Novel Bab 3 Terjebak di Labirin Masa Lalu

Mei 26, 2022

Dua bulan berlalu sejak Azam datang ke Rumah Baca, tidak ada kontak dari dunia maya oleh dua manusia yang sedang dalam masa pemulihan hati. Sally dan Rijal menjadi perantara keduanya jika memang perlu untuk dibicarakan seputar kepentingan Rumah Baca. Masuk bulan ketiga, Rijal sahabat satu-satunya Azam mengontak Arini melalui pesan WhatsApp. Ia ingin menemui Arini, tapi tidak di Rumah Baca. Meski sebenarnya Rumah Baca juga tidak asing baginya.

["Assalamu'alaikum Mbak, ada banyak yang mau Zaky bicarakan. Kapan bisa punya waktu?] 

Keduanya sudah saling menyimpan kontak. Tentu memperkenalkan identitas tidak lagi diperlukan. Zaky juga sudah hapal bahwa Arini tidak suka dengan orang yang bertele-tele. 

["Waalaikumussalam, jum'at sore insyaallah."]

["Baik, di mana Mbak?"] 

["Di Rumah Baca, jam tiga siang."] 

["Siap. Makasih."] Emot senyum.

"Cieee ... chatan sama siapa tuh?" Tiba-tiba Sally mendekatkan wajahnya ke ponsel Arini.

"Zaky."

"Pindah ke lain hati?" selidiknya.

"Emang sebelumnya di hati siapa?" Arini tanya balik.

"Azam Cana." Sally mengambil posisi di sebelah kanan Arini.

 "Hm. Udah makan siang belum?"

"Nggak usah mengalihkan pembicaraan." jawab Sally ketus.

"Terus?"

"Kalian kenapa kok gitu?"

"Gitu gimana?"

"Diem-dieman. Udah dua bulan ini Azam nggak ke sini."

"Emang nggak ada yang mau diomongin, kok."

"Rin, kamu nggak kasian apa sama Azam?"

"Apa yang perlu dikasihani?"

"Kebiasaan deh, orang nanya, balik nanya," ketus Sally.

"Pertanyaan kamu tu, bikin orang jadi nanya balik."

"Aku males tau jadi perantara kalian ngobrol."

"Maaf, nggak lagi deh. Lagian ngobrol hal penting terkait Rumah Baca doang, kan?"

"Kamu, kan bisa chat sendiri."

"Nggak punya nomornya."

"Sini!" Sally merebut ponsel Arini.

Ia mengecek kontak Azam, dan memang tidak ada.

"Kamu hapus, ya?"

"Aku habis reset hape."

"Lah itu nomor Zaky ada. Nomor aku juga."

"Ya nggak tau, mungkin nomormu sama Zaky kesimpennya di card."

"Hm. Nih, aku balikin." Sally menyodorkan ponsel Arini.

Arini membuka bekal nasi, dan menyuap tanpa menawar orang yang berada di sebelahnya.

"Makan sendiri aja, nggak usah nawarin."

"Tadi aku ajak kamu, malah ngomongin orang."

"Sini, itu porsi untuk dua orang kan?"

Sally merebut bekal yang dipegang Arini. Ia melirik Sally.

"Rin, Azam sering makan bekal yang kamu bawain buat aku loh. Dia beli nasi bungkus, tapi dikasihkan ke aku. Terus, tukeran deh."

"Oh."

"O, iya. Aku lupa terus mau tanya ini?"

"Apaan?"

"Kata Dela, 'Mbak, waktu itu ada ibu cantik, agak mirip sama Kak Azam. Terus dia tu ... kayak gitulah. Nyebelin' emang siapa sih Rin? Ibunya Azam?"

"Iya."

"Terus gimana? Azam bawa Ibunya nemuin kamu?" selidik Sally.

Arini bergeming, menyuap cah kangkung.

"Tuh, kan. Si Azam tu serius sama kamu." 

"Kamu suka sama dia?" tanya Arini.

"Suka banget."

"Ya udah kamu aja yang nikah sama dia. Siapa tau Mamanya setuju."

"Eh, bukan itu maksudnya. Bentar ..., jadi Mamanya nggak setuju Azam sama kamu? Kenapa?"

"Aku rasa begitu."

"Kenapa?" ulang Sally.

"Aku rasa kamu tau jawabannya," jawab Arini.

Sally terdiam, ia menatap wajah Arini lalu pindah ke kaki. Seketika ia memeluk Arini. Hampir saja tumpah bekal yang sedang dipegangnya.

"Gue nggak suka kamu punya perasaan gitu," ucap Sally lembut.

Arini menarik napas berat. 

"Arini yang aku kenal itu hebat, nggak insecure."

Arini mengulas senyum, memencet hidung Sally yang mancung dan sedikit besar.

"Rin, kamu udah lapor polisi kan, kejadian waktu itu. Udah hampir dua tahun, ya?"

"Udah."

"Terus gimana?"

"Ya nggak gimana-gimana."

"Udah tau siapa pelakunya?"

Arini menggeleng. Ia sedang menyembunyikan tentang jejak pelaku. Ia belum memberi tau siapapun bahwa ada noda darah dan rekaman dari kodak yang dibelikan Pamannya saat berusia tujuh belas tahun, malam itu ia sengaja merekam sebab ingin tau apa yang sedang ia lakukan saat tengah malam. Karena Rijal pernah bilang, 'Mbak Arini sering tidur sambil jalan'.

Meski Arini terlihat tidak peduli dan tidak ambil pusing. Diam-diam ia mencari tau, penasaran dengan satu nama. 

"Aku pulang duluan ya, Rin!"

"Oke, hati-hati lintah."

"Hah! Lintah?"

"Udah kenyang, pergi." Arini tertawa melihat ekspresi Sally.

"Ih ... jahat!" Sally mendorong bahu Arini.

Lalu keduanya tertawa bersama. Mereka berpelukan sebelum akhirnya berpisah.

"Besok kamu janjian sama Zaky, kan?"

Arini mengangguk. Sally memanyunkan bibirnya.

"Kenapa?"

"Aku nggak bisa ke sini. Besok udah janjian sama beliau."

"Oh, gitu. Lagian aku nggak mengharapkan kamu ada, kok."

"Ish, sebel." Sally melengos memutar tubuh dan berjalan melenggang menuju motor maticnya.


***

Hari jumat pun tiba, ternyata Zaky datang lebih dulu. Ia menunggu seseorang di dalam kantor.

"Kakak!" teriak seorang anak perempuan seraya berlari.

'Itu pasti Arini' batin Zaky. Ia lalu memunculkan separuh kepalanya dari balik daun pintu.

Anak-anak sangat semangat jika bertemu Arini. Padahal sebenarnya, Arini kurang menyukai anak kecil. Tapi mereka semua nyaman dan senang bermain dengannya.

"Hai, assalamu'alaikum."

Mereka menjawab secara bersamaan salam Arini.

"Kalian baca buku dulu ya, ntar kakak tanya tentang isinya."

"Siap. Emang kakak mau ke mana?"

"Nemuin Kak Zaky."

"Oh, mau pacaran, ya?" Ledek salah satu anak.

"Pacaran itu nggak boleh dalam islam."

"Kenapa gitu? Kakak aku pacaran, pacarnya sering diajak ke rumah."

"Nanti kita bahas, ya. Kakak ke sana dulu, oke?"

"Oke, deh."

Arini berjalan memasuki kantor. Ruang terpisah dinding dengan perpustakaan, berukuran 4x3 meter.

"Zaky, di luar aja!" pinta Arini.

Ia merasa tidak nyaman jika harus satu ruang dengan laki-laki berdua saja.

"Oke."

Mereka duduk di kursi besi panjang yang ada di depan kantor. Arini mengambil dua air mineral  kemasan dari lemari pendingin.

"Udah dari tadi?" tanya Arini membuka percakapan.

"Tiga puluh menit, kira-kira."

"Saya terlambat lima menit dong, ya. Maaf."

"Nggak papa Mbak, cuma lima menit aja, kok."

Kerongkongan Arini terasa kering, ia menghabiskan air mineral dengan sekejap.

"Haus banget kayaknya." Zaky mencoba mencairkan suasana.

Arini tertawa kecil.

"Mau ngobrolin apa?"

Zaky diam sejenak.

"Soal Azam," sahutnya.

Raut wajah Arini seketika berubah.

Arini menatap dedaunan yang bergoyang ditiup angin.

"Ya, katakan." Ia mengambil satu lagi air mineral dari dalam lemari pendingin.

"Saya nggak tau harus mulai dari mana, belum ngomong rasanya udah nyesek duluan." Zaky menghela napas berat. Ia melipat lengan kemejanya.

"Allah tau batas kemampuan seseorang, makanya beban yang dipikul setiap orang itu beda. Dan sepertinya, kamu sedang mencoba  menanggung beban orang lain," tutur Arini, mengulas senyum lebar.

"Hari itu, dia ditemukan tergeletak di depan pintu gerbang pesantren. Bau alkohol yang menyengat. Sepertinya bukan hanya diminum, tapi juga untuk mandi. Pak Kyai meminta Kak Malik untuk mengantarnya pulang setelah sadar, tapi dia nggak mau. Mungkin karena nggak ada tempat buat dia pulang.

Setelah tinggal bersama dan saling bertukar cerita, dia menyimpan trauma masa lalu. Ya ... broken home menyebabkan seorang anak menjadi broken heart. Selama di pesantren, saya juga nggak pernah melihatnya mendekati perempuan. Saat di dalam ataupun di luar. Dia sangat membenci Mamanya, meski ... tentu saja ingin diperlakukan sebagai seorang anak, penuh kasih."

Arini dan Zaky bersamaan menghela napas lalu melengkungkan ujung bibirnya. 

"Mbak nggak mau tanya sesuatu?" tanya Zaky.

"Enggak. Hari ini, hanya ingin mendengarkan saja."

"Aku lanjut lagi, nih?"

Arini mengangguk.

"Saat dia berdecak kesal tiap kami membicarakan perempuan, tapi entah kenapa saya mulai merasa ada yang janggal, merasa bahwa dia telah terlalu sering pegang hape, dan jarang murojaah.

Diam-diam saya mengecek hapenya. Ternyata, dia sering berkirim pesan dengan seorang perempuan, nama kontaknya ... 'Ariniku'." Zaky melirik Arini yang masih menatap lurus ke depan.

"Lanjutkan." pinta Arini, hatinya berdesir hebat. Perih sekali rasanya.

"Mbak nggak curiga kalau ... bisa saja saya berbohong."

"Saya hanya percaya satu hal. Jika seorang hamba mencintai Tuhannya dengan betul, maka dia tidak akan melakukan perbuatan yang tidak disukai Tuhannya."

"Allah. Pantas saja kalau Azam menggila." Zaky bergumam.

"Maaf?" Arini ingin Zaky mengulanginya, sebab tidak terdengar dengan jelas.

"Ah, enggak. Saya lanjutkan. Saat itu juga saya memeriksa kontak. Azam kan idola di pesantren, bisa jadi kan ukhti-ukhti banyak mengirim pesan. Meski santri, tapi nggak menampik, mereka juga manusia.

Dan naasnya di kontak itu hanya ada nama Ariniku, Zaky, Kak Malik dan Abah. Aku nggak percaya. Bahkan dia nggak nyimpen nomor Mamanya sendiri."

"Mungkin sudah hapal." ucap Arini.

"Mungkin, dia juga bukan seorang yang tebar pesona. Meski itu sebenarnya pantas saja dilakukan olehnya. Tampan, berprestasi dan kebanggaan pesantren. Dia nggak pakai sosmed apapun.

Bahkan zaman secanggih ini dia berkirim pesan dengan Mbak hanya dengan pesan biasa. Dan ada hal yang membuatnya lebih sekarat dari pada menjauhi Mbak ... dia diminta menikahi putri Pak Kyai."

"Iya."

"Mbak tau soal ini?"

"Dia tidak mengatakan tentang dirinya, dia hanya berulang kali meminta diri saya."

Zaky menggaruk kepala yang tidak gatal. 

'Kenapa bilang iya, aduh misterius emang. Nggak bisa ditebak. Bener kata Azam.' Zaky bergumam dalam hati.

"Emang dasar!" Zaky tertawa kecil. Menanggapi kalimat Arini.

"Lanjutkan."

"Ternyata putri Kyai itu yang tergila-gila padanya. Kata Azam sih, Ning Soleha itu orangnya ambisius. Sedang Azam  juga nggak bisa nolak permintaan Kyai. Kalau saja perempuan itu yang bilang, dia bisa nolak. Tapi kalau sudah Kyai ... udah, iya aja."

Pernikahan mereka hanya tiga bulan lebih. Sampai akhirnya maut memisahkan. Putri Kyai meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dan herannya, saat mereka masih bersama, Azam justru membicarakan perempuan lain. Dia bilang begini. 'Aku nggak bisa sentuh Soleha selama dia masih ada di sini'." Zaky menyentuh dadanya sebelah kiri memperagakan Azam kala itu.

'Sungguh sangat berdosanya ia.' batin Arini.

"Azam saat ini seperti orang hidup segan mati juga nggak mau. Maaf, Azam cerita semua, hari terakhir bicara sama Mbak. Soal sikap Mamanya juga. Dia dalam kondisi yang memprihatinkan sekarang.

Saya juga minta maaf karena sering menemaninya menguntit Mbak Arini dulu. Jujur saya nggak menyesal, sebab melihat Azam yang sangat bersemangat menjalani hari setelah melihat Mbak dari kejauhan. Meski sekedar melihat saja.

Saya nggak pernah lihat laki-laki sepertinya, dengan fisik dan kepribadiannya, tentu dengan mudah menggaet perempuan. Namun apa yang dia lakukan setiap kali bertemu perempuan ... sikapnya dingin. Bahkan dia justru  bilang 'muak'."

"Diminum airnya!" Arini  membuatnya berhenti sejenak.

Zaky mengangguk. "Makasih minumnya Mbak."

Arini mengangguk mengulas senyum tipis.

"Boleh lanjut lagi Mbak?"

 "Ya."

"Sepertinya, Mbak satu-satunya perempuan yang membuat dia merasa bahagia dalam hidup. Tapi, sejak Mbak bilang 'nggak meninginkan dia dalam hidup' dia sangat hancur. Dia tidak mendengarkan nasihat siapapun.

Maaf, kalau Mbak berpikir saya sedang mempengaruhi. Jujur memang iya. Karena  besar harapan saya, Mbak bersedia menjadi teman hidup Azam. Membasuh lukanya, mencintainya sebagai seorang perempuan. Memberikan sesuatu yang belum pernah dia rasakan."

"Saya merasa tidak pantas, takut hanya jadi beban saja."

"Berarti Mbak sebenarnya juga mau, kan?" Zaky berubah bersemangat seketika.

Arini diam.

"Oke. Mungkin itu saja yang saya ceritakan hari ini, saya akan menyambungnya lain kali." Zaky menarik kesimpulan.

"Sebentar," cegah Arini.

"Iya?"

"Kecelakaan pesawat dua puluh empat Maret itu, kan?"

"Iya, jenazah sulit diidentifikasi karena hancur berkeping. Tapi tercatat bahwa Ning Soleha naik pesawat itu bersama keenam temannya."

Arini mengembus napas pelan.

"Nggak kerasa udah mau Asar. Saya segera balik pesantren kalau gitu Mbak. Makasih sudah meluangkan waktu. Saya permisi. Assalamu'alaikum."

"Ya. Walalaikumussalam."

Arini masih duduk di kursi cukup lama, sampai lamunannya pudar saat mendengar azan berkumandang. Dalam benaknya ingin sekali memeriksa siapa saja teman Soleha yang mengalami kecelakaan pesawat, untuk menemukan kebenaran.



Bersambung....


#novel

#demoistar

Halo, saya De Moi, seorang blogger pemula dan penulis di platform online.

Previous
Next Post »
Give us your opinion


EmoticonEmoticon