Loading...
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen Pilihan Tepat Wanita Cermat

November 05, 2021 Add Comment

Siang ini hujan turun cukup lama, selokan mulai penuh dan melimpar, halaman kampus menjadi tergenang air. Aku duduk di bangku teras kelas begitu menikmati aroma khas dari hujan, airnya mengenai apapun yang ada di sekitar. Suara brisik obrolan dua orang di kiri dan kananku, menjadi melodi menyusup antara rintik air yang jatuh dari langit. 

Sebab merasa sebagai penghalang, aku berdiri tapi bukan untuk pergi hanya pindah tempat saja, biar mereka berdua bicara dengan leluasa.

“Eh Mel, mau ke mana?”

“Kamu sebelah sana.” Aku menyuruh Siska duduk di samping Diana, “Biar aku tak jadi orang ketiga dan penghalang cinta kalian.”

“Hahaha.” Mereka berdua kompak tertawa.

“Kenapa?” Aku menampakkan wajah datar dan mereka menjadi semakin terbahak. Aku melengos mendekap kedua tangan. Hujan ternyata memberi efek dingin pada tubuh.

“Mela tu lagi ngayal.” Bisik Siska ke Diana terdengar jelas.

“Seru lho!” Aku mencebilkan bibir ke mereka.

“Haha, dasar aneh.” Siska menepak bahuku, rasanya enak seperti dipijat.

“Lagi donk.” Kataku kemudian.

“Apanya?”

“Bahuku lagi pegal, abis nyuci seabrek pagi tadi.”

“Dih, dasar.” Diana ikut memukul bahuku.

“Jadi main keroyokan nih.” Kami semua tertawa. Tiba-tiba ingat Dewi, “Eh, kriting mana ya?” Siska celingukan. 

Kami memanggilnya keriting, karena rambutnya yang keriting seperti mie. Namun tak terlihat sebab ia selalu memakai kerudung ketika bepergian. Panggilan ini kami sepakat hanya digunakan saat berempat saja. Ketika bersama orang lain kami memanggil dengan sebutan nama.

Sebenarnya masing-masing punya nama julukan, panggilan sayang katanya. Ini muncul begitu saja saat tengah makan di kantin Darma lantai satu kampus. Semua  gara-gara Siska. Dewi selalu memesan mie di kantin, akhirnya Siska spontan bilang ‘dasar keriting makan mie mulu’. 

Sedangkan Diana orangnya kalau melakukan sesuatu harus perfect, gak boleh ada kesalahan. Misal dalam penyusunan makalah, penggunaan huruf, susunan kata dan prosedur penulisan harus sempurna, meski yang tukang ketik itu aku.

Sikap yang berbeda daripada yang lain ketika menghadapi sesuatu, seperti keadaan tegang saat ujian, justru tertawa melihat ekspresi mereka. Ketika dimarah sedih, justru tersenyum dan bilang ‘ya karna memang aku yang salah’. Suka tiba-tiba diam, tertawa sendiri. Dan karena keperfectannya seorang teman, sering membuat kesal, tapi tetap enjoy dan merasa baik-baik saja. Sebab inilah Siska menyebutku si aneh.

Nah kalau Siska, kami bertiga menyebutnya cerewet, karena apa yang di lakukan temannya selalu dikomentari. Komentarnya mengandung kebaikan sih, tapi menciptakan kebisingan.

Dewi si kriting, Siska si cerewet, Diana si perfect dan aku Mela si aneh.

Dewi datang seraya memegang perut, wajahnya nampak pucat seperti belum sarapan. Tangannya dingin, kami curiga dia patah hati akut, sebab kemarin dia diputusin pacarnya. Parahnya lagi, saat dia curhat, kami seolah janjian bilang ‘Alhamdulillah’.

“Kamu kenapa Dew?” Diana menghampirinya lalu memegang lengan Dewi memapah mendekati kami.

“Kita bawa ke UKS aja. Yok.” Aku meraih tangan Dewi, disusul Siska dan Diana.

UKS kampus berada di lantai satu. Sesampai di sana aku meminta petugas kesehatan untuk memberikan sesuatu biar sakit di perut hilang dan staminanya pulih kembali.

Qodarullah dokter ada di tempat, jadi kami juga bisa konsultasi untuk Dewi yang selalu merasa sakit ketika haid. Setelah minum paracetamol Dewi tak lagi menekan perutnya dan keringetan.

“Nanti di rumah coba buat obat herbal sendiri, bisa dicatet takutnya lupa.” Dokter cantik ini meminta kami untuk mencatatnya.

“Kunyit 2 jempol, jahe satu jempol, sereh 1 batang. Kemudian direjang halus masukkan juga asam jawa dan gula aren secukupnya. Direbus sampai mendidih, minumnya dalam keadaan hangat ya.” Suaranya lembut, dengan bahasa yang tertata dan lugas, nampak betul bahwa ia orang berpendidikan tinggi.

“Manfaatnya buat ngilangin nyeri haid ya Dok?” Tanyaku setelah selesai menulis resep.

“Itu bisa untuk keputihan, haid yang tidak teratur atau yang tidak haid, haid yang disertai nyeri dan juga bisa untuk progam hamil.”

Kami mengangguk kompak.

“Wah, ternyata... Baru tau.” Kami saling pandang, ilmu baru kami dapatkan dari seorang dokter hari ini, siap mempraktikkannya.

Nyeri haid menjadi keluhan para wanita, meski tak semua tapi sebagian besar begitu. Hanya saja tingkat rasa sakitnya berbeda.

Kami kembali ke kelas, hujan mulai reda, tinggal rintik kecil saja, namun menyisakan air yang banyak di halaman kampus. Butuh waktu untuk air itu menyusut dan habis meresap ke tanah. Pelataran yang sudah rata dengan bata tertata rapi, membuat air lama meresap. Selokan juga jarang dibersihkan, banyak sampah di dalamnya.

Dosen jam kedua pun tak datang. Mungkin karena hujan. Kami harus menunggu lagi, masih dengan harapan.

Tempat duduknya sudah terisi karena ditinggalkan ke bawah. Kami masuk dan duduk di dalam. Tiga jam sudah kami di kampus ini.

“Eh Dew, kamu pake pembalut apa sih?” Aku bertanya setelah semua duduk dan memakan jajanan kripik pisang yang dibawa Diana dari rumahnya.

“Pembalut biasanya, sekali pakai itu. Beli di warung”

“Kamu mau nggak nyoba pembalut yang biasa aku pakai, aku pernah nunjukin ke kamu kan?”

“Iya, tapi kok mahal sih.”

“Mahal di awal, kamu cukup beli sekali aja. Kalo diitung-itung jatuhnya lebih hemat Dew. aku pake aja udah dua tahun ini dan masih bagus. Aku gak lagi ngelaurin duit tiap bulan buat beli pespak.”

Diana dan Siska saling senggol, Siska bilang. “Promosi.” Diana mengangguk-angguk.

Aku tertawa. “Diana pake juga kan?” Aku melakukan aksi testimoni.

“Iya, enak, ada anti bocornya jadi gak takut tembus, aku juga gak ngerasaain iritasi lagi, gatal, ruam, semua bye-bye deh.”

Kami semua tertawa. Sepertinya Diana juga jago marketing, buktinya aku tergoda membeli skincare yang dia jual.

“Tapi serius deh, kamu coba aja dulu, nanti buktiin sendiri. Lagian sebagai anak geografi kita juga harus memperhatikan dan menjaga lingkungan. Berdasarkan penelitian, sampah pembalut mencapai 26 ton perhari. Satu perempuan bisa sampe 9000 menghasilkan sampah pembalut seumur hidupnya. Satu sampah pembalut aja liatnya aja gimana gitu, apalagi sampe segitu banyaknya. Kebayang gak sih. Sampahnya dibakar jadi polusi, dibuang bisa mencemari air, dikubur butuh ratusan tahun untuk bisa terurai. Ngeri kan?”

“Oh My God.” Siska kambuh nyeletuknya. “Mantap Mel, aku mau beli juga, tapi bayar nyicil boleh?”

“Gak papa, boleh banget. Asal gak ada tawar harga.” Jawabku santai.

Lagi-lagi kami tertawa. 

“Iya, inget ceramah yang kita tonton waktu itu, harus mendukung usaha teman, dengan membeli pake harga normal.” Kami mengangguk membenarkan celoteh Diana.

“Ntar ambil aja di rumah, aku punya stok tiga paket. Emang kok pas haid kita dianjurin pake pembalut kain, atau celana dalam menstruasi ada juga menstrual cup.”

“Apaan menstrual cup?” Siska mengajukan pertanyaan seperti sedang kumur-kumur, mulutnya penuh dengan makanan.

Aku menunjukkan gambar dan penjelasan tentang menstrual cup, mereka membacanya sendiri.

“Aku pake pembalut yang kayak kamu ajalah Mel, ngeri aku.” Kata Dewi setelah membacanya.

“Hahaha, terserah, aku kan cuma nunjukin opsinya aja. Ngeri tu karna kita belum pernah nyoba. Bagi yang udah biasa, nyaman-nyaman aja.”

“Iya sih.” Katanya kemudian.

“Tapi aku tu suka jijik juga nyucinya Mel.”

“Ck, kamu ini Dew, darah haid sendiri aja jijik. Emang kalo kamu pake yang sekali pakai gak dicuci dulu ya, langsung buang gitu?”

“Kuinjek-injek pake kaki, masuk plastik terus buang.” Jawab Dewi seraya menggerakkan kakinya.

“Hmmm, terlalu.”

“Setan seneng banget itu,” Siska nyeletuk.

“Ih.” Dewi meringis.

Jualan itu bukan soal berapa jumlah angka yang mengalir ke rekening kita, tapi seberapa bermanfaatnya untuk banyak orang. Apalagi para wanita harus menjaga kesehatannya dengan memakai produk yang aman dan ramah lingkungan. 

Pembalut sekali pakai mengandung pemutih dan ini sangat membahayakan para wanita yang memakainya, pemutih mengendap bisa menimbulkan penyakit berbahaya, seperti kanker serviks, yang membunuh banyak wanita di Indonesia.

Menjaga kesehatan adalah bentuk mencintai diri.



_SELESAI_