah untuk diperbaiki."

"Apa ... akan baik-baik saja?"

"Saya marah, karena dia ini belum pulih betul, kenapa nggak dibawa ke sini lagi. Sepertinya dia terlalu sering berjalan."

"Maaf Dok, Mbak Arini keras kepala."

Dokter menghela napas berat.

"Kalau tidak ditangani dengan benar, kaki kirinya bakal nggak bisa digunakan juga."

Deg. Arini yang sudah terbangun dari tidur dan mendengar lirih suara percakapan mereka di balik pintu kamar. Air merembas dari sudut matanya yang bulat dan berbulu lentik menghitam. Dadanya sesak. Segera ia usap ketika mendengar langkah kaki mendekatinya.

"Mbak, udah bangun. Mau makan sesuatu?" tawar Rijal mengulas senyum namun di hatinya berdesir pedih.

"Apel itu aja. Beli di mana?" Arini mencoba mencairkan suasana.

"Di pinggir jalan, banyak orang jualan buah dan makanan lain."

Arini mengangguk dan melengkungkan ujung bibirnya.

"Mbak, Mbak nurut sama Rijal ya. Mau ya dirawat di sini sampe bener-bener pulih," tutur Rijal seraya mengupas kulit apel dan membelahnya.

"Iya. Maaf ya, Mbak merepotkanmu."

"Hm. Makanya, biar nggak ngerepotin, kudu nurut. Mau terapi sampe sembuh. Dan kita akan pikirkan buat beli kaki palsu."

"Kaki palsu?"

"Iya, biar Mbak nggak capek pegang tongkat peyangga terus."

"Mahal nggak itu?"

"Belum tau."

Tentu saja Arini akan segera mencari tau dan memutuskan. Kalau mahal maka ia tetap memakai tongkat penyangga saja. Merasa tidak enak dan kasihan Rijal mencari uang dan repot mengurusinya.

"Kira-kira, berapa lama Mbak di sini?"

"Belum tau juga."

"Adek bilang Sally nggak?"

"Belum bilang."

"Nggak usah bilang, nanti dia khawatir. Kan pengantin baru."

"Iya." 

"Nggak bilang siapapun kan?"

"Bilang."

"Sama siapa?"

"Mas Azam."

"Hm. Kamu ini." Dengus Arini kesal. "Mbak nggak mau nemuin siapapun. Lagian ngapain coba pake laporin ke orang segala."

"Nggak laporan sih, Mas Azam tadi nelpon. Ya udah, Rijal kasih tau, kan dia nanya."  Rijal meringis tanpa dosa. "Nanti Rijal bilangin buat nggak usah jenguk Mbak, deh!" imbuhnya lagi.

"Besok bawain laptop Mbak ke sini ya. Sama beberapa buku yang masih tersegel di meja kamar." Ia mengalihkan pikiran dan pembicaraan.

"Oke siap. Quran, nggak?"

"Kalo itu sih selalu ada di tas." Arini menunjuk tas yang ia bawa saat menghadiri pernikahan Sally.

"Oke. Nih!" Rijal memberikan apel yang sudah dikupas kepada Arini. "Aku mau keluar bentar."

Sebentarnya Rijal itu bisa dua kali dua puluh empat jam. Ia berencana pulang untuk mengambil laptop dan beberapa buku. Ia tidak akan menunggu besok kalau Arini yang minta. Malam ini juga akan ada orang yang menggantikannya menjaga Arini di rumah sakit. 

Arini mengangguk melempar pandangan ke langit kamar inap. Ia akan mengurangi kebosanan dengan menulis dan baca buku. Pikirnya.



Bersambung....


#Novel

#desmoistar

Resensi Buku Bukan Kisah Cinta Zainudin Karya Riman Lasatiri

Mei 31, 2022 Add Comment

Bukan Kisah Cinta Zainuddin Penulis : Riman Lasatiri Ukuran : 14 x 21 cm ISBN : 978-623-5616-70-4 Terbit : November 2021 Harga : Rp 83000 www.guepedia.com

Setiap manusia pasti memiliki kisah cinta dalam hidup, entah akhirnya mengikhlas atau merayakan bersama kekasih pujaan. Kita tidak pernah tau cinta tumbuh kepada siapa, di mana, dan bagaimana itu bisa terpatri begitu saja. Virus merah jambu memang kerap hadir pada setiap insan. Mengambil, meletakkannya, mengabaikan atau justru terjerumus atas nama cinta adalah pilihan.

Seorang penghapal Quran sekaligus kader dakwah, punya impian besar untuk tempat kelahirannya, bernama Salman Al-Farisi jatuh cinta pada keelokan seorang gadis yang bertemu untuk pertama kali di sebuah kapal dari Pelabuhan Sultan Murhum, Bau-Bau. 

Pertemuan pertama itu membuat Salman terus teringat pada pesona indah, layaknya setetes air di gurun pasir. Hadirnya meneduhkan nurani yang gersang milik Salman Al-Farisi. Karena sudah merasa gelisah menahan diri, ia mencoba mencari sebuah nama di jejaring dunia maya. Meski tidak begitu yakin, tapi semesta seolah menghendaki. Salman bisa mengungkapkan isi hatinya melalui pesan pribadi di salah satu akun sosial media.

Siapa sangka, gadis itu ternyata juga menaruh hati. Tentu saja ia menerima apa yang dikatakan Salman dengan syarat, mereka tidak berkomunikasi sampai hari yang dijanjikan tiba. Keduanya membuat sebuah komitmen untuk saling menunggu. Berjuang di tempat berbeda, menuntut ilmu seperti niat awal dua insan pergi ke tanah rantauan. Namun tidak semua ekspektasi berjalan sesuai realita, gadis itu tiba-tiba dijodohkan dan akan segera menikah.

Meski sang gadis tidak menginginkan pernikahan itu, tapi ia tidak bisa menolak keinginan orang tuanya. Akhirnya ia menikah, sedangkan Salman menanggung kekecewaan, menjadi pemurung untuk beberapa hari. Hanya beberapa hari saja, sebab mengingat lelaki seringkali menggunakan logikanya, ditambah dukungan teman-teman untuk segera bangkit, ia juga teringat niat awal pergi jauh hanya untuk menuntut ilmu dan kembali ke tanah kelahiran menjadi Dai yang bisa berkontribusi maksimal untuk umat.

Perjalanan baru dimulai, tapi Salman kembali dituntun menuju gadis yang dicintainya itu. Namun gadis itu tidak mengenalinya sebagai seorang Salman Al-Farisi. Apa yang sebenar terjadi pada gadis itu setelah pernikahannya karena perjodohan? Bagaimana keadaan ia sekarang? Sebagai siapa Salman hadir untuk gadis yang dicintai? Dan siapa sih nama gadis itu? Kok dari tadi nggak disebut. Hehe.

Oke, penasaran sama kisah Salman? Saya kenalin ke penulisnya langsung ya, biar bisa tanya-tanya dan meminang bukunya. Setelah baca buku ini jadi lebih melek, gitu. Bahwa nggak perlulah mengikat seseorang yang kita cinta dengan sebuah komitmen, sebab sakitnya jika gagal bisa bikin sakit jiwa. Kalau jodoh tak akan ke mana, kok. Di losin aja. Hh. 

Konsekuensi dalam mencintai ada dua, menghalalkan atau mengikhlaskan. 

 



#review_buku

#resensi

#fiksi

Novel Bab 4 Mengenang

Mei 27, 2022 Add Comment

 

Arini masih duduk di kursi cukup lama, sampai lamunannya pudar saat mendengar azan berkumandang. Dalam benaknya ingin sekali memeriksa siapa saja teman Soleha yang mengalami kecelakaan pesawat, untuk menemukan kebenaran.

Arini mengirim pesan, agar Rijal segera menjemput. Kepalanya sedikit pusing setelah air matanya jatuh mendengar cerita tentang laki-laki kedua yang ia suka.

[Dek, jemput Mbak sekarang.] Emot menunggu.

Arini menginstruksikan kepada anak-anak agar berkemas sebab Rumah Baca akan ditutup. 

"O, ya lupa. Insyaallah besok siang Mbak akan tanya isi buku yang kalian baca hari ini, ya. Maaf, tadi Mbak ngobrol sama Kak Zaky lama."

"Siap Kak."

"Aku bawa pulang ya Kak, bukunya?"

"Oke, kalian catat di sana, seperti biasa ya."

Anak-anak bergegas bergantian mencatat nomor urut, hari/tanggal, nama peminjam, dan judul buku. Lalu mereka pulang bersamaan. Arini masih menunggu Rijal menjemput. Rijal datang cukup lama, ia mengunci gerbang lalu duduk di warung klontong milik warga di samping Rumah Baca. Lima menit ia menunggu, Rijal datang.

"Bude, Arini pamit ya. Makasih camilannya." 

"Nggeh Nduk ayu. Nggak mampir dulu cah ganteng?" Perempuan paruh baya itu menawarkan Rijal untuk mampir sejenak.

"Makasih Bude, ini kayaknya mau hujan. Mendungnya pekat."

"Ya udah, nggak usah ngebut, kalo kehujanan ya berteduh dulu."

"Siap Bude, Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam."

Rijal dan Arini menyusuri jalanan aspal dengan langit yang kian pekat. Siklus air pun terjadi. Setelah mengalami evaporasi dan transpirasi, awan menjadi berat dan terjadi kondensasi. Saat itulah rintik air mulai jatuh ke bumi. Membasahi apapun, termasuk dua beradik yang tengah berada di atas kendaraan di bawah naungan langit gelap.

"Ya Allah berikan kami mobil, biar kalau hujan nggak kehujaan," teriak Rijal dari balik helmnya.

"Aamiin," sahut Arini. Suara Rijal terdengar jelas, sebab ia berteriak. Bahkan pengemudi lain menoleh heran.

Sesampai di kontrakan Arini meminta Rijal untuk segera mandi.

"Mbak, adekmu yang ganteng ini makin besar. Tentu saja imunnya makin kuat. Udah sering kehujanan, jadi kebal."

"Mbak nggak mandi nih, kalo kamu nggak mandi duluan." Arini berucap ketus agar adeknya tidak bandel.

"E- iya, deh."

"Gak pake lama!"

"Iya, tuan putri ... nya Azam."

"Apa?" Arini meninggikan suaranya.

"Iya." Rijal berlari mengambil handuk.

Keduannya bergantian dan kini mereka duduk di balkon atas seraya memandangi padi, pepohonan dan atap rumah tetangga yang telah  basah. Kini hanya rintiknya setelah deras membuat mereka kuyup.

"Mbak, beli bakso Sidodadi, yuk!"

"Kejauhan. Yang keliling bawa gerobak itu aja."

"Iya itu maksudnya."

"Emang itu bakso dari Sidodadi?"

"Tulisan di gerobaknya gitu."

"Oh, nah, itu lewat!" Arini girang. Rijal segera berlari turun ke bawah. Suara dentingan sendok dan mangkok cap ayam membuat warga tau akan kehadirannya. Saat cuaca seperti ini memang pas sekali makan yang hangat dan pedas. Beberapa orang sudah mendekati gerobak bakso. Rijal menjadi lama sebab harus mengantri. Arini melihat dari atas balkon.

"Hmm ... udah nggak sabar," ucap Arini melihat Rijal menenteng plastik dan dua mangkok lengkap dengan sendok dan garpu.

"Dih!" Rijal menddngus.

"Kamu beli tiga?"

"Iya. Kali aja Mbak kurang."

"Aku? Kamu kali."

"Haha." Rijal tertawa.

"Dek, kamu jadi doyan banget sama bakso ya, sekarang."

"Iya dong. Sejak hari itu."

"Hari bertemu si dia." Goda Arini.

"Iiih Mbak ini." 

"Heleh dasar!" Arini menjitak jidat Rijal menggunakan jari manis.

"Apa kabar dia?"

"Siapa?" tanya Rijal balik.

"Mbak nggak tau namanya. Temen sekelas kamu dulu."

"Kok, Mbak tau?"

"Kan fotonya ada di kamar adek."

"Bukan cuma dia kali Mbak."

"Iya sih. Tapi kan ada dianya."

"Mbak, kenapa nggak diterima aja sih Mas Azam."

"Nggak usah mengalihkan pembicaraan!"

"Serius aku Mbak. Seenggaknya Mbak nerima Mas Azam karena kasihan."

"Itu tingkat paling tinggi untuk hubungan percintaan manusia."

"Baiknya kan gitu. Bukan karena Mas Azam ganteng kayak Oppa korea."

"Dan kamu, kayak oppa kebon."

Dua beradik itu terbahak, dan Arini menjadi tersedak. 

"Nah itu pasti Mbak lagi disebut sama Mas Azam dalam doanya." Rijal menyingkir untuk mengambilkan air minum.

"Halah ... sok tau. Dahlah. Bahas yang lain aja."

"Bahas apaan?" pekiknya.

"Cerita gimana kerjaanmu di kantor, orang-orangnya gimana?" tanya Arini setelah hening sejenak menunggu Rijal kembali.

"Kerjaan ya begitulah. Orang-orangnya ya, biasa aja."

"Iih, nyebelin banget sih jawabnya." Arini menuangkan lagi sambal ke dalam mangkok bakso Rijal.

"Kalo ditambahin sambal gini berarti yang itu buat aku dong." Rijal menujuk sebungkus bakso yang masih belum tersentuh. Suasana hening sejenak setelah Arini memanyunkan bibirnya.

"Dek."

"Hm."

"Kerja apa ya biar cepet dapet duit."

"Nuyul."

"Hus!"

"Lagian, emang buat apaan sih kalo punya uang banyak."

"Mau beli lagi rumah kita."

Deg. Rijal menghentikan tangannya yang hendak menyuap bakso porsi kedua ke dalam mulut. Hatinya nyeri seketika. Arini terkekeh pilu.

"Nggak ada yang nggak mungkin, kan?"

"Insyaallah," jawab Rijal mantap.

Rijal menatap Arini yang sedang memandang bentangan luas sawah yang menguning. Rindu menelisik akan kehidupan penuh kebahagiaan bersama kedua orang tuanya dulu. Genangan air di mata mulai merembas ke pipi. Rijal mendekat lalu mengelapnya. Arini terkesiap, tubuh dempal itu kemudian ia rengkuh dengan erat, isaknya kian keras. 

"O, iya." Arini melepas pelukan, "Kemarin waktu mau bakar sampah, aku liat ada kertas tour yang diadakan  kantormu. Kenapa nggak ikut?"

"Oh, itu. Ehm ... kalau Mbak sudah menikah maka aku akan pergi ke manapun yang aku mau."

"Jadi maksudnya aku adalah penghalang kebahagiaanmu?"

"Iya. Makanya, menikahlah dengan Mas Azam." Rijal mendekatkan bibirnya ke telinga Arini.

Arini mau menjitak kepalanya lagi, namun tidak kena, sebab Rijal lebih gesit berlari masuk ke dalam.

"Ini kok nggak di bawa?" Arini meneriaki Rijal yang tidak membereskan bekas makan.

"Ntar!" pekik Rijal.

Tidak lama kemudian ia kembali.

"Kenapa, sakit perut?"

"Mbak sih, ngasih sambel nggak kira-kira."

"Masa langsung ngefek sih, dek," sanggah Arini.

Tiba-tiba ponsel Rijal berdering. Panggilan masuk dari Sally.

"Tumben Mbak Sally video call."

"Angkat cepet!" perintah Arini.

Rijal menggeser tombol hijau ke samping.

"Rijal, ke mana Arini?" Rijal terkejut, suara Sally melengking, membuat gendang telinga berdengung.

"Ucap salam dulu Mbak." Protes Rijal.

"Oh, iya. Assalamu'alaikum ganteng."

"Waalaikumusalam, cantik." balas Rijal menggoda.

"Aaa ... so sweet." Sally bertepuk kegirangan dari seberang sana.

"Iiih, jijik deh!" seru Arini yang belum terlihat di layar video.

Rijal terbahak.

"Eh, itu ada Arini," pekik Sally dari seberang telepon.

"Iya, kenapa?"

"Kok gitu jawabnya. Nggak suka aku telpon ya?" Suara Sally melembut.

Arini dan Rijal tertawa.

"Kita lagi makan bakso di balkon. Liat tuh!" Arini memperlihatkan dua mangkuk dan air minum.

"Pantes nggak angkat telpon."

"Biasalah Mbak, kalo Mbak Rin nggak pas pegang hape juga nggak bakal diangkat," tambah Rijal.

"Iya. Heran gue, punya hape gak pernah bunyi. Mana jomlo pula." Ejek Sally.

"Hm, mentang ya bentar lagi mau nikah." Arini membela diri.

Rijal mengacungkan jempol seraya manggut-manggut membenarkan stateman Sally. Arini memukul bahu kirinya. Arini beranjak membawa ponsel Rijal ke kamar. Membiarkan Rijal membereskan bekas makan sendirian.

"Gimana?" 

"Ya gitu deh. Makanya buruan, terima Azam. Biar tau rasanya mau nikah tu kayak gimana."

"Hm."

"Pokoknya minggu depan dateng sama Rijal. Aku udah bilang lima kali ini loh. Awas aja nggak dateng."

"Ngundang kok ngancem gitu, sih."

"Hahaha." Sally tertawa.

"Insyaallah," sambung Arini.

"Sama patner, ya."

"Siap. Rijal selalu siap diajak ke manapun."

"Kok Rijal, sih. Dia dong."

"Dahlah Sal, lagi gak mood bahas siapapun." Arini menyela.

Kedua perempuan itu hampir dua jam memakai ponsel Rijal. Arini banyak mendengarkan, Sallylah yang aktif bicara. Dia tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.



Bersambung....


#novel

#demoistar

Novel Bab 3 Terjebak di Labirin Masa Lalu

Mei 26, 2022 Add Comment

Dua bulan berlalu sejak Azam datang ke Rumah Baca, tidak ada kontak dari dunia maya oleh dua manusia yang sedang dalam masa pemulihan hati. Sally dan Rijal menjadi perantara keduanya jika memang perlu untuk dibicarakan seputar kepentingan Rumah Baca. Masuk bulan ketiga, Rijal sahabat satu-satunya Azam mengontak Arini melalui pesan WhatsApp. Ia ingin menemui Arini, tapi tidak di Rumah Baca. Meski sebenarnya Rumah Baca juga tidak asing baginya.

["Assalamu'alaikum Mbak, ada banyak yang mau Zaky bicarakan. Kapan bisa punya waktu?] 

Keduanya sudah saling menyimpan kontak. Tentu memperkenalkan identitas tidak lagi diperlukan. Zaky juga sudah hapal bahwa Arini tidak suka dengan orang yang bertele-tele. 

["Waalaikumussalam, jum'at sore insyaallah."]

["Baik, di mana Mbak?"] 

["Di Rumah Baca, jam tiga siang."] 

["Siap. Makasih."] Emot senyum.

"Cieee ... chatan sama siapa tuh?" Tiba-tiba Sally mendekatkan wajahnya ke ponsel Arini.

"Zaky."

"Pindah ke lain hati?" selidiknya.

"Emang sebelumnya di hati siapa?" Arini tanya balik.

"Azam Cana." Sally mengambil posisi di sebelah kanan Arini.

 "Hm. Udah makan siang belum?"

"Nggak usah mengalihkan pembicaraan." jawab Sally ketus.

"Terus?"

"Kalian kenapa kok gitu?"

"Gitu gimana?"

"Diem-dieman. Udah dua bulan ini Azam nggak ke sini."

"Emang nggak ada yang mau diomongin, kok."

"Rin, kamu nggak kasian apa sama Azam?"

"Apa yang perlu dikasihani?"

"Kebiasaan deh, orang nanya, balik nanya," ketus Sally.

"Pertanyaan kamu tu, bikin orang jadi nanya balik."

"Aku males tau jadi perantara kalian ngobrol."

"Maaf, nggak lagi deh. Lagian ngobrol hal penting terkait Rumah Baca doang, kan?"

"Kamu, kan bisa chat sendiri."

"Nggak punya nomornya."

"Sini!" Sally merebut ponsel Arini.

Ia mengecek kontak Azam, dan memang tidak ada.

"Kamu hapus, ya?"

"Aku habis reset hape."

"Lah itu nomor Zaky ada. Nomor aku juga."

"Ya nggak tau, mungkin nomormu sama Zaky kesimpennya di card."

"Hm. Nih, aku balikin." Sally menyodorkan ponsel Arini.

Arini membuka bekal nasi, dan menyuap tanpa menawar orang yang berada di sebelahnya.

"Makan sendiri aja, nggak usah nawarin."

"Tadi aku ajak kamu, malah ngomongin orang."

"Sini, itu porsi untuk dua orang kan?"

Sally merebut bekal yang dipegang Arini. Ia melirik Sally.

"Rin, Azam sering makan bekal yang kamu bawain buat aku loh. Dia beli nasi bungkus, tapi dikasihkan ke aku. Terus, tukeran deh."

"Oh."

"O, iya. Aku lupa terus mau tanya ini?"

"Apaan?"

"Kata Dela, 'Mbak, waktu itu ada ibu cantik, agak mirip sama Kak Azam. Terus dia tu ... kayak gitulah. Nyebelin' emang siapa sih Rin? Ibunya Azam?"

"Iya."

"Terus gimana? Azam bawa Ibunya nemuin kamu?" selidik Sally.

Arini bergeming, menyuap cah kangkung.

"Tuh, kan. Si Azam tu serius sama kamu." 

"Kamu suka sama dia?" tanya Arini.

"Suka banget."

"Ya udah kamu aja yang nikah sama dia. Siapa tau Mamanya setuju."

"Eh, bukan itu maksudnya. Bentar ..., jadi Mamanya nggak setuju Azam sama kamu? Kenapa?"

"Aku rasa begitu."

"Kenapa?" ulang Sally.

"Aku rasa kamu tau jawabannya," jawab Arini.

Sally terdiam, ia menatap wajah Arini lalu pindah ke kaki. Seketika ia memeluk Arini. Hampir saja tumpah bekal yang sedang dipegangnya.

"Gue nggak suka kamu punya perasaan gitu," ucap Sally lembut.

Arini menarik napas berat. 

"Arini yang aku kenal itu hebat, nggak insecure."

Arini mengulas senyum, memencet hidung Sally yang mancung dan sedikit besar.

"Rin, kamu udah lapor polisi kan, kejadian waktu itu. Udah hampir dua tahun, ya?"

"Udah."

"Terus gimana?"

"Ya nggak gimana-gimana."

"Udah tau siapa pelakunya?"

Arini menggeleng. Ia sedang menyembunyikan tentang jejak pelaku. Ia belum memberi tau siapapun bahwa ada noda darah dan rekaman dari kodak yang dibelikan Pamannya saat berusia tujuh belas tahun, malam itu ia sengaja merekam sebab ingin tau apa yang sedang ia lakukan saat tengah malam. Karena Rijal pernah bilang, 'Mbak Arini sering tidur sambil jalan'.

Meski Arini terlihat tidak peduli dan tidak ambil pusing. Diam-diam ia mencari tau, penasaran dengan satu nama. 

"Aku pulang duluan ya, Rin!"

"Oke, hati-hati lintah."

"Hah! Lintah?"

"Udah kenyang, pergi." Arini tertawa melihat ekspresi Sally.

"Ih ... jahat!" Sally mendorong bahu Arini.

Lalu keduanya tertawa bersama. Mereka berpelukan sebelum akhirnya berpisah.

"Besok kamu janjian sama Zaky, kan?"

Arini mengangguk. Sally memanyunkan bibirnya.

"Kenapa?"

"Aku nggak bisa ke sini. Besok udah janjian sama beliau."

"Oh, gitu. Lagian aku nggak mengharapkan kamu ada, kok."

"Ish, sebel." Sally melengos memutar tubuh dan berjalan melenggang menuju motor maticnya.


***

Hari jumat pun tiba, ternyata Zaky datang lebih dulu. Ia menunggu seseorang di dalam kantor.

"Kakak!" teriak seorang anak perempuan seraya berlari.

'Itu pasti Arini' batin Zaky. Ia lalu memunculkan separuh kepalanya dari balik daun pintu.

Anak-anak sangat semangat jika bertemu Arini. Padahal sebenarnya, Arini kurang menyukai anak kecil. Tapi mereka semua nyaman dan senang bermain dengannya.

"Hai, assalamu'alaikum."

Mereka menjawab secara bersamaan salam Arini.

"Kalian baca buku dulu ya, ntar kakak tanya tentang isinya."

"Siap. Emang kakak mau ke mana?"

"Nemuin Kak Zaky."

"Oh, mau pacaran, ya?" Ledek salah satu anak.

"Pacaran itu nggak boleh dalam islam."

"Kenapa gitu? Kakak aku pacaran, pacarnya sering diajak ke rumah."

"Nanti kita bahas, ya. Kakak ke sana dulu, oke?"

"Oke, deh."

Arini berjalan memasuki kantor. Ruang terpisah dinding dengan perpustakaan, berukuran 4x3 meter.

"Zaky, di luar aja!" pinta Arini.

Ia merasa tidak nyaman jika harus satu ruang dengan laki-laki berdua saja.

"Oke."

Mereka duduk di kursi besi panjang yang ada di depan kantor. Arini mengambil dua air mineral  kemasan dari lemari pendingin.

"Udah dari tadi?" tanya Arini membuka percakapan.

"Tiga puluh menit, kira-kira."

"Saya terlambat lima menit dong, ya. Maaf."

"Nggak papa Mbak, cuma lima menit aja, kok."

Kerongkongan Arini terasa kering, ia menghabiskan air mineral dengan sekejap.

"Haus banget kayaknya." Zaky mencoba mencairkan suasana.

Arini tertawa kecil.

"Mau ngobrolin apa?"

Zaky diam sejenak.

"Soal Azam," sahutnya.

Raut wajah Arini seketika berubah.

Arini menatap dedaunan yang bergoyang ditiup angin.

"Ya, katakan." Ia mengambil satu lagi air mineral dari dalam lemari pendingin.

"Saya nggak tau harus mulai dari mana, belum ngomong rasanya udah nyesek duluan." Zaky menghela napas berat. Ia melipat lengan kemejanya.

"Allah tau batas kemampuan seseorang, makanya beban yang dipikul setiap orang itu beda. Dan sepertinya, kamu sedang mencoba  menanggung beban orang lain," tutur Arini, mengulas senyum lebar.

"Hari itu, dia ditemukan tergeletak di depan pintu gerbang pesantren. Bau alkohol yang menyengat. Sepertinya bukan hanya diminum, tapi juga untuk mandi. Pak Kyai meminta Kak Malik untuk mengantarnya pulang setelah sadar, tapi dia nggak mau. Mungkin karena nggak ada tempat buat dia pulang.

Setelah tinggal bersama dan saling bertukar cerita, dia menyimpan trauma masa lalu. Ya ... broken home menyebabkan seorang anak menjadi broken heart. Selama di pesantren, saya juga nggak pernah melihatnya mendekati perempuan. Saat di dalam ataupun di luar. Dia sangat membenci Mamanya, meski ... tentu saja ingin diperlakukan sebagai seorang anak, penuh kasih."

Arini dan Zaky bersamaan menghela napas lalu melengkungkan ujung bibirnya. 

"Mbak nggak mau tanya sesuatu?" tanya Zaky.

"Enggak. Hari ini, hanya ingin mendengarkan saja."

"Aku lanjut lagi, nih?"

Arini mengangguk.

"Saat dia berdecak kesal tiap kami membicarakan perempuan, tapi entah kenapa saya mulai merasa ada yang janggal, merasa bahwa dia telah terlalu sering pegang hape, dan jarang murojaah.

Diam-diam saya mengecek hapenya. Ternyata, dia sering berkirim pesan dengan seorang perempuan, nama kontaknya ... 'Ariniku'." Zaky melirik Arini yang masih menatap lurus ke depan.

"Lanjutkan." pinta Arini, hatinya berdesir hebat. Perih sekali rasanya.

"Mbak nggak curiga kalau ... bisa saja saya berbohong."

"Saya hanya percaya satu hal. Jika seorang hamba mencintai Tuhannya dengan betul, maka dia tidak akan melakukan perbuatan yang tidak disukai Tuhannya."

"Allah. Pantas saja kalau Azam menggila." Zaky bergumam.

"Maaf?" Arini ingin Zaky mengulanginya, sebab tidak terdengar dengan jelas.

"Ah, enggak. Saya lanjutkan. Saat itu juga saya memeriksa kontak. Azam kan idola di pesantren, bisa jadi kan ukhti-ukhti banyak mengirim pesan. Meski santri, tapi nggak menampik, mereka juga manusia.

Dan naasnya di kontak itu hanya ada nama Ariniku, Zaky, Kak Malik dan Abah. Aku nggak percaya. Bahkan dia nggak nyimpen nomor Mamanya sendiri."

"Mungkin sudah hapal." ucap Arini.

"Mungkin, dia juga bukan seorang yang tebar pesona. Meski itu sebenarnya pantas saja dilakukan olehnya. Tampan, berprestasi dan kebanggaan pesantren. Dia nggak pakai sosmed apapun.

Bahkan zaman secanggih ini dia berkirim pesan dengan Mbak hanya dengan pesan biasa. Dan ada hal yang membuatnya lebih sekarat dari pada menjauhi Mbak ... dia diminta menikahi putri Pak Kyai."

"Iya."

"Mbak tau soal ini?"

"Dia tidak mengatakan tentang dirinya, dia hanya berulang kali meminta diri saya."

Zaky menggaruk kepala yang tidak gatal. 

'Kenapa bilang iya, aduh misterius emang. Nggak bisa ditebak. Bener kata Azam.' Zaky bergumam dalam hati.

"Emang dasar!" Zaky tertawa kecil. Menanggapi kalimat Arini.

"Lanjutkan."

"Ternyata putri Kyai itu yang tergila-gila padanya. Kata Azam sih, Ning Soleha itu orangnya ambisius. Sedang Azam  juga nggak bisa nolak permintaan Kyai. Kalau saja perempuan itu yang bilang, dia bisa nolak. Tapi kalau sudah Kyai ... udah, iya aja."

Pernikahan mereka hanya tiga bulan lebih. Sampai akhirnya maut memisahkan. Putri Kyai meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dan herannya, saat mereka masih bersama, Azam justru membicarakan perempuan lain. Dia bilang begini. 'Aku nggak bisa sentuh Soleha selama dia masih ada di sini'." Zaky menyentuh dadanya sebelah kiri memperagakan Azam kala itu.

'Sungguh sangat berdosanya ia.' batin Arini.

"Azam saat ini seperti orang hidup segan mati juga nggak mau. Maaf, Azam cerita semua, hari terakhir bicara sama Mbak. Soal sikap Mamanya juga. Dia dalam kondisi yang memprihatinkan sekarang.

Saya juga minta maaf karena sering menemaninya menguntit Mbak Arini dulu. Jujur saya nggak menyesal, sebab melihat Azam yang sangat bersemangat menjalani hari setelah melihat Mbak dari kejauhan. Meski sekedar melihat saja.

Saya nggak pernah lihat laki-laki sepertinya, dengan fisik dan kepribadiannya, tentu dengan mudah menggaet perempuan. Namun apa yang dia lakukan setiap kali bertemu perempuan ... sikapnya dingin. Bahkan dia justru  bilang 'muak'."

"Diminum airnya!" Arini  membuatnya berhenti sejenak.

Zaky mengangguk. "Makasih minumnya Mbak."

Arini mengangguk mengulas senyum tipis.

"Boleh lanjut lagi Mbak?"

 "Ya."

"Sepertinya, Mbak satu-satunya perempuan yang membuat dia merasa bahagia dalam hidup. Tapi, sejak Mbak bilang 'nggak meninginkan dia dalam hidup' dia sangat hancur. Dia tidak mendengarkan nasihat siapapun.

Maaf, kalau Mbak berpikir saya sedang mempengaruhi. Jujur memang iya. Karena  besar harapan saya, Mbak bersedia menjadi teman hidup Azam. Membasuh lukanya, mencintainya sebagai seorang perempuan. Memberikan sesuatu yang belum pernah dia rasakan."

"Saya merasa tidak pantas, takut hanya jadi beban saja."

"Berarti Mbak sebenarnya juga mau, kan?" Zaky berubah bersemangat seketika.

Arini diam.

"Oke. Mungkin itu saja yang saya ceritakan hari ini, saya akan menyambungnya lain kali." Zaky menarik kesimpulan.

"Sebentar," cegah Arini.

"Iya?"

"Kecelakaan pesawat dua puluh empat Maret itu, kan?"

"Iya, jenazah sulit diidentifikasi karena hancur berkeping. Tapi tercatat bahwa Ning Soleha naik pesawat itu bersama keenam temannya."

Arini mengembus napas pelan.

"Nggak kerasa udah mau Asar. Saya segera balik pesantren kalau gitu Mbak. Makasih sudah meluangkan waktu. Saya permisi. Assalamu'alaikum."

"Ya. Walalaikumussalam."

Arini masih duduk di kursi cukup lama, sampai lamunannya pudar saat mendengar azan berkumandang. Dalam benaknya ingin sekali memeriksa siapa saja teman Soleha yang mengalami kecelakaan pesawat, untuk menemukan kebenaran.



Bersambung....


#novel

#demoistar