Novel Santri Hasil Makian Bab 4

November 20, 2021


Nina emosi karena ditolak dan dihardik oleh Azam. Ia memeluk Azam dari belakang. Sedang Azam berusaha keras membuka knop pintu. Knop pintu itu lepas. Nina terpelanting ke belakang, tangannya meraih kunci yang diselipkan di bawah bantal, dengan segera membuka pintu dan berlari, seolah sesuatu yang buruk sedang menimpanya. Azam yang sedari tadi berdiri, terjatuh karena dipukul Nina menggunakan vas bunga. Kepala Azam berdarah, Nina keluar bermain drama.



__________


"Bunda ... Bunda ... A-azam." Tangan Nina memegang kemejanya yang terpakai namun tidak terkancing. Rambutnya acak-acakan. 

Di kamar, Azam berusaha berdiri, ia menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya. Kepalanya sedikit pusing. Ia tertatih keluar, menyusul suara teriakan Nina yang menjijikkan.

"Bunda ...."

"Azam! Kamu!" Tangan Bunda mendarat ke pipi kanannya. Ia terhoyong, meringis menahan sakit, bukan karena tamparan, tapi efek benda keras yang beradu dengan kepalanya.

"Bunda sudah pulang," ucap Azam.

"Bunda, aku sudah telpon polisi. Itu mereka," Nina menunjuk keluar. Polisi itu berwajah garang. Ia masuk rumah dan menyidang dua orang itu.

Azam diam, sedang Nina membeo menuduh Azam. Semua memang terlihat ia lah pelakunya, sesuai settingan Nina. 

Tiba-tiba suara meja dipukul, kaca itu berhamburan. Bunda geram melihat Azam merusak meja kaca. 

"Jadi bagaimana? Dipenjara dia belum cukup umur." Tutur polisi itu.

"Biar dia pergi dari sini, Bunda kecewa sama kamu Azam!" Bunda Ratu menatap tajam Azam. 

"Kau tidak mengatakan apapun, berarti memang betul apa yang dikatakan Nina." Ucap polisi itu lagi.

Azam hanya diam, tanganya berdarah tergores pecaha kaca. Ia sama sekali tak menatap wajah Nina. Dadanya panas, rasanya ingin meledakkan bom, namun ia tak ingin meladeni perempuan gila itu.

Azam berdiri, ia menuju kamarnya kemudian keluar membawa tas, semua barang yang penting dan beberapa helai pakaian sudah berada di dalamnya.

"Bunda, terima kasih untuk semuanya, dan tolong maafkan Azam karena telah bodoh. Azam pamit, Assalamu'alaikum." Azam meraih tangan Bunda Ratu lalu menciumnya. Ia melenggang pergi, polisi itu hanya termangu melihat tingkahnya.

"Tidak punya sopan santun!" Ucap polisi itu kesal karena diabaikan. 

Azam sudah jauh, ada perasaan sesal di hati Bunda Ratu. Ia merasa kasihan, memikirkan Azam akan tinggal di mana, dan bagaimana sekolahnya. Anak-anak panti bergeming, mereka disuruh masuk ke dalam kamar masing-masing sebelum polisi tiba tadi. Kali ini mereka kehilangan seseorang yang dikagumi karena perbuatan bejat yang dituduhkan padanya.

Azam linglung, ia merogoh arloji dan memandangnya dengan seksama. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, ia memutuskan menjual arloji tersebut. 

Ia berjalan menuju toko Arloji. 

"Permisi, saya mau jual arloji, Pak."

Azam menyodorkan arloji berwarna coklat muda kepada bapak pemilik toko arloji. Ia nampak tertegun lama.

"Maaf, Pak, bisa?"

"Kamu, dapat dari mana jam ini?"

"Hadiah orang tua saya."

"Jangan bohong!" 

"Ini, surat menyuratnya, pembelian atas nama Subhan Rasyid." Azam mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.

"Saya tidak sanggup membelinya."

"Kenapa?"

"Ini, mahal."

"Kira-kira harganya berapa, Pak?"

"Dua puluhan, bisa lebih." 

Ternyata tidak sia-sia ia membawa arloji itu dan menjaganya dengan baik.

"Semahal itu, Pak?"

"Iya, dek. Lagian, kenapa dijual? Mau beli yang baru?"

"Oh, iya, Pak." Hati Azam merasa getir, ia berbohong untuk menutupi keadaannya.

"Coba adek ke toko swalayan yang khusus jual beli arloji. Kalo saya ini cuma ngejual, nggak beli."

"Baiklah kalo gitu, Pak. Saya permisi, terima kasih."

"Iya, iya, sama-sama."

Azam mendatangi toko swalayan terbesar khusus jual beli arloji. Ia mendapatkan uang lebih banyak dari yang bapak tadi katakan. Ia mulai berpikir untuk pergi ke tempat mamanya berada. Rasa rindu seorang anak memang tak bisa dipungkiri. Meski kisahnya menoreh lara, namun anak dan ibu tetaplah saling terikat.

Azam memilih jalur darat, ia ingin lebih santai dan menikmati perjalanan. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Ada lima belas notif dari nomor yang sama, bunda Ratu.

Ia mengetik pesan untuk menegaskan. 

"Sekali lagi maafkan Azam, Bunda. Mohon doanya saja, Azam akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir, Azam sudah tumbuh besar. Terima kasih untuk enam belas tahunnya, semoga Bunda selalu sehat."

Ia menekan tombol send. Pesan itu kini sudah diterima bunda Ratu.

"Semoga kamu segera bertemu mama ya." 

Balas bunda Ratu.

Setelah membacanya, Azam menekan tombol delete, hingga semua percakapan yang pernah ada sebelumnya pun terhapus. Azam tau mamanya tinggal di mana, ia membuat akun palsu saat sekolah menengah, untuk mengetahui keberadaan mamanya melalui sosial media.

Ia sering membuat pesan messenger untuk mamanya, namun tak pernah ia kirim. Setelah selesai diketik, dihapusnya kembali.

Perjalanan dua malam tiga hari sudah dilaluinya, ada kendala seperti bus mogok, dan cekcok antar kondektur--pemumpang, sehingga memakan waktu tak biasa, perjalanan Palembang--Magelang. 

Ia sampai di terminal Tidar. Bau khas terminal menyeruak membuatnya mual. Kepalanya pusing, ia mencari tempat duduk dan menenggak air mineral yang tinggal separuh botol. Netranya menangkap dua orang yang sedang mengendarai motor matic. Seorang perempuan turun, membuka helmnya. Lelaki itu mengambil helm dari tangannya dan diletakkan di pengait antara kedua kakinya.

Azam tersadar saat air mineral itu tak lagi mengalir di tenggorokannya. 

"Ow, ssst." Ia mendesah kesal.

Sedang tatapannya masih pada dua orang tadi. "Apa itu kekasihnya? Kenapa yang laki cium tangan? Aneh." Ia bergumam dalam hati.

"Perempuan itu ... indah sekali." Sahutnya lagi.

Perempuan itu naik bus kemudian duduk dua baris di belakang sopir. Azam mengikuti dan duduk tepat di belakangnya.

"Mau sekolah, ya?" 

"Iya, Pak." 

"Bukannya libur tanggal merah?"

"Mau ujian toefl." 

"Ooh ... semangat." Sopir itu mengangkat tangannya memberi semangat.

"Insyaallah."

Azam hanya terdiam menyimak juga menatap perempuan itu terus menerus. 

"Suaranya ...." ucap Azam pelan. Ada perasaan hangat di dalam dadanya, kala perempuan itu berbicara.

Bus sudah terisi beberapa baris. Mobil mulai dinyalakan hendak berangkat menuju selatan. Azam tidak tau arah tujuan, ia hanya mengikuti perempuan itu. 

Mobil sering berhenti mengambil penumpang di pinggir jalan. Baru berjalan dua kilo saja, bus sudah terisi penuh. Ada seorang ibu hamil besar tiba-tiba muncul di samping perempuan yang dibuntuti oleh Azam.

"Eh, Ibu," perempuan itu berdiri. "Ibu, duduk aja, sini." Pintanya seraya membetulkan tas Ibu itu.

"Makasih loh Neng, kamu mau ke mana?"

"Mau ujian toefl. Doain lancar ya, Bu." 

"Siapa Ibu itu? Kenapa begitu dekat? Apakah Ibunya? Ah, tidak mungkin. Tidak mirip sama sekali. Tapi bisa jadi, perempuan itu mirip Bapaknya." Azam menggelengkan kepala. Ia pun memutuskan berdiri. Meminta perempuan paruh baya menduduki tempatnya. 

"Ia sangat baik, perempuan yang duduk di depannya tak perduli ada perempuan hamil yang berdiri, memegangi perutnya yang besar." Keadaan di dalam bus ramai, banyak orang berbincang, namun bagi Azam dialah yang berisik. Ia berbicara pada dirinya sendiri.

Karena muatan yang tidak sesuai kapasitas, bus itu terhuyung menghindari andong di depannya. Pedal rem yang diinjak sopir membuat seisi penumpang ikut terhuyung. Perempuan itu tak sengaja menginjak kaki Azam, untung saja ia memakai sepatu.

"Astaghfirullah. Maaf, Mas, maaf." Ucapnya pada Azam. Namun matanya tak menatap ke arah mata Azam yang tak berhenti memandang. 

"Iya, gak papa." 

Mobil itu kembali berjalan normal setelah beberapa penumpang turun. Ada yang protes karena terlalu padat, bisa berakibat fatal pada seluruh penumpang. Memang acapkali beberapa sopir bus ingin mengangkut semua orang agar mendapat pundi rupiah yang lebih. Namun tak menyadari kondisi dan memikirkan keselamatan penumpang.

Perempuan itu nampak gelisah, beberapa kali matanya melirik ke bawah aeah belakang, tempat Azam berdiri. Ia menyadari bahwa sepatu Azam telah kotor karena diinjak olehnya tadi. Tangannya memegang kuat pada sandaran bangku, ia jongkok dan mengelap sepatu Azam dengan kerudungnya.

Tentu saja adegan itu membuat Azam terkejut sekaligus terenyuh. Beberapa detik kemudian, air matanya merembes, mengalir membasahi kain penutup wajahnya.

"Eh, nggak usah," Bibir Azam berucap pelan seraya menarik kakinya ke belakang. Namun terlambat, Noda di sepatunya sudah hilang, kini beralih menempel di kerudung perempuam itu.

"Nggak papa, nanti saya nggak bisa tidur karena merasa bersalah."

"Apa? Tidak bisa tidur hanya karena merasa bersalah, telah menginjak kaki orang yang tidak dia kenal sama sekali?" Azam merasa heran pada perempuan itu  ia masih saja berbicara sendiri di dalam hati. Menelan ludah, lalu menghela nafas panjang agar tidak terlalu sesak dadanya yang dipenuhi tanya.

"Gatot Subroto, siap-siap."

"Hah!" Azam mencari nama yang dimaksud Pak Kondektur. "Keren sekali, nama penumpang aja hapal."


"Bu, aku turun duluan ya, Assalamu'alaikum." Pamitnya.

Azam pun ikut turun, beberapa langkah di belakangnya.

Perempuan itu segera menyeberangi jalan, sedang Azam celigukan mencari tempat untuknya sembunyi. Ia melihat ada sebuah warung, selain perutnya memang sudah lapar, makan di sana bisa jadi pilihan yang tepat. 

Azam memesan satu porsi nasi rawon. Ia belum pernah makan makanan itu sebelumnya. Tanpa berpikir itu enak atau tidak, yang terpenting perutnya segera terisi dan kenyang.

"Maaf Bu, Ibu tau perempuan yang pakai kerudung biru langit itu?" Tanya Azam tiba-tiba.

"Oh, yang itu, namanya Arini. Cantik, baik, sholeha, pinter. Anaknya pemilik tempat kursus itu aja naksir berat. Ehem ... Mas juga naksir Mbak Arini, ya?" Setelah berdeham, Bu Nay menggoda Azam. Sampai kuah rawon tumpah mengenai kakinya.

"Tunggu aja, Mas Brian sebentar lagi datang. Dia anak kuliahan jurusan kedokteran." 

Mendengar tutur Bu Nay, Azam tersedak. Ia sadar akan dirinya yang bukan siapa-siapa. Sekolah saja putus di tengah jalan. Meski impiannya begitu besar namun takdir membuatnya mengubur impian itu.

"Masnya, kuliah di mana?" Bu Nay bertanya, Azam menghentikan kunyahannya dan minum air hangat yang dimintanya tadi.

.

.

Bersambung ....




Halo, saya De Moi, seorang blogger pemula dan penulis di platform online.

Previous
Next Post »

2 komentar:

  1. Untung model azam bukan orang yang baperan ya kan. Azam memang benar-benar perlu diarahkan supaya menjadi lebih baik lagi.

    BalasHapus


EmoticonEmoticon