Novel Bab 5 Masih Sama

Juni 05, 2022 Add Comment

 

Hari pernikahan Sally telah tiba. Arini dan Rijal tiba lebih dulu, sebab mereka diminta untuk mendampingi ijab qobul. Suasana sakral yang membahagiakan kedua belah pihak mempelai. 

"Tuh, gue udah nikah, kita bakal nggak sesering dulu sama-sama. Lo cepetan nikah juga ya. Biar nanti kita bisa ngedate bareng."

Air mata Arini jatuh terkulai di pipinya yang ranum, dagu bulat miliknya seketika melancip, ujung bibir merah muda membentuk lengkungan simetris. Ia merengkuh tubuh sahabatnya itu.

"Semoga kamu selalu bahagia," ucap Arini, kemudian meletakkan kedua telapak tangannya ke pipi Sally.

"Makasih. Lo juga, bahagia terus dunia akhirat, ya."

"Aamiin."

Tentu saja dua sahabat itu tidak hanya bahagia tapi juga sangat sedih, sebab mereka akan jarang bertemu. Kabarnya Sally akan ikut suaminya ke Medan. 

"Ya udah sana, ganti baju, kan mau mejeng di depan banyak orang." Goda Arini seraya mencubit pipit tembam Sally.

"Lo makan dan minum dulu gih!"

"Siap, Ibu Sally."

Sally terkekeh dan melangkah pergi. Arini mematung cukup lama, memandang hiruk pikuk manusia. Ia menarik napas lalu memutar tubuhnya.

"Astaghfirullah." Jantungnya mencelos, hampir saja menabrak seseorang.

Arini tidak melihat itu siapa, matanya tertunduk karena tubuh laki-laki berdiri di depannya.

"Permisi." Arini mengambil jalur kiri.

Namun lelaki itu pun sama. Ia mencoba mengambil jalur kanan, lelaki itu pun melakukannya.

"Aku mau ngomong," ucap lelaki itu.

Arini hapal dengan suaranya. Ia berhenti dan diam. 

"Saya haus."

"Aku ambilkan!" 

"Saya mau ambil sendiri. Makasih. Permisi."

"Apa aku harus berlutut di depan semua orang?" ucapnya penuh penekanan.

"Mau ngomong apa lagi, Mas Azam?" Arini mendongak, setelah menarik napas panjang.

Azam menatap lembut mata Arini yang kesal. 

"Ya, udah, nggak jadi aja. Sepertinya emang nggak mau lagi ngomong sama aku." Mata Azam berkaca-kaca, suaranya bergetar.

Hati Arini rasanya sangat pedih. Kenapa Allah mempertemukan ia dengannya lagi. Azam menggeser posisi mempersilakan Arini pergi.

"Silakan!" ucap Azam pelan.

Arini menghela napas lagi.

"Mas Azam, mau bilang apa?"

Azam menggeleng, wajahnya tertunduk.

"Mau bilang hal yang sama?" tanya Arini kemudian.

Azam mengangguk seraya menggigit bibir bawahnya.

"Saran saya, jangan sia-siakan waktu hanya untuk hal ini. Saya yakin di luar sana banyak perempuan yang jauh lebih segalanya dari pada saya. Saya akan berdoa, semoga Mas Azam mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah." Arini mengulas senyum.

Azam membasahi bibirnya. "Oke. Kalau begitu, saya juga akan berdoa, agar Allah menjadikan Mbak jodoh terbaik saya."

"Tolong jangan halangi doa saya, Mas!" pinta Arini.

"Biarkan doa kita bertarung di langit, dan kita lihat, siapa yang akan jadi pemenangnya," ucap Azam, menantang, menatap Arini tajam lalu mundur perlahan.

Arini terdiam, menahan kelenjar lakrimal berdesakan keluar. Dadanya sesak, ia bersandar di dinding depan meja prasmanan.

"Mbak!"

"Hah." Arini terkejut saat Rijal menyentuh bahunya.

"Ngapain di sini?"

"Ng-nggak papa. Mau minum." Ia terbata membetulkan posisinya berdiri.

Rijal memperhatikan keanehan saudaranya itu. 

"Mau minum yang mana?"

"Air mineral aja."

Rijal mengambilkan, Arini menyedot dengan pipet sedikit dan menatap wajah adiknya itu.

"Makasih." Arini tersenyum lebar.

"Sama-sama. Ya udah, yuk kita ke sana!" Ajak Rijal.

Arini mengangguk.

"Apa kaki Mbak sakit?"

"Enggak kok."

"Ya, udah, ayo!" Rijal menggandeng tangannya. 

Arini  tidak lagi mendapati Azam setelah berbicara dengannya sebentar.

"Mbak ketemu Mas Azam?"

"Iya."

'Mungkin karena itu dia bersandar di dinding.' batin Rijal.

"Nah, itu Mas Azam sama Mas Zaky." Rijal menarik tangannya mengajak mendekati mereka.

Arini melepas genggaman Rijal.

"Kamu aja," ucapnya pelan.

Arini mencari tempat duduk yang kosong, melepas pegal di kaki dan pikirannya. Meminum kembali air mineral yang masih dipegang sejak tadi.

Tidak lama Rijal datang menghampiri. Namun Arini mendadak merasakan nyeri pada lututnya. 

"Mbak, kenapa?" Rijal mengkhawatirkan ekspresi Arini.

"Kaki Mbak, nyeri."

"Coba Mbak luruskan sini!" Rijal meraih kakinya dan meletakkan di atas pahanya.

"Udah, nggak papa. Malu diliat orang, numpangin kaki gitu."

Rijal jongkok dan memijat kaki Arini. Hati Azam dan Zaky berdesir melihat pemandangan itu. Mereka saling menatap. Mata Azam kembali berkaca-kaca.

"Mau ke sana?" Tawar Zaky.

"Udah ada Rijal," jawab Azam.

"Udah dek, gak papa. Nanti juga ilang sendiri nyerinya. Tadi kelamaan berdiri aja."

Rijal menatap Arini. Ia merasa saudaranya itu sedang tidak baik-baik saja.

"Mau pulang?"

"Masa iya pulang sekarang."

"Ya, nggak papa. Mbak Sally bakal ngertiin kok," tutur Rijal.

Arini diam tidak menanggapi. Ia melihat pengantin yang duduk bersanding tersenyum bahagia.

"Mbak?" Rijal khawatir Arini terkulai lemah seperti beberapa hari yang lalu. Untungnya itu di rumah.

"Bentar lagi." Arini menghabiskan air mineral yang tinggal seperempat.

"Mbak udah lama nggak check up." Rijal masih berceloteh.

Arini sering tidak menggubris permintaan Rijal untuk sering check up ke dokter biasanya.

"Nggak usah bahas itu di sini!" pinta Arini, "Dek, kita pulang aja yuk!" ajak Arini setelah ia merasa semakin tidak nyaman pada kaki dan hatinya.

"Iya, ayo!" 

Mereka pulang tidak pamit pada Sally ataupun orang tuanya. Hanya Rijal yang memberikan anggukan saat melihat Azam dan Zaky. Saat di halaman gedung menuju parkiran motor, Arini diam tidak bergerak.

"Mbak, ayo!" Rijal sudah hampir dekat ke motor.

Arini masih mematung, ia tidak bisa menggerakkan kaki kirinya. Rijal kembali mendekati.

"Mbak?" Rijal mulai panik.

"Kaki Mbak nggak bisa digerakin," ucap Arini pelan.

Tanpa berpikir panjang. Rijal menggendongnya sampai ke motor.

"Mbak masih bisa kan?"

"Iya. Tapi dudukkan ke atas motor sekalian."

Rijal terlihat repot mengurus Arini.

"Pegangan!" pinta Rijal.

Arini memegang pinggang Rijal erat. Sesekali ia menggigit bibirnya menahan ngilu.

"Mau ke mana?" Arini bertanya saat laju motor tidak melewati jalan menuju rumah.

"Rumah sakit."

"Nggak usah dek, pulang aja."

Rijal tidak menggubris Arini. Bagaimana mungkin ia akan baik-baik saja ketika saudaranya terluka.

Motor terparkir di halaman rumah sakit, Rijal membopong Arini langsung ke ruang dokter saraf. Qodarullah dokternya ada di ruangan. Arini segera ditangani dan berada di ruang rawat inap.

"Maaf Dok, gimana kaki Mbak Arini?" tanya Rijal.

"Karena lututnya yang retak, dia akan mengalami hal seperti ini. Sarafnya rusak. Dan tidak mudah untuk diperbaiki."

"Apa ... akan baik-baik saja?"

"Saya marah, karena dia ini belum pulih betul, kenapa nggak dibawa ke sini lagi. Sepertinya dia terlalu sering berjalan."

"Maaf Dok, Mbak Arini keras kepala."

Dokter menghela napas berat.

"Kalau tidak ditangani dengan benar, kaki kirinya bakal nggak bisa digunakan juga."

Deg. Arini yang sudah terbangun dari tidur dan mendengar lirih suara percakapan mereka di balik pintu kamar. Air merembas dari sudut matanya yang bulat dan berbulu lentik menghitam. Dadanya sesak. Segera ia usap ketika mendengar langkah kaki mendekatinya.

"Mbak, udah bangun. Mau makan sesuatu?" tawar Rijal mengulas senyum namun di hatinya berdesir pedih.

"Apel itu aja. Beli di mana?" Arini mencoba mencairkan suasana.

"Di pinggir jalan, banyak orang jualan buah dan makanan lain."

Arini mengangguk dan melengkungkan ujung bibirnya.

"Mbak, Mbak nurut sama Rijal ya. Mau ya dirawat di sini sampe bener-bener pulih," tutur Rijal seraya mengupas kulit apel dan membelahnya.

"Iya. Maaf ya, Mbak merepotkanmu."

"Hm. Makanya, biar nggak ngerepotin, kudu nurut. Mau terapi sampe sembuh. Dan kita akan pikirkan buat beli kaki palsu."

"Kaki palsu?"

"Iya, biar Mbak nggak capek pegang tongkat peyangga terus."

"Mahal nggak itu?"

"Belum tau."

Tentu saja Arini akan segera mencari tau dan memutuskan. Kalau mahal maka ia tetap memakai tongkat penyangga saja. Merasa tidak enak dan kasihan Rijal mencari uang dan repot mengurusinya.

"Kira-kira, berapa lama Mbak di sini?"

"Belum tau juga."

"Adek bilang Sally nggak?"

"Belum bilang."

"Nggak usah bilang, nanti dia khawatir. Kan pengantin baru."

"Iya." 

"Nggak bilang siapapun kan?"

"Bilang."

"Sama siapa?"

"Mas Azam."

"Hm. Kamu ini." Dengus Arini kesal. "Mbak nggak mau nemuin siapapun. Lagian ngapain coba pake laporin ke orang segala."

"Nggak laporan sih, Mas Azam tadi nelpon. Ya udah, Rijal kasih tau, kan dia nanya."  Rijal meringis tanpa dosa. "Nanti Rijal bilangin buat nggak usah jenguk Mbak, deh!" imbuhnya lagi.

"Besok bawain laptop Mbak ke sini ya. Sama beberapa buku yang masih tersegel di meja kamar." Ia mengalihkan pikiran dan pembicaraan.

"Oke siap. Quran, nggak?"

"Kalo itu sih selalu ada di tas." Arini menunjuk tas yang ia bawa saat menghadiri pernikahan Sally.

"Oke. Nih!" Rijal memberikan apel yang sudah dikupas kepada Arini. "Aku mau keluar bentar."

Sebentarnya Rijal itu bisa dua kali dua puluh empat jam. Ia berencana pulang untuk mengambil laptop dan beberapa buku. Ia tidak akan menunggu besok kalau Arini yang minta. Malam ini juga akan ada orang yang menggantikannya menjaga Arini di rumah sakit. 

Arini mengangguk melempar pandangan ke langit kamar inap. Ia akan mengurangi kebosanan dengan menulis dan baca buku. Pikirnya.



Bersambung....


#Novel

#desmoistar