Novel Santri Hasil Makian bab 1

Oktober 27, 2021 Add Comment

Cover by me pakai PPT

Suara gaduh dan teriakan kembali terdengar dari balik pintu kamar. Tak ada siapapun di ruang tengah, Sepertinya itu suara dari dalam kamar mama--papa, yang pintunya saling berhadapan. Tak lama kemudian mama keluar membanting pintu dengan keras. Jantung seketika mencelos, Aku mengintip dari pintu yang sudah mulai lapuk dimakan usia.


"Aku gak tahan sama kemiskinan ini Bang, kalau kau gak juga punya pekerjaan, aku akan pergi!" 
Kata mama yang sudah membawa tas kecil di tangannya. Sampai detik ini aku tak mengerti, mama selalu pergi setelah bertengkar dengan papa.

"Pergi saja kalau kau tak perduli dengan anakmu!" Teriak papa dari dalam kamar.

Aku melihat mama melangkah masuk, mendekati papa yang sedang bicara.

"Selain kau, dia juga beban, sama sekali tidak menguntungkan! Harusnya aku mencekik dia dari dulu!"

Bulu halus di sekujur tubuhku meremang, hati seperti disayat sembilu. Air di pelupuk mata menganak sungai. 

"Kau memang sudah gila Rin!" Teriak papa.

"Ya, aku memang sudah lama gila, kalau masih tinggal di rumah ini, bisa-bisa mati."

Terlihat mama mendekati pintu kamarku, belum sempat pindah tempat, mama sudah mendorong dengan kasar. Aku terpelanting dihempas pintu.

Mama masuk begitu saja, tak menghiraukan sakit tubuhku karenanya.

"Mama cari apa?" Aku menghampiri ia dan bertanya.

"Minggir!" Tangan mama dengan sigap mendorong tubuhku hingga jatuh lagi. 

Entah apa yang ia cari dari dalam lemari pakaianku. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan celengan berbentuk ayam. 

Prak! Celengan terbuat dari tanah liat itu kini berhamburan di lantai, uang kertas berwarna biru dan merah berserakan.

"Banyak juga duitmu ternyata, berguna." Katanya seraya menatap tajam dan tersenyum. Senyum yang entah artinya apa.

"Kamu sudah gila Rin. Itu tabungannya Azam!" Papa masuk setelah mendengar suara celengan yang dihempaskan ke lantai.

"Bodo amat!" Mama menjawab dengan santai. Setelah uangnya terkumpul digenggaman, ia bergegas pergi.

"Rin, Rindu, kembalikan uangnya!" Papa berusaha menarik tangan mama, mama menepis dan kaki papa tersandung kursi. Ia mengunci kami di dalam kamar. 

Aku dan papa terdiam saling menatap.

"Kaki papa sakit?" 

Papa mengelus kakinya. Aku beranjak dan mengambil minyak gosok di dalam laci meja. Kugosok kaki papa lalu mengurutnya perlahan. 

"Makasih ya nak." Papa meraih kepalaku dan diletakkan di dadanya yang bidang. Terdengar jelas degup jantungnya yang tak beraturan. 

Dua belas jam dua puluh lima menit, aku dan papa terkunci di dalam kamar. Mama belum juga pulang. Tak ada jalan keluar, jendela terpasang terali yang kuat. Kami menahan lapar berharap mama segera datang membuka pintu.

Ctek! ctek!

Suara kunci pintu terbuka. Kulihat mama dengan dandanan yang rapi dan jemarinya menggenggam erat gagang koper berukuran besar. Pakaiannya sudah ganti. Mungkin ia pulang sedari tadi, berhias dan menata pakaian ke dalam koper yang tubuhku pun muat di dalamnya.

"Urus anak itu!" Telunjuknya menunjuk ke wajahku. 

"Aku sudah gak sanggup lagi hidup miskin, apalagi dengan kamu, pemalas dan suka mukul." 
Ia pergi begitu saja tanpa menyentuhku. Darah mengucur di dalam dada. Aku mematung menatapnya yang seperti monster. Kulirik ke arah luar, sebuah mobil mewah terparkir di halaman. 

"Pergi aja, bodo amat, perempuan susah diatur." Papa membalas makian mama.

Aku menyusul mama keluar, ia masuk ke dalam mobil, sepertinya lebih mahal dari mobil papa. Satu tahun berlalu sejak usaha papa gulung tikar, mereka menjadi sering bertengkar. Ditambah papa sudah menjual rumah mewahnya dan membeli rumah berukuran lebih kecil dengan sedikit barang. Kini usiaku sudah sepuluh tahun, dan harus tumbuh tanpa kasih sayang mama lagi.

________________


Azan magrib berlalu tiga puluh menit, aku merasa sangat lapar. Membuka tutup saji hanya ada piring berisi sepotong tahu goreng. Aku melirik ke arah kamar, papa sedang duduk bersandar dipan. Tatapannya kosong. Pasti perutnya juga kosong.

Aku membawa tahu goreng dan mendekatinya.

"Pa, mau?" Aku menyodorkan tahu goreng berwarna kekuningan itu.

Ia mendongak, menatapku nanar.

"Papa sampai lupa, kita belum makan sejak tadi." Lirihnya.

Pipiku mengembang, biar papa tidak terlalu merasa bersalah. 

"Ada makanan apa di kulkas pa? Ayo kita masak!" Ajakku seraya mengunyah tahu goreng itu. Tangan kanan menyuapkan tahu bekas gigitan ke mulut papa. Awalnya ia menolak, tapi akhirnya mau. Aku tau papa lapar, jangan gengsi. Batinku.

"Yuk kita lihat!" Papa berdiri dan menggandeng tanganku yang mulai dingin.

"Kamu kalau lapar, tangannya dingin, ya," katanya seraya mencubit pipi dengan gemas.

Ayah mengambil dua butir telur lalu menggorengnya. Ekpresinya sangat menegangkan kala menggoreng.

"Sini piringnya!" Pinta papa.

Aku mendekatkan piring, kemudian meletakkannya di atas meja. Kuperhatikan bentuk telur itu.

"Itu telur ceplok ala chef Handoko." Kelakarnya sambil tertawa. Aku tau, ia sedang menertawakan dirinya sendiri.

Aku pun ikut tertawa, menertawakan bentuk telur ceplok yang tak beraturan. 

"Kira-kira dapat nilai berapa nih, telur ceplok papa?"

"Tiga puluh." Aku melirik papa setelah menjawabnya.

Wajahnya masam, sesaat kemudian ia tertawa. Dan hatiku rasanya begitu getir.

Kami begitu lahap menghabiskan telur ceplok disiram kecap manis dan nasi yang mulai kering di dalam ricecooker.

"Biar aku saja pa yang cuci," aku menarik piringnya.

"Ya sudah, papa ke kamar ya?"

Aku mengangguk, pikiran berkelana, ada perasaan takut, kalau-kalau papa tertekan dan mengakhiri hidupnya. Atau jangan-jangan, telur ceplok tadi sudah dibubuhi racun.

Malam yang sunyi dan dingin dilalui dengan air mata. Gemericik hujan jatuh, jendela kaca kamar mengembun. Aku menuliskan sesuatu menggunakan telunjuk, tak terasa air mata mengalir membasahi pipi. Mata juga hidung ini memanas, aku berjalan mundur, merebahkan bobot tubuh ke atas ranjang berukuran satu orang dewasa.

Ingatan tentang hari ini perlahan memudar, aku sudah berada di alam bawah sadar, bertemu dengan perempuan yang hari ini pergi datang. Ia mendorong tubuhku hingga terjatuh. 

Aku tergagap dan membuka mata, posisi tubuh kini sudah tidak lagi di ranjang, seketika suara ayam berkokok terdengar nyaring. Itu pasti ayam jantan milik tante Darmi pemilik warung makan sebelah rumah.

Aku mengumpulkan tenaga untuk bangkit, rumah begitu lengang, aku menghampiri kamar papa, tak ada siapapun, bahkan cicak yang biasanya berbunyi di jam sekarang ini pun tak terdengar suaranya.

Ada secarik kertas di meja makan, tertulis "papa kerja". Ia tak meninggalkan apapun di meja makan selain secarik kertas dengan tulisan yang sangat singkat. Ini sama sekali tak membuatku kenyang.

Aku bergegas ke kamar mandi, selain membersihkan diri, aku juga meminum airnya sampai sendawa. Pakaian merah putih tak lagi rapi, ku kenakan seadanya. Minyak rambut habis, bau seragam seperti bangkai cicak di dalam lemari. Teringat parfum papa, ku ambil lalu kesemprot sebanyak mungkin.

Langkah kaki gontai menyusuri jalan menuju sekolah. Tak kuhirau siapapun yang menyapa.

"Eh, Azam, kamu kok lesu gitu? Apa belum sarapan?" Tanya seorang perempuan di warung tante Darmi.

"Ssst, mamanya pergi kemarin." Bisik tante Darmi, namun telingaku ini pendengarannya sangat baik.

"Hah? Kenapa?"

"Biasalah, kalau perempuan sosialita, mana tahan hidup miskin." 

"Emang dia kaya?"

"Dulunya kaya banget, perusahaannya gulung tikar, rumah mewahnya dijual, tuh, sekarang beli rumahnya ustad Hasan. Beda banget sama rumahnya yang dulu."

"Ya Allah, kasian ya. Anaknya ganteng gitu, cumq satu, sayang banget."

"Yaa, namanya juga hidup, kadang di atas, kadang di bawah."

"Tapi kan gak harus pergi, bisa dampingi suami sampai bangkit lagi, ya kan?"

"Harusnya sih, tapi ya ... karena terbiasa hidup enak, jadi berat menjalani hidup susah."

Aku masih berdiri di depan rumah Hengky, menunggunya selesai sarapan. Sebenarnya, ibu Hengky menawarkan sarapan, tapi malu untuk mengiyakan.

Tak lama kemudian, Hengky keluar dan kami berjalan bersama. Ocehan ibu-ibu di warung tadi masih terngiang di telinga.

"Zam, nilai kamu seratus loh!"

Kalimat Hengky barusan menggugah lamunan tak berfaedah. 

"Oh ya? Kok tau?"

"Yee, kan ibuku sekarang wali kelas kita."

"Oh iya ya, lupa. Kamu seratus juga dong?"

"Aku delapan puluh."

"Aku sudah bilang sama ibu, kalau mau belajar sama kamu. Biar nilaiku seratus juga. Biar kita samaan. Ya kan?"

"Kenapa gak belajar sama ibumu saja?"

"Ibuku sibuk, pulang ngajar musti ngurus adek."

"Kan kamu ada pembantu."

"Pembantunya cuma sampe ibu pulang aja, mbak Dini kan mau sekolah siang."

"Gitu."

"Boleh ya? Belajarnya di rumah kamu aja."

"Oke."

"Pulang sekolah ya!"

Aku mengangguk, tak mau mengecewakannya. Sebenarnya akhir-akhir ini jarang sekali buka buku, bahkan pekerjaan rumah pun kerap kali dikerjakan di sekolah. Tapi Tuhan sangat bermurah hati, menganugerahkan otak yang cerdas dan paras tampan. Ini membuatku sedikit percaya diri, meski kini mereka sering menggunjing.

"Zam, apa iya, mamamu pergi sama pacarnya?" Aku tersontak menoleh ke arah sumber suara. Ternyata dia anak dari tante Darmi yang menggunjing pagi tadi.

Kupasang wajah seram dan menatapnya tajam.

"Zam, kamu tuh ganteng tau meski marah gitu, mau gak jadi pacarku? Tapi nanti kalau sudah besar."

Ternyata anak dan ibu sama-sama banyak bicara. Batinku. Aku melengos berlalu meninggalkannya menuju kelas. Di berlari menyusul dan menyejajarkan langkahnya. 

"Mau ke kelas kan? Bareng aja," ucapnya santai. Padahal sepagi ini dia sudah membuatku kesal.

Aku tak mengindahkannya, sepontan tubuhnya kudorong dan terjatuh. Ia menangis, seketika orang berkerumun. 

"Kamu kenapa Sinta?" Tanya bu Mela, ibunya Hengky.

"Azam ngedorong aku bu!" Tangannya menunjuk ke arah kuberdiri.

Terlihat bu Mela menghela nafas berat. Kalian berdua ikut ke kantor. Ayo!"

Perempuan itu berjalan tertatih, aku bahkan malas untuk menoleh, apalagi membantunya berjalan.

"Silakan duduk!" Pinta guru bimbingan konseling.

"Siapa nama temanmu ini?" Tanya pak Rozak."

"Azam Abdullah."

"Kamu tau namanya?" Pak Rozak bertanya padaku.

Aku menggeleng.

"Astaghfirullah. Kalian tidak satu kelas?"

"Sekelas pak." Jawab gadis itu dengan cepat.

Aku hanya diam. 

"Baiklah, meski sudah satu bulan, tapi kamu belum tau semua nama teman sekelas.

Hmm ... kalau begitu, sebutkan namamu padanya!" Pinta pak Rozak padanya.

"Gak perlu, saya tidak suka basa basi pak, katakan saja dengan jelas. Untuk apa saya duduk di sini!"

"Iya, kamu kenalan dulu sama cewek cantik ini."

"Di dunia ini tidak ada cewek cantik dengan mulut lemes pak." Jawabku, namun terlihat pak Rozak menelan ludah. Matanya mengerjap dengan kerap lalu kembali normal.

.

.

.

Kira-kira, gimana ya respon Sinta dan pak Rozak kali ini?