Novel Santri Hasil Makian Bab 6

Desember 04, 2021 2 Comments


"Azam," Tangis Rindu pecah, ada sesal juga sedih. Ia sakit mendengar kalimat dari darah dagingnya yang sudah ia sia-siakan.


_______


Azam meninggalkan Mamanya dengan perasaan kalut, ia melintasi jalan raya memicu suara bel kendaraan bersahutan. Mulutnya membisu namun pikiran terus berdebat. Ia ingin mati, tapi takut. Kendaraan juga tak ada yang mau menabraknya. Iya kalau langsung mati, bagaimana kalau cacat dan sekarat yang teramat sakit?

Azam pergi ke terminal Tidar, seketika mood buruk itu berubah kala melihat perempuan yang diikutinya saat pertama kali menginjakkan kaki di kota Magelang. Ia menyisir rambut dengan jemarinya yang jenjang.

Azam merapikan kaos lengan panjangnya, ia tarik hingga tiga per empat. Lengannya mulus seperti ubi kayu yang sudah dikelupas, banyak bulu halus kekuningan menutup pori-porinya. Sepertinya, masa kecil ia, tak pernah digigit serangga.

Seketika jantungnya berdesir lembut, kesal dan sedih yang dirasa tadi berubah. Ia merasa damai tanpa beban. Azam mengusap layar ponselnya untuk melihat jam. 

"Apa, setiap jam sepuluh dia, selalu di sini untuk ke suatu tempat?" Tanyanya dalam hati.

Azam perlahan mendekat, lalu duduk di kursi yang disiapkan oleh tukang bubur ayam. Ia memesan, dan memang lapar, sebab sejak pagi belum terisi apapun, ditambah mengeluarkan energi cukup banyak, bertengkar dengan papi tiri dan mamanya.

Azam sudah menghabiskan satu porsi bubur ayam, namun masih terasa longgar lambungnya. Satu porsi lagi ia pesan. Tukang bubur ayam itu menggeleng.

"Bubur ayam saya ini banyak loh, Mas, porsinya. Dan masih kurang? Berapa hari nggak makan?"

"Sejak pagi, energi saya terkuras. Makanya jadi laper banget."

"Emang habis ngapain? Kerja?"

"Emang kenapa Pak? Keberatan saya nambah satu porsi lagi?" Bukannya menjawab, ia justru bertanya dengan nada kesal.

"Ya, enggak dong. Seneng malah."

"Ya, udah." Azam nampak sewot, netranya masih mengikuti ke manapun perempuan itu berjalan. 

Kerudung yang menjuntai menutup dada berwarna kecoklatan, gamis hitam, sepatu kets, dan tas ransel berbahan rajut berwarna senada dengan kerudungnya. Ia terlihat begitu indah di mata Azam, seorang lelaki muda, yang tidak berpendidikan juga miskin. 

"Ini, Pak. Terima kasih." Setelah selesai menyantap dua porsi bubur ayam dan sebotol air mineral, ia bergegas menyusul Arini ke dalam bus. 

Sudah hampir sepekan, ia mengikuti Arini. Tidak bekerja, numpang tidur di rumah mamanya. Sekarang Azam menjadi gembel di terminal. Setiap hari mengonsumsi alkohol, untuk menenangkan diri, katanya. Orang-orang di stasiun sering meminta bantuan tenaga untuk mengangkut barang mereka. Tubuhnya yang atletis tidaklah sulit melakukan pekerjaan kuli. Ia sering mendapat upah, sehingga uang penjualan arloji yang ia bawa ke mana-mana itu, tidak banyak terpakai.

"Maaf." Ucap Arini seraya melihat ke bawah. Tapi sungguh Azam menikmati pemandangan indah di depan mata. Wajahnya terlihat masih remaja yang polos tanpa make up.

Azam masuk ke dalam bus setelahnya, sepertinya tujuan yang sama. Ia sama sekali tak melihat ke arahku. Hanya ada satu bangku kosong dan ditempati olehnya.

Baru saja Arini tak sengaja menginjak kaki Azam untuk kedua kali. Penumpang banyak kali ini, ia memaksa masuk duluan karena takut tidak muat lagi.

Bus mulai penuh. Berjejal. Arini yang sebelumnya duduk, kemudian berdiri mempersilakan ibu hamil besar yang pernah dilihat Azam kala itu, untuk duduk di tempatnya. Azam makin terpesona.

"Iya. Oh, gitu. Ya, udah aku langsung pulang aja deh. Iya gak papa." Arini menjawab telepon dari seseorang.

"Siapa? Apa mungkin kekasihnya." Azam bertanya-tanya.

"Ndok ayu, katanya mau turun lima belas menit lagi? Ini udah setengah jam." Ibu hamil bertanya Arini.

"Eh, iya Bu, gak jadi, tadi mau ketemu temen, tapi dianya buru-buru mau pulang, batal deh. Alhamdulillahnya dia telpon pas aku belum datang ke sana." Arini tersenyum. 

"Ya, Tuhan aku tak pernah melihat senyum semanis ini." Gumamnya.

Mobil hendak berhenti, Kondektur memberi aba-aba kepada penumpang, semua bersiap, kecuali mereka yang tak turun.

"Ibu, turun di sini?" Tanya Arini.

"Enggak Ndok, Ibu turun di depannya lagi, kira-kira  satu kilo lagi lah."

"Oh, gitu, ya udah aku turun duluan ya, Bu. Ini cewek apa cowok Bu bakalnya?" Ia mengelus perut ibu itu.

"Kata Dokter cewek Ndok. Tapi wallahu a'lam." Entah mengapa Azam hanya fokus mendengar suara mereka, bukan kebisingan lain di dalam bus.

"Masyaallah, semoga apapun itu, insyaallah yang shalih shalihah ya, Bu."

"Aamiin, shalihah dan cantik kayak sampean."

"Ah Ibu, bisa aja. Aku aamiin deh. Jadi doa. Aku maju ke depan ya Bu. Turun di sana aja, mau muter balik soalnya. Assalamu'alaikum." Ia melipir menerobos sempitnya jalan menuju pintu. Dan Azam kehilangan dirinya karena dihalangi oleh orang-orang.

"Maaf Bu, siapanya Ibu, ya?" Karena ingin tau yang tinggi padanya Azam memberanikan diri bertanya pada ibu itu.

"Yang barusan?" 

Azam mengangguk.

"Namanya Arini, Ibu kenal waktu di bus gini. Seumur hidup baru nemu sama perempuan kayak dia. Masyaallah, bukan cuma wajahnya yang sedap tapi juga kepribadiannya. Ramah sama siapa aja. Kecuali laki-laki. Dia nggak pernah natap kalo diajak ngomong sama laki-laki."

"Oh, gitu." Azam mengulas senyum.

"Eh, Masnya naksir, ya?"

Azam meringis saja.

"Dia udah kuliah. Selalu dijemput di terminal kalo nggak sama Papanya, ya adek laki-lakinya. Katanya sih, gak ada angkutan umum masuk menuju rumahnya. Gak mau naik ojek. Tahan nunggu di terminal kalo gak ada yang jemput.

Tapi ini tadi, kayaknya nggak jadi pergi. Turun, mau muter balik, katanya."

"Oh, kuliah?" 

Azam pura-pura tidak tahu, padahal ia mengetahui tentang Arini dari Ibu Nay, saat mengikuti Arini pertama kali.

"Haha. Kenapa? Kamu kira masih SMP? Sama, Ibu juga gitu pertama kali ketemu sama dia. Ya gitu, dia selalu menyisihkan tempat duduk untuk orang lain. Gak cuek aja kayak yang lain."

Azam menggaruk kepala yang tak gatal sambil meringis.

"Hehe, ternyata." 

Ia tak tau harus bilang apa, hanya ada dua kata itu saja yang terucap oleh bibirnya.

"Eh cie, mau nitip salam? Nanti tak sampein pas ketemu lagi. Gimana?" Ibu itu menggoda Azam.

"Jangan Bu. Jangan, bener deh. Cuma nanya doang. Kagum aja." Jelasnya biar tak makin panjang.

Ibu itu turun lebih dulu. Azam tetap di bus sampai kembali lagi ke terminal Tidar. Sopir bus sampai heran dengan kelakuan Azam.

Satu pekan kemudian. Azam tak melihat Arini, namun selalu naik bus yang biasa Arini tumpangi.

"Eh, Mas Azam." Sekarang ibu yang pernah ngobrol dengan Azam di bus waktu itu, sudah menggendong bayi yang sangat cantik.

"Loh, Bu. Ini." Ucap Azam, menunjuk bayi yang digendongannya.

"Iya, Alhamdulillah, cewek, namanya Rindi Trihapsari. Rindi itu singkatan dari Arini dan Dina nama saya."

"Hah! Emang nggak dimarah suami, Bu?"

"Enggak, saya sering cerita tentang Arini, dan suami juga suka. Katanya kapan-kapan mau ketemu gitu. Saya berharap putri saya ini mirip sama Arini." Ibu itu tersenyum tulus, terlihat dari gurat wajahnya yang sumringah.

"Nama kamu siapa? Kita belum kenalan."

"Azam."

"Saya Dina."

"Iya, tadi udah Ibu sebut."

"Ibu udah punya nomornya, loh."

"No siapa, Bu?"

"Ariniii ... Kamu mau, nggak?"

"Hehe, boleh."

"Dasar, malu-malu kucing." Azam nyengir disertai dada yang berdegup kencang. 

"Kamu tinggal di mana sih, Mas? Kerja? Atau kuliah? Kok kita sering ketemu di bus."

"Ehm aku ...." Azam bingung hendak mengatakan apa. Malu. Minder, bagaimana kalau ibu ini menceritakan ia kepada Arini?

"Tenang, aku belum cerita apapun ke Arini, kok." Ibu Dina mengerak-gerakkan alisnya, bola matanya melirik ke arah Azam yang duduk di sebelahnya. Azam makin kikuk dibuatnya. Namun ada perasaan lega.

"Ayo, dijawab." Katanya yang ternyata masih menunggu untuk memenuhi rasa ingin taunya itu.

"Saya tinggal nggak jauh dari Terminal Bu, saya masih sekolah kelas dua SMA."

"Hah? Kelas dua SMA?" Ibu itu melotot dan air ludahnya muncrat mengenai bayinya. Ia melihat wajah Azam dan menaik turunkan retina .

"Ternyata, dunia ini lucu. Saya kira sudah kuliah atau kerja. Tampang dan postur tubuh, nggak sesuai usia. Hahaha. Maaf ya." Ia menutup mulutnya dengan kain jarik untuk menggendong bayinya.

"Ya Allah. Semoga kalian berjodoh." Ucapnya lagi.

"Siapa Bu?" Azam bingung.

"Kamu dan Arini." Ia menepuk-nepuk pundak Azam.

Azam tersenyum dan di dalam hati mengaamiinkan. Namun pikiran berkata tak mungkin.

Jiwa terasa hampa, tak ada teman. Tepatnya Azam yang menolak berteman dengan siapapun. Selain merasa insecure, tak ada yang asyik menurut versinya. Ia juga tak mengerti asyik itu seperti apa. Hidupnya sangat flat, tak bergairah.

Di rumah, di terminal, di bus, hanya ada Arini di kepalanya. No yang diberikan oleh ibu Dina sudah tersimpan di ponsel, sering ia tulis pesan sapa, namun tak satupun yang terkirim. Kepengecutan itu membelenggu.

Ketika asyik memanikan ponselnya,  tiba-tiba Azam melihat sekelibat perempuan mirip Arini. Ia mengikuti dari jarak jauh, agar tak menyadari keberadaannya.

Arini berjalan bersama laki-laki kemudian duduk di kursi besi. Wajahnya mirip dengannya, tapi postur tubuhnya tak jauh beda dengan Azam. 

"Sepertinya itu yang namanya Rijal." Ucapnya.

"Awas aja aku, aduin ke Ayah. Uang tabunganku kamu pake buat beli kaset PS." Bibir Arini manyun, wajahnya memerah.

"Cie ... cie ... ngambek, ntar aku ganti deh, janji." Rijal mengeluarkan jari kelingkingnya lalu didekatkan ke wajah Arini.

Arini melengos. Dan laki-laki itu mengeluarkan sebuah buku berwarna putih dengan tulisan 'aku ingin nikah muda' terlihat di cover depannya.

Wajahnya mendadak berseri dan segera meraih buku itu. 

"Ini sogokan kah?"

"Ya, enggak lah. Makanya uang buat beli kaset kurang, karena beli itu."

"Ya, udah ayo pulang." Arini kemudian berjalan mendahului menghampiri motor maticnya.

"Janji gak kasih tau Ayah atau Ibu?" Rijal mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Arini.

"Oke, selama kamu, punya etikat baik mau balikin uangku."

"Oke. Cuma sedikit aja kok."

"Mau sedikit atau banyak, kalo bilangnya pinjem ya, dibalikin."

"Iya deh, iya."

Buk! Arini memukul helm Rijal.

Rijal meringis.

Mereka kemudian melaju meninggalkan terminal dan Azam, orang yang sedari tadi diam menguping.

.

.

Bersambung ....




#Karyaku
#Novel