Novel Santri Hasil Makian Bab 5

November 28, 2021


"Masnya, kuliah di mana?" Bu Nay bertanya, Azam menghentikan kunyahannya dan meminum air hangat yang sudah tersedia sesuai permintaan.


____________


"Saya masih sekolah, Bu."

"Sekolah? Kelas berapa?"

"Dua." 

"Di mana?"

"Palembang."

"Palembang? Lah kok, bisa terdampar di Magelang, ini gimana ceritanya? Kan nggak lagi libur panjang?"

Azam menceritakan kisahnya secara singkat. Air mata Bu Nay mengalir begitu saja, ia merasa iba pada Azam.

"Ya Allah. Maafkan Ibu, ya, harusnya nggak tanya apapun. Orang baru kenal juga, lagian sampean sih yang mulai duluan, nanyain Arini." Cerocos Bu Nay, padahal barusan dia meminta maaf, sekarang menyalahkan.

"Nggak papa Bu, Ibu jangan cerita kalau saya pernah menanyakan Arini." Azam sudah bisa menyebut namanya, tau dari Bu Nay.

Setelah perutnya terisi, Azam mulai mengantuk. Arini juga tidak keluar hampir satu jam.

"Bu, saya boleh tidur di sini sebentar?"

"Boleh, boleh, di pojok sana, ya!" 

"Makasih, Bu,"

Bu Nay mengangguk, mengulas senyum.

***

"Rin, aku anterin pulang, ya, kebetulan bawa mobil." Ucap seorang pria berwajah tampan dan tinggi.

"Maaf, aku dijemput adek, kok." 

"Cuacanya mendung, nanti kehujanan di jalan. Adekmu gak usah jemput, biar aku antar kamu aja."

"Makasih, Bri. Nggak usah."

"Kenapa sih, Rin? Sekali aja, aku pengen kenal sama orang tuamu." 

Terdengar helaan nafas Arini, ia melengos menatap wajah teman di sebelahnya. Azam sudah bangun dari tadi, mendengar suara keras menyebut nama Arini. Kini ia menguping seraya pura-pura tidur.

"Mas, itu lho, orangnya." Bu Nay menyenggol bahu Azam. Azam berdeham, mengusap wajahnya. 

"Aku denger semua, kok." Sahutnya mengulas senyum jahat.

"Rin," Brian menyentuh lengan Arini.

"Hey!" Arini menyeringai.

"Kamu kenapa sih Rin, nggak mau aku anter?"

Arini menarik nafas berat.

"Sepertinya harus diperjelas." Ia meminta persetujuan dari teman sebelahnya yang bernama Sally, tubuhnya berisi, memakai celana jeans hitam, kemeja biru, kerudung hitam dan berkacamata.

Temannya yang sedari tadi bersendakep, mengangguk mengiyakan.

"Gini ... mohon maaf sebelum dan sesudahnya nanti. Aku tidak mau dibonceng, diantar lelaki manapun, kecuali Ayah, adek, dan suamiku kelak."

"Kita kan bertiga?" 

"Sama siapa?"

"Sally." 

"Sally, nggak searah sama aku. Udahlah Bri, jangan sia-siakan waktumu dengan tetap di sini memaksaku, ya."

"Judes juga, Arini." Gumam Azam dalam hati.

Suara mereka terdengar jelas. 

"Tuh, adek aku udah dateng." Arini menunjuk seseorang memakai motor matic.

"Oh? Jadi itu adiknya, pantes tadi pake acara cium tangan. Eh, Arini ini .... Bu, Arini itu sekolah kelas berapa?"

"Astaga, dia kuliah semester tujuh."

"Hah! Yang bener?"

"Iya, kayak ABG kan?" 

Azam mengangguk. Bu Nay terkekeh.

"Bu De, Arini nggak mampir, ya." Ucap Arini dari luar.

"Iya, salam buat Ayah dan Ibumu ya." 

"Insyaallah ntar disampein. Assalamu'alaikum."

"Sal, aku pulang duluan ya, makasih udah nemenin aku nunggu Rijal." 

"Okey, salam buat si ganteng, itu."

"Haha, siap." 

"Duluan ya, Bri, assalamu'alaikum." 

Arini melangkah pergi, Azam pun berkemas hendak mengikutinya. Setelah berpamitan dengan Ibu Nay, ia naik ojek.

"Bang, susul motor matic biru di depan itu ya." Pintanya seraya menepuk pundak bang ojek.

"Ngebut banget." Gumam Azam. 

"Jadi, gimana Mas?" 

"Ya udahlah, antar saya ke terminal Tidar, aja."

Mereka kehilangan jejak Arinj. 

"Makasih ya, Bang."

"Sama-sama." Bang ojek itu pergi.

Azam mencari tempat duduk, ia menyandarkan bobot tubuhnya ke kursi besi panjang, di terminal. Ia lelah, matanya sangat berat. 

Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari nomor baru.

"Zam, ini Mama. Kamu di mana?"

"Mama?" Azam mengucek matanya. Jantungnya berdebar. Ada perasaan senang juga kesal. Ia berharap tidak bertemu Mamanya secara langsung.

 Di terminal Tidar." Balasnya.

"Oke, tetap di sana. Sepuluh menit, Mama nyampai."

Azam merebahkan tubuhnya, mengendorkan otot kaki. Ia terus memikirkan Arini. Perempuan anggun, berbaju gamis dan kerudung menjuntai menutupi dada. 

"Kenapa ia tidak menyukai Brian? Padahal tak ada kekurangan. Selain tampan, ia juga kaya. Apa aku layak untuknya?" Bisiknya pelan.

Ponselnya berdering lagi. Kali ini Mamanya menelpon.

"Halo sayang, Mama di luar."

"Ya." Jawabnya sebelum menutup sambungan.

Azam nampak lesu, ia tak bergairah. Pikirannya teringat saat Mamanya dengan kejam meninggalkan dia. Ia berjalan gontai. Nampak kusut, rambutnya sudah memanjang menutupi mata. Namun di bagian samping dan belakang masih agak tipis. Kain sapu tangan yang digunakan menutup wajahnya, ia lepas.

"Azam ... sayang ... Mama kangen banget sama kamu, Nak." Mamanya memeluk erat tubuh dempal Azam.

Azam bergeming, ia tak membalas pelukan Mamanya. 

"Dari mana tau nomorku?" 

Bukan pertanyaan apa kabar, ia justru menanyakan dari mana tau nomor ponselnya, dengan ekspresi datar. Sorot matanya nanar, ia menunduk enggan menatap.

"Itu nggak penting. Sekarang kamu tinggal sama Mama ya. Ayo!" Mamanya menggandeng lengan Azam, memasuki mobil sedan mewah. 

"Ini mobil yang berbeda." Batinnya.

"Ini Papi kamu, Danu."

"Papi? His, tak sudi aku memanggilnya dengan sebutan Papi." Sungutnya dalam hati.

"Azam." Senggol Mamanya agar segera menyalami suami baru itu.

"Hai, Om," sapanya acuh.

"Hai, kamu sudah besar dan tampan." Papi tirinya menyentuh pundak Azam yang lebih tinggi sepuluh senti darinya. Azam mengulas senyum lalu membuang muka.

Mamanya dan Danu sedikit menjauh dari Azam yang berdiri menatap orang keluar masuk bus. Ia mulai tak nyaman, meliirik dua orang sedang membicarakan entah apa. Ia melangkah menjauh menuju jalan raya.

"Azam!" Panggil Mamanya.

Ia menghentikan langkahnya dan menoleh. Mamanya berjalan cepat mendekati.

"Zam, kamu tinggal sama Mama, ya!"

"Apa dia, akan baik-baik saja?"

"Ya, tentu, ayo!" Mamanya memegang jemari Azam dan menariknya mendekati mobil.

Mereka bertiga masuk ke mobil menuju perumahan elit di tengah kota Magelang. Sesampai di gerbang yang menjulang tinggi dan kokoh, Azam menatap rumah itu, lalu menatap mamanya. Sampai hampir masuk rumah, Azam melakukan itu. 

Rumah itu mewah, bahkan jauh lebih mewah dibanding rumah mewah yang pernah ia tempati. Hawa sejuk menyeruak tubuhnya, ia memejamkan mata menikmati hawa sejuk setelah seharian berjubal dengan debu dan asap kendaraan. 

"Sini kamar kamu, ya. Mandi, dan istirahatlah." 

Ia mengangguk, melirik jam dinding berukir keemasan di setiap sisinya. Nampak elegan, dan itu pasti mahal. Azam merebahkan bobot tubuhnya yang lelah ke atas ranjang empuk dengan pendingin udara melengkapi kantuk pada matanya. Ia terhanyut, bangun karena perutnya terasa pedih. 

Azam membuka pintu kamar mencari dapur. Ada Mamanya yang sedang makan sendirian. Ia mendekat, duduk di samping kiri.

"Mama sengaja nggak bangunin, kamu pules banget tidurnya. Pasti lelah."

"Apa, ini Mama yang masak?" 

"Bukan, Mama jarang masak, habis isya ini Mama mau arisan, kamu dirumah sendiri nggak papa kan?"

Azam mengangguk, tak menanyakan apapun, meski dalam pikirannya banyak sekali pertanyaan.

Dua hari berlalu Azam tinggal di rumah Mamanya. Pekerjaannya makan, tidur dan beres-beres rumah. Ia merasa tak enak hati kalau tak melakukan apapun, hanya numpang hidup saja dengan Ayah sambung.

Rumah lengang, Azam masih merasa lelah, malam ini ia tidur nyenyak di tempat yang nyaman. Namun siapa sangka, tiba-tiba suara barang rumah pecah. 

"Ma, semalam itu suara apa, ya?"

"Oh, Mama nggak sengaja nyenggol guci."

"Oh," Azam merasa sesuatu telah terjadi.

"Kamu, masih mau sekolah?"

Hati Azam berdesir mendengar pertanyaan Mamanya.

"Mau,"

"Besok, Mama antar ke sekolah, ya."

"Besok?"

"Iya,"

Azam mengangguk. 

"Ma, pernah rindu Papa?"

Pertanyaan itu spontan terucap dari bibirnya, Mamanya menghentikan aktifitas mengecat kuku kaki. Perempuan itu tak menjawab, karena di belakang Azam ada suaminya yang menatap geram penuh amarah.

"Ma ...."

"Kenapa kamu ninggalin, Papa?" Mamanya kembali bertanya.

"Papa setres ditinggal Mama, ia jadi sering membawa perempuan ke rumah. Aku muak, jadi aku pergi."

"Papamu itu pembohong, dia menipu saya. Sekarang , sudah jatuh miskin, banyak tingkah, tidak becus mengurus anak. Liat aja, anaknya sampai datang ke sini, karena ... haus kasih sayang."

"Tutup mulut anda!"

"Hei! Berani kau membentak saya? Kau di sini itu menumpang. Tidak tau malu!"

Azam tertegun, dadanya tiba-tiba sesak. Ia menatap Mamanya yang tertunduk.

"Jangan menghina Papa saya, Om!"

"Kenapa? Kau itu tak jauh beda dengan Papamu. Besar marah."

"Papa saya menipu Om? Menipu apa?" Azam kini menedekati Danu yang sedang berkecak pinggang.

"Dia meminta saya untuk investasi. Tapi semua itu sia-sia, perusahaannya tetap bangkrut, uang saya tidak kembali. Bodoh tidak bisa mengolah perusahaan."

"Jadi, itu alasannya."

"Alasan apa?" Suara Danu kembali mengeras.

"Alasan perempuan itu meninggalkan Papa. Anda lebih kaya, dan pintar mengolah perusahaan."

"Saya memang mencintai istrinya, sekaligus ingin menyakiti Subhan. Lagian Mamamu itu tidak bisa hidup miskin." Danu dengan bangga mengatakan hal itu.

Azam mengangguk-angguk. Menetralisir perih di hatinya. 

"Sepertinya, saya ini hanya penghalang kebahagiaan orang." Ia melirik Mamanya yang masih menunduk.

"Ma, mau mengatakan sesuatu? Terakhir kali."

"Azam, tolong, mengertilah. Kamu harus bersikap baik dan menerima Papi Danu. Dia sangat baik."

"Ya, dia baik, bisa memenuhi semua keinginan Mama." Jawab Azam seraya tertawa.

"Azam, Papa kamu itu bodoh, tidak bisa mengurus perusahaan." Mamanya membela suami barunya, ikut merendahkan Subhan di depan anak kandung sendiri.

"Ya, Papa bodoh, karena memiliki istri yang banyak maunya. Ia tidak bisa bekerja dengan tenang. Menyeimbangkan kebutuhan dan kehidupan Mama yang serba wah. Harusnya, Mama menikahi Dia sejak dulu, agar tidak ada aku, di dunia ini." Azam menunjuk Danu yang memerah matanya.

"Azam!" Mamanya berteriak, agar Azam berhenti bicara.

Azam pergi ke kamar, ia mengemas barangnya. Amplop berisi uang penjualan arloji masih sembilan belas juta. Ia keluarkan dua puluh lembar.

Azam keluar mendekati dua orang yang sedang tak sehat kejiwaannya.

"Ini uang, biaya selama saya di sini. Terima kasih banyak, permisi."

"Azam, Azam!" Rindu memanggil Azam. Ia berhasil menarik lengan Azam.

"Azam. Mama minta maaf."

"Saya tidak tau harus bilang apa. Terima kasih untuk tujuh tahun dan sembilan hari di sini. Harusnya saya tidak hidup, karena hanya mengganggu anda."

"Azam," Tangis Rindu pecah, ada sesal juga sedih. Ia sakit mendengar kalimat darah daging yang ia siakan.


.

.

Bersambung ....



Halo, saya De Moi, seorang blogger pemula dan penulis di platform online.

Previous
Next Post »

2 komentar:

  1. Penasaran deh, tentang kenapa Azam memilih pergi. Next, ditunggu kelanjutan ceritanya ya Kak.

    BalasHapus


EmoticonEmoticon