Novel Bab 2 Sama-sama Getir

Mei 24, 2022


Dua hari Arini tidak datang ke Rumah Baca. Azam pun begitu, ia sibuk membantu pekerjaan di bengkel milik Abah. Sabtu dan minggu memang diliburkan. Anak-anak akan datang kalau pintu gerbang terlihat terbuka. Tapi hari ini mereka tiba di sana bersamaan. Arini bersama Sally dan Azam sendiri. 

Azam menyapa Sally dan mengabaikan keberadaan Arini. Arini juga tidak ambil pusing, ia melewati Azam dan masuk ke perpustakaan mini untuk melanjutkan pekerjaannya dua hari yang lalu. 

Azam juga ikut masuk, tapi ia menuju sofa lalu menghidupkan televisi berukuran besar yang biasa digunakan untuk menonton bersama anak-anak. Ia menghidupkan lagu-lagu islami dengan suara yang keras. Pagi ini masih sepi, karena masih jam sekolah. 

Tiba-tiba Sally mendekati Azam seraya berkecak pinggang.

"Zam!"

Azam bergeming dan matanya fokus pada televisi

"Azam!" pekik Sally.

"Hm."

"Kamu kok nggak bantuin Arini, sih!"

Azam tidak menyahut, ia justru menggoyangkan kakinya.

"Zam! Kecilin dikit napa? Berisik tau!"

"Mbak, ntar kalo udah punya anak, di rumah juga bakal berisik."

"Iya, tapi nggak sekeras ini juga kali suaranya!"

"Biarin, biar nggak sepi."

Sally mendekat dan meraih dengan cepat remote televisi di atas meja. Ia menekan tombol merah lalu layar yang dilihat Azam seketika menghitam.

"Bantuin Arini, sana!"

"Lah, terus Mbak ngapain?"

"Aku mau nyiram bunga."

"Alasan."

"Bantuin Arini, Zam!" Nada Sally meninggi.

"Dia bisa sendiri, nggak butuh orang lain," jawab Azam ketus.

"Astaga. Ya udah, kamu siram bunga aja di luar!"

"Nggak, aku sedang malas."

"Allahu akbar, Azam!" Sally melempar remote televisi ke Azam yang masih duduk dengan posis semula, "Mentang-mentang Rumah Baca ini kamu yang bangun, lagaknya udah kayak bos aja." Sally bicara selalu ceplas ceplos dan tepat sasaran.

"Masa sih!" Azam tertawa kecil.

"Nyebelin!" Decak Sally makin kesal.

"Udahlah Sal!" Arini angkat bicara.

"Kamu  juga! Manusia itu butuh manusia lain. Pantes aja jadi jomlo karatan."

"Allah, apa hubungannya Sal?" Arini protes.

Azam tertawa geli. Sally meliriknya lantas pergi keluar.

Dua puluh menit kemudian, terdengar suara langkah mendekati Arini.

"Sal, kamu beliin pesenan aku nggak?" 

"Pesen apa ke Sally?"

Arini menghentikan tangannya yang sejak tadi mengetik dan membolak balik buku. Sorot mata Azam yang lembut membuat hatinya seketika hangat.

"Pesen apa?" Ulang Azam dengan lembut.

"Donat," jawabnya pelan dan mengalihkan tatapannya pada Azam.

"Beli di mana? Biar aku belikan."

"Aku udah pesen Sally, sepertinya dia lupa  karena marah-marah nggak jelas tadi."

Azam tertawa. 

Azam tertawa, "Oke." Ia mengangguk.

Setelah jeda beberapa detik ia berbicara kembali.

"Aku mau ajak Mbak nemuin Mama." Azam selalu to the point ke Arini, sebab ia memang tidak pandai basa-basi. Ia juga kadang berbicara formal.

"Hah!"

"Iya."

"Ngapain?"

"Minta restu."

"Restu?"

Azam mengangguk.

"Kita menikah."

"Memangnya saya bilang, iya?"

"Ngomongnya pake aku--kamu aja, jangan saya."

Arini melengkungkan ujung bibirnya.

"Boleh bantu?" tawarnya.

Tanpa pikir panjang, Arini memutar laptopnya sehingga menghadap ke Azam.

"Jadi, gimana?"

"Apanya?"

"Bisa nemuin Mama?"

Arini diam seraya meminum air rebus yang ia bawa dari rumah.

"Kapan bisa nerima aku sebagai teman hidup yang menghasilkan pahala berlimpah?" tanya Azam lagi.

"Sally belum selesai kayaknya, aku mau bantuin dia." Arini tidak merespon pertanyaan Azam. Ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar dengan bantuan penyangga.

"Ya Rabbi." Lirih Azam setelah punggung Arini tidak terlihat.

Niatnya hanya mengajak bicara, namun ia justru mendapat pekerjaan menggantikannya.

'Sepertinya ini juga salah, semakin ingin dekat justru kau semakin menjauh. Allah tidak ingin kita bersama mungkin, hatimu sulit sekali untuk luluh padaku. Atau karena terlalu memaksa untuk disegerakan. Tapi aku pejuang bukan pembuang peluang.' gumamnya sendiri.

Esok harinya, Azam menemui Mama. Mereka janjian bertemu di luar, karena memang Azam tidak ingin Papinya ikut campur dan membeo membuat luka di hatinya semakin menganga.

"Ma, ada yang ingin aku bicarakan."

Baru saja duduk, Azam sudah membuka percakapan.

"Mama lapar, Mbok sedang pulang kampung, jadi nggak ada yang masak."

'Memangnya Mama tidak bisa masak sendiri? Hah! Perempuan sosialita yang terlanjur kaya.' gumamnya dalam hati.

"Setelah aku bicara, Mama bisa makan sepuasnya."

"Mama mau makan sama kamu!"

Azam tertawa.

"Kenapa? Nggak boleh?"

"Aku nggak suka makan bareng Mama. Sudah terbiasa begitu," jawabnya getir.

Mama menghela napas, "Baiklah, katakan!"

"Aku mau Mama menemui seseorang besok. Nanti aku kirimkan alamatnya."

"Siapa?"

"Perempuan yang aku cintai."

"Kamu sudah benar-benar move on dari Soleha?"

'Move on? Aku tidak mencintainya sama sekali, Ma.' bisiknya dalam hati.

"Ya. Aku mau kenalkan Mama padanya."

"Apa dia cantik?"

"Tentu saja, sangat cantik."

"Kaya? Pekerjaannya apa?"

"Apa itu penting, Ma? Aku ini laki-laki. Aku yang menafkahi."

"Ya, jangan seperti Papamu."

"Nggak perlu bahas yang lalu."

"Ya memang, kalau saja Papamu laki-laki yang bertanggung jawab, Mama nggak bakal pindah ke lain hati."

'Cih.' Azam mengumpat kesal.

"Mama tidak pernah mau berkaca. Mamalah yang membuat Papa menderita, bangkrut karena selalu menuruti keinginan Mama."

"Kapan kamu akan bersikap baik sama Mama? Jangan jadi anak durhaka, percuma kamu sholat dan tinggal di pesantren belajar ilmu agama, tapi tidak menghormati perempuan yang melahirkanmu."

"Aku tidak minta untuk dilahirkan. Kalau Mama tidak datang besok, jangan harap aku akan memanggil dengan  sebutan Mama lagi. Permisi!"

"Apa minuman itu sudah dibayar?" pekik Mama.

Azam membalikkan badan dan mengeluarkan dompetnya. Banyak pasang mata menatap mereka seraya berbisik. Ia mengeluarkan uang lima lembar berwarna merah dan meletakkannya di atas meja depan Mama, dengan penekanan.

"Dasar anak tidak tau diri!" sentak Mama marah karena sudah merendahkannya.

Azam mengeratkan geraham, tangannya mengepal, dadanya berdegup tidak beraturan.

"Aku pergi, Ma." Suara Azam melunak.

Mama bergeming, ia duduk, beberapa saat kemudian ia melahap makanan yang dipesan.

Minggu pagi begitu ramai di Rumah Baca. Jam delapan anak-anak sudah menunggu pintu gerbang dibuka. Setiap minggu selalu ada agenda khusus, seperti senam, makan besar, lomba, nonton, menanam, menyiram tanaman, dan lain-lain.

Arinilah yang mengatur semua, dan dia juga menjadi pembina utama. Minggu ini anak-anak agendanya kerja bakti lalu makan besar. Ada salah satu donatur tetap mengadakan hajatan, dan mereka mengabari untuk membagikan makanan berupa nasi kotak dan jajanan. Hal ini seringkali terjadi, namun sebelum itu mereka mengkonfirmasi terlebih dulu, agar bisa dikondisikan, berapa jumlah yang akan diterima mengikuti banyak anak-anak yang hadir hari itu.

Azam duduk memandangi Arini yang tengah tertawa bersama anak-anak, desiran hangat menyelinap di lubuh hatinya. Betapa ingin ia, hidup berdampingan dan berbagi rasa. Netranya teralihkan oleh mobil mewah yang memasuki halaman. Perempuan cantik nan modis turun dari mobil. Azam bergegas mendekati.

"Asslamu'alaikum, Ma." Azam meraih tangannya.

"Waalaikumsalam."

"Mari Ma, aku antar, dia sedang duduk di sana." Azam menunjuk saung yang di depannya ada kolam ikan hias berukuran dua kali empat meter.

Tiba-tiba Azam muncul di depan Arini bersama seorang perempuan. Arini termangu melihat Mama yang begitu cantik seperti ABG.

"Sayang, kalian main ke sana dulu ya! Bunda ada tamu." Arini mengelus kepala anak perempuan berkepang dua, anak itu mengangguk dan pergi.

Arini berdiri, tatapan Mama seperti hendak memangsa. Netranya terus bergerak dari atas turun ke bawah dan naik lagi.

"Ma, ini Arini, yang aku bicarakan kemarin." Azam menyentuh lengan Mama.

Arini tersenyum lembut, matanya berbinar penuh cinta.

"Ini?" tanya Mama.

"Kamu nggak salah orang? Wajahnya memang manis tapi cacat," ucap Mama pelan. Namun itu masih terdengar oleh Arini.

Bibir Arini yang semula melengkung kini datar, matanya berkaca-kaca.

"Assalamu'alaikum, Tante." Sapa Arini mengulurkan tangan.

"Walaikumsalam." Dengan ketus ia menjawab lalu menyambut uluran tangan Arini dan menariknya cepat.

Mama kemudian menarik lengan Azam, menjauh.

"Kenapa, Ma?"

"Kamu bener suka sama perempuan itu?"

"Ma, jangan keras-keras!" pinta Azam pelan.

"Bagaimana dia akan mengurusmu dengan baik, sedang dirinya saja seperti itu. Dia hanya akan menjadi beban. Nggak, Mama nggak setuju!"

"Azam bisa menikahinya tanpa restu Mama!" suara Azam bergetar.

"Kamu mau jadi anak durhaka beneran, hah!"

"Ma, aku mohon, jangan bicara seperti itu. Aku mencintainya."

"Jangan-jangan kamu kena guna-guna."

"Astafirullah, Ma?" sergah Azam.

"Cari perempuan lain, banyak di dunia ini, Zam. Apalagi kamu tampan dan punya penghasilan lumayan."

Azam mengembus napas cepat. Dadanya bergemuruh. Ia melirik Arini yang duduk diam menatap ikan di kolam.

"Mama pulang saja," ucap Mama.

"Ma, tolong!" Azam memohon agar Mamanya mau menemui dan berbicara dengan Arini.

"Enggak, dia hanya akan menjadi bebanmu, kaki aja cuma satu."

"Ma, cukup! Mama pulang saja kalau begitu." Azam melebarkan tangannya mengisyaratkan.

Mama pergi tanpa pamit, sebentar ia menoleh ke arah Arini. Hatinya sangat perih, ia menata dirinya agar terlihat baik-baik saja. Azam menghampiri Arini.

"Mbak, Mama ada kerjaan, jadi buru-buru pulang. Maaf ya, nggak pamitan dulu tadi."

Arini mengulas senyum, hatinya perih, ia mendengar beberapa potong percakapan Azam dan Mama. Tatapan Mama juga ia bisa menafsirkannya.

"Iya, nggak papa."

Suasana mendadak hening Azam mengacak rambut lalu membetulkannya lagi. Ia merobek daun tanaman bunga menjadi kecil-kecil.

"Jangan bikin kotoran, kasihan anak-anak bersihkan lagi."

Azam menghentikan tangannya, ia tidak sanggup lagi menahan kelenjar lakrimal untuk keluar. Emosinya campur aduk bersamaan apa yang sedang dipikirikan. Pipinya pun basah.

"Menurut Mbak, aku harus gimana?" tanyanya seraya menyeka air mata.

"Apanya?" Arini balik bertanya.

"Kenapa Mbak bisa setenang ini? Padahal aku yakin, Mbak sedang tidak baik-baik saja karena sikap Mama tadi."

Arini membasahi bibirnya yang kering.

"Bukankah ini semakin membuat Mas Azam terluka?" 

Azam membetulkan posisi duduknya.

"Bukankah aku sudah bilang tidak bisa? Kenapa sangat keras kepala. Aku tidak mengingkan Mas Azam dalam hidupku." Arini berbicara seraya tatapannya menerawang ke depan.

"Katakan dengan melihatku!" pinta Azam parau.

Arini menggigit bibir atasnya. 

"Jangan menatapku seperti itu." Arini sedikit memiringkan badannya.

"Mbak, bohong kan?"

"Aku nggak bohong, aku serius dengan apa yang tadi terucap."

"Kalau begitu katakan dengan melihatku, sekali saja. Maka aku akan benar-benar pergi."

Bagaimana mungkin Arini sanggup menatap Azam, hatinya teramat perih mengingkari apa yang dirasa selama ini.

"Katakan Mbak!" 

Arini memutar badannya empat puluh lima derajat, sehingga tepat berhadapan dengan Azam. Sorot mata lelaki itu  membuat jantungnya berdesir hangat. 

'Aku harus mengakhiri ini, agar Azam tidak semakin terluka dan berharap banyak.'

"Aku tidak menginginkanmu, juga tidak membutuhkanmu dalam hidup." Jemari mungil nan lembut itu meremas gamis hitam yang ia kenakan.

"Apa sedikit pun tidak ada perasaan untuk saya?" Azam menjadi bicara dengan formal.

"Iya, tidak ada." 

Jantung Azam rasanya sudah pindah tempat menjadi di kepala. Ia bak tersambar petir, sendi di tubuhnya menjadi lemah. Ia duduk bersandar dan meringkuk.

Arini mengalihkan tatapannya.

"Maaf, saya permisi," ucap Arini meninggalkan Azam. 

Tanpa disadari pipi yang ranum dan dingin pun telah basah. Ia benar-benar tega kepada Azam juga dirinya sendiri.

Sejak hari itu, Azam tidak pernah menampakkan diri di hadapan Arini. Juga tidak membalas pesan Arini saat ia minta tanda tangan untuk laporan bulanan. Terpaksa ia meminta Rijal untuk menghubungi. Namun tetap tidak datang, Azam justru meminta Rijal untuk mengantarkannya ke pesantren.

"Rin, Azam kok nggak pernah nongol, apa dia sibuk banget?" Sally membuka percakapan di sore hari yang dingin. Magelang diguyur hujan, tidak lebat tapi lama.

"Kamu tanya aja ke dia, punya nomornya kan?"

Sally diam memperhatikan Arini yang sedang asyik mengetik novel keduanya. Ia merasa sesuatu telah terjadi di antara mereka.

"Temanya apa, Rin?" Sally mencoba mencairkan suasana.

"Rumah tangga."

"Wah, bakal segera naik pelaminan nih, Arini dan Azam." 

Arini menghentikan gerak tangannya, menatap Sally tajam. Sally meletakkan telunjuk di bibir, matanya melirik ke luar mendengar suara motor datang.

"Assalamu'alaikum."

"Oh, aku kira Azam, Jal."

"Jawab dulu salamnya."

"Oh, iya. Walaikumusalam."

Sally meringis menatap Rijal.

"Kamu ganteng banget sih, dek," ucap Sally, netranya masih mengikuti langkah Rijal.

"Jelas, adiknya siapa dulu," kelakar Rijal.

Sally dan Rijal tertawa. Arini bergeming tidak merespon apapun.

"Assalamu'alaikum."

Jantung Arini mencelos mendengar ucap salam dari seseorang yang sudah hapal suaranya, ia menoleh, tatapan mereka bertemu sejenak.

"Loh, Zam. Masuk gak ngucap salam." Sergah Sally.

"Sudah." Azam menjawab pelan.

"Kok lesu gitu, nggak nyapa yang di sana?" Sally menggoda.

"Jal, udah kamu kasihkan?" Azam tidak menjawab, ia justru membicarakan hal lain.

"Udah, Mas."

"Apaan?" tanya Sally pada Rijal dengan curiga.

"Berkas yang ditandatangani Mas Azam."

"Oh, kenapa nggak kamu kasih sendiri ke orangnya, tuh!" tunjuk Sally.

Azam bergeming.

"Kalian kenapa sih?"

Ruangan mendadak senyap, tidak ada yang menjawab pertanyaan Sally.

"Iih, ngeselin banget, deh!" Sally meletakkan buku yang ia baca dengan keras di atas meja.

"Katanya nggak boleh loh ndiemin orang lebih dari tiga hari."

Masih senyap.

"Zam, nggak boleh memutuskan silaturahmi. Arini, juga." Sally berkecak pinggang dan melotot.

"Bukan gitu Mbak, takut apa yang saya lakukan membuatnya tidak berkenan," jawab Azam seraya memasukkan barang ke dalam plastik besar.

"Mau di bawa ke mana itu?" tanya Sally lagi.

"Piknik."

"Ide bagus tuh, ayo minggu depan kita piknik!" ajak Sally.

"Wah bagus itu," sahut Rijal, "Gimana menurut Mas?"

"Silakan, lagian selama ini belum pernah diadakan, pasti anak-anak senang," terang Azam, "Tapi maaf, aku nggak bisa ikut."

"Loh, kenapa?" selidik Sally.

"Ada yang tidak suka dengan keberadaan saya," tutur Azam.

"Dia, maksudmu?" ucap Sally menggerakkan alisnya. "Ya, udah deket sama aku aja. Biar berasa princes didampingin dua pangeran ganteng. Gimana?"

"Siapa satunya?" celetuk Rijal.

"Kamulah." Sally menatap Rijal.

Rijal terbahak sedang Azam hanya tersenyum masam.

"Gimana menurutmu, Rin?" 

Arini diam tidak menjawab, Azam menatap dari kejauhan, ingin sekali mendengar suaranya yang membuat candu itu.

"Rin!" Pekik Sally.

"Aku belum menemukan jenis pita suaramu, Sal."

"Kenapa? Kurang kenceng? Hah!" Suara Sally naik satu tap.

Arini menyipitkan matanya, kepalanya sedikit pusing.

"Terserah kamu aja," ucap Arini pelan dan datar. Ia menutup laptopnya lalu beranjak dari tempatnya duduk.

"Ya udah aku pamit, ya. Assalamu'alaikum." Azam meninggalkan dua orang yang sama diamnya.

Tidak ada kata iya, hanya ada jawaban dari salam itu. Azam menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Matanya melirik ke arah Arini yang sedang duduk bersama tiga anak laki-laki, mereka tengah asyik memberi makan ikan. Ingin sekali rasanya ia menghampiri, namun tidak. Sebab melihat raut wajah Arini yang tampak baik-baik saja. Tidak ada perasaan sedih ataupun menyesal atas keputusannya menyikapi niat Azam.

Azam berjalan dengan perasaan hampa. Rasanya kaki tidak menapaki bumi lagi. Bagaimana tidak, perempuan yang sangat ia inginkan menolak untuk bersamanya. 



Bersambung ....


#novel

#demoistar

Halo, saya De Moi, seorang blogger pemula dan penulis di platform online.

Previous
Next Post »
Give us your opinion


EmoticonEmoticon