Loading...
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Terjebak di Labirin Masa Lalu

Mei 26, 2022 Add Comment

Dua bulan berlalu sejak Azam datang ke Rumah Baca, tidak ada kontak dari dunia maya oleh dua manusia yang sedang dalam masa pemulihan hati. Sally dan Rijal menjadi perantara keduanya jika memang perlu untuk dibicarakan seputar kepentingan Rumah Baca. Masuk bulan ketiga, Rijal sahabat satu-satunya Azam mengontak Arini melalui pesan WhatsApp. Ia ingin menemui Arini, tapi tidak di Rumah Baca. Meski sebenarnya Rumah Baca juga tidak asing baginya.

["Assalamu'alaikum Mbak, ada banyak yang mau Zaky bicarakan. Kapan bisa punya waktu?] 

Keduanya sudah saling menyimpan kontak. Tentu memperkenalkan identitas tidak lagi diperlukan. Zaky juga sudah hapal bahwa Arini tidak suka dengan orang yang bertele-tele. 

["Waalaikumussalam, jum'at sore insyaallah."]

["Baik, di mana Mbak?"] 

["Di Rumah Baca, jam tiga siang."] 

["Siap. Makasih."] Emot senyum.

"Cieee ... chatan sama siapa tuh?" Tiba-tiba Sally mendekatkan wajahnya ke ponsel Arini.

"Zaky."

"Pindah ke lain hati?" selidiknya.

"Emang sebelumnya di hati siapa?" Arini tanya balik.

"Azam Cana." Sally mengambil posisi di sebelah kanan Arini.

 "Hm. Udah makan siang belum?"

"Nggak usah mengalihkan pembicaraan." jawab Sally ketus.

"Terus?"

"Kalian kenapa kok gitu?"

"Gitu gimana?"

"Diem-dieman. Udah dua bulan ini Azam nggak ke sini."

"Emang nggak ada yang mau diomongin, kok."

"Rin, kamu nggak kasian apa sama Azam?"

"Apa yang perlu dikasihani?"

"Kebiasaan deh, orang nanya, balik nanya," ketus Sally.

"Pertanyaan kamu tu, bikin orang jadi nanya balik."

"Aku males tau jadi perantara kalian ngobrol."

"Maaf, nggak lagi deh. Lagian ngobrol hal penting terkait Rumah Baca doang, kan?"

"Kamu, kan bisa chat sendiri."

"Nggak punya nomornya."

"Sini!" Sally merebut ponsel Arini.

Ia mengecek kontak Azam, dan memang tidak ada.

"Kamu hapus, ya?"

"Aku habis reset hape."

"Lah itu nomor Zaky ada. Nomor aku juga."

"Ya nggak tau, mungkin nomormu sama Zaky kesimpennya di card."

"Hm. Nih, aku balikin." Sally menyodorkan ponsel Arini.

Arini membuka bekal nasi, dan menyuap tanpa menawar orang yang berada di sebelahnya.

"Makan sendiri aja, nggak usah nawarin."

"Tadi aku ajak kamu, malah ngomongin orang."

"Sini, itu porsi untuk dua orang kan?"

Sally merebut bekal yang dipegang Arini. Ia melirik Sally.

"Rin, Azam sering makan bekal yang kamu bawain buat aku loh. Dia beli nasi bungkus, tapi dikasihkan ke aku. Terus, tukeran deh."

"Oh."

"O, iya. Aku lupa terus mau tanya ini?"

"Apaan?"

"Kata Dela, 'Mbak, waktu itu ada ibu cantik, agak mirip sama Kak Azam. Terus dia tu ... kayak gitulah. Nyebelin' emang siapa sih Rin? Ibunya Azam?"

"Iya."

"Terus gimana? Azam bawa Ibunya nemuin kamu?" selidik Sally.

Arini bergeming, menyuap cah kangkung.

"Tuh, kan. Si Azam tu serius sama kamu." 

"Kamu suka sama dia?" tanya Arini.

"Suka banget."

"Ya udah kamu aja yang nikah sama dia. Siapa tau Mamanya setuju."

"Eh, bukan itu maksudnya. Bentar ..., jadi Mamanya nggak setuju Azam sama kamu? Kenapa?"

"Aku rasa begitu."

"Kenapa?" ulang Sally.

"Aku rasa kamu tau jawabannya," jawab Arini.

Sally terdiam, ia menatap wajah Arini lalu pindah ke kaki. Seketika ia memeluk Arini. Hampir saja tumpah bekal yang sedang dipegangnya.

"Gue nggak suka kamu punya perasaan gitu," ucap Sally lembut.

Arini menarik napas berat. 

"Arini yang aku kenal itu hebat, nggak insecure."

Arini mengulas senyum, memencet hidung Sally yang mancung dan sedikit besar.

"Rin, kamu udah lapor polisi kan, kejadian waktu itu. Udah hampir dua tahun, ya?"

"Udah."

"Terus gimana?"

"Ya nggak gimana-gimana."

"Udah tau siapa pelakunya?"

Arini menggeleng. Ia sedang menyembunyikan tentang jejak pelaku. Ia belum memberi tau siapapun bahwa ada noda darah dan rekaman dari kodak yang dibelikan Pamannya saat berusia tujuh belas tahun, malam itu ia sengaja merekam sebab ingin tau apa yang sedang ia lakukan saat tengah malam. Karena Rijal pernah bilang, 'Mbak Arini sering tidur sambil jalan'.

Meski Arini terlihat tidak peduli dan tidak ambil pusing. Diam-diam ia mencari tau, penasaran dengan satu nama. 

"Aku pulang duluan ya, Rin!"

"Oke, hati-hati lintah."

"Hah! Lintah?"

"Udah kenyang, pergi." Arini tertawa melihat ekspresi Sally.

"Ih ... jahat!" Sally mendorong bahu Arini.

Lalu keduanya tertawa bersama. Mereka berpelukan sebelum akhirnya berpisah.

"Besok kamu janjian sama Zaky, kan?"

Arini mengangguk. Sally memanyunkan bibirnya.

"Kenapa?"

"Aku nggak bisa ke sini. Besok udah janjian sama beliau."

"Oh, gitu. Lagian aku nggak mengharapkan kamu ada, kok."

"Ish, sebel." Sally melengos memutar tubuh dan berjalan melenggang menuju motor maticnya.


***

Hari jumat pun tiba, ternyata Zaky datang lebih dulu. Ia menunggu seseorang di dalam kantor.

"Kakak!" teriak seorang anak perempuan seraya berlari.

'Itu pasti Arini' batin Zaky. Ia lalu memunculkan separuh kepalanya dari balik daun pintu.

Anak-anak sangat semangat jika bertemu Arini. Padahal sebenarnya, Arini kurang menyukai anak kecil. Tapi mereka semua nyaman dan senang bermain dengannya.

"Hai, assalamu'alaikum."

Mereka menjawab secara bersamaan salam Arini.

"Kalian baca buku dulu ya, ntar kakak tanya tentang isinya."

"Siap. Emang kakak mau ke mana?"

"Nemuin Kak Zaky."

"Oh, mau pacaran, ya?" Ledek salah satu anak.

"Pacaran itu nggak boleh dalam islam."

"Kenapa gitu? Kakak aku pacaran, pacarnya sering diajak ke rumah."

"Nanti kita bahas, ya. Kakak ke sana dulu, oke?"

"Oke, deh."

Arini berjalan memasuki kantor. Ruang terpisah dinding dengan perpustakaan, berukuran 4x3 meter.

"Zaky, di luar aja!" pinta Arini.

Ia merasa tidak nyaman jika harus satu ruang dengan laki-laki berdua saja.

"Oke."

Mereka duduk di kursi besi panjang yang ada di depan kantor. Arini mengambil dua air mineral  kemasan dari lemari pendingin.

"Udah dari tadi?" tanya Arini membuka percakapan.

"Tiga puluh menit, kira-kira."

"Saya terlambat lima menit dong, ya. Maaf."

"Nggak papa Mbak, cuma lima menit aja, kok."

Kerongkongan Arini terasa kering, ia menghabiskan air mineral dengan sekejap.

"Haus banget kayaknya." Zaky mencoba mencairkan suasana.

Arini tertawa kecil.

"Mau ngobrolin apa?"

Zaky diam sejenak.

"Soal Azam," sahutnya.

Raut wajah Arini seketika berubah.

Arini menatap dedaunan yang bergoyang ditiup angin.

"Ya, katakan." Ia mengambil satu lagi air mineral dari dalam lemari pendingin.

"Saya nggak tau harus mulai dari mana, belum ngomong rasanya udah nyesek duluan." Zaky menghela napas berat. Ia melipat lengan kemejanya.

"Allah tau batas kemampuan seseorang, makanya beban yang dipikul setiap orang itu beda. Dan sepertinya, kamu sedang mencoba  menanggung beban orang lain," tutur Arini, mengulas senyum lebar.

"Hari itu, dia ditemukan tergeletak di depan pintu gerbang pesantren. Bau alkohol yang menyengat. Sepertinya bukan hanya diminum, tapi juga untuk mandi. Pak Kyai meminta Kak Malik untuk mengantarnya pulang setelah sadar, tapi dia nggak mau. Mungkin karena nggak ada tempat buat dia pulang.

Setelah tinggal bersama dan saling bertukar cerita, dia menyimpan trauma masa lalu. Ya ... broken home menyebabkan seorang anak menjadi broken heart. Selama di pesantren, saya juga nggak pernah melihatnya mendekati perempuan. Saat di dalam ataupun di luar. Dia sangat membenci Mamanya, meski ... tentu saja ingin diperlakukan sebagai seorang anak, penuh kasih."

Arini dan Zaky bersamaan menghela napas lalu melengkungkan ujung bibirnya. 

"Mbak nggak mau tanya sesuatu?" tanya Zaky.

"Enggak. Hari ini, hanya ingin mendengarkan saja."

"Aku lanjut lagi, nih?"

Arini mengangguk.

"Saat dia berdecak kesal tiap kami membicarakan perempuan, tapi entah kenapa saya mulai merasa ada yang janggal, merasa bahwa dia telah terlalu sering pegang hape, dan jarang murojaah.

Diam-diam saya mengecek hapenya. Ternyata, dia sering berkirim pesan dengan seorang perempuan, nama kontaknya ... 'Ariniku'." Zaky melirik Arini yang masih menatap lurus ke depan.

"Lanjutkan." pinta Arini, hatinya berdesir hebat. Perih sekali rasanya.

"Mbak nggak curiga kalau ... bisa saja saya berbohong."

"Saya hanya percaya satu hal. Jika seorang hamba mencintai Tuhannya dengan betul, maka dia tidak akan melakukan perbuatan yang tidak disukai Tuhannya."

"Allah. Pantas saja kalau Azam menggila." Zaky bergumam.

"Maaf?" Arini ingin Zaky mengulanginya, sebab tidak terdengar dengan jelas.

"Ah, enggak. Saya lanjutkan. Saat itu juga saya memeriksa kontak. Azam kan idola di pesantren, bisa jadi kan ukhti-ukhti banyak mengirim pesan. Meski santri, tapi nggak menampik, mereka juga manusia.

Dan naasnya di kontak itu hanya ada nama Ariniku, Zaky, Kak Malik dan Abah. Aku nggak percaya. Bahkan dia nggak nyimpen nomor Mamanya sendiri."

"Mungkin sudah hapal." ucap Arini.

"Mungkin, dia juga bukan seorang yang tebar pesona. Meski itu sebenarnya pantas saja dilakukan olehnya. Tampan, berprestasi dan kebanggaan pesantren. Dia nggak pakai sosmed apapun.

Bahkan zaman secanggih ini dia berkirim pesan dengan Mbak hanya dengan pesan biasa. Dan ada hal yang membuatnya lebih sekarat dari pada menjauhi Mbak ... dia diminta menikahi putri Pak Kyai."

"Iya."

"Mbak tau soal ini?"

"Dia tidak mengatakan tentang dirinya, dia hanya berulang kali meminta diri saya."

Zaky menggaruk kepala yang tidak gatal. 

'Kenapa bilang iya, aduh misterius emang. Nggak bisa ditebak. Bener kata Azam.' Zaky bergumam dalam hati.

"Emang dasar!" Zaky tertawa kecil. Menanggapi kalimat Arini.

"Lanjutkan."

"Ternyata putri Kyai itu yang tergila-gila padanya. Kata Azam sih, Ning Soleha itu orangnya ambisius. Sedang Azam  juga nggak bisa nolak permintaan Kyai. Kalau saja perempuan itu yang bilang, dia bisa nolak. Tapi kalau sudah Kyai ... udah, iya aja."

Pernikahan mereka hanya tiga bulan lebih. Sampai akhirnya maut memisahkan. Putri Kyai meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dan herannya, saat mereka masih bersama, Azam justru membicarakan perempuan lain. Dia bilang begini. 'Aku nggak bisa sentuh Soleha selama dia masih ada di sini'." Zaky menyentuh dadanya sebelah kiri memperagakan Azam kala itu.

'Sungguh sangat berdosanya ia.' batin Arini.

"Azam saat ini seperti orang hidup segan mati juga nggak mau. Maaf, Azam cerita semua, hari terakhir bicara sama Mbak. Soal sikap Mamanya juga. Dia dalam kondisi yang memprihatinkan sekarang.

Saya juga minta maaf karena sering menemaninya menguntit Mbak Arini dulu. Jujur saya nggak menyesal, sebab melihat Azam yang sangat bersemangat menjalani hari setelah melihat Mbak dari kejauhan. Meski sekedar melihat saja.

Saya nggak pernah lihat laki-laki sepertinya, dengan fisik dan kepribadiannya, tentu dengan mudah menggaet perempuan. Namun apa yang dia lakukan setiap kali bertemu perempuan ... sikapnya dingin. Bahkan dia justru  bilang 'muak'."

"Diminum airnya!" Arini  membuatnya berhenti sejenak.

Zaky mengangguk. "Makasih minumnya Mbak."

Arini mengangguk mengulas senyum tipis.

"Boleh lanjut lagi Mbak?"

 "Ya."

"Sepertinya, Mbak satu-satunya perempuan yang membuat dia merasa bahagia dalam hidup. Tapi, sejak Mbak bilang 'nggak meninginkan dia dalam hidup' dia sangat hancur. Dia tidak mendengarkan nasihat siapapun.

Maaf, kalau Mbak berpikir saya sedang mempengaruhi. Jujur memang iya. Karena  besar harapan saya, Mbak bersedia menjadi teman hidup Azam. Membasuh lukanya, mencintainya sebagai seorang perempuan. Memberikan sesuatu yang belum pernah dia rasakan."

"Saya merasa tidak pantas, takut hanya jadi beban saja."

"Berarti Mbak sebenarnya juga mau, kan?" Zaky berubah bersemangat seketika.

Arini diam.

"Oke. Mungkin itu saja yang saya ceritakan hari ini, saya akan menyambungnya lain kali." Zaky menarik kesimpulan.

"Sebentar," cegah Arini.

"Iya?"

"Kecelakaan pesawat dua puluh empat Maret itu, kan?"

"Iya, jenazah sulit diidentifikasi karena hancur berkeping. Tapi tercatat bahwa Ning Soleha naik pesawat itu bersama keenam temannya."

Arini mengembus napas pelan.

"Nggak kerasa udah mau Asar. Saya segera balik pesantren kalau gitu Mbak. Makasih sudah meluangkan waktu. Saya permisi. Assalamu'alaikum."

"Ya. Walalaikumussalam."

Arini masih duduk di kursi cukup lama, sampai lamunannya pudar saat mendengar azan berkumandang. Dalam benaknya ingin sekali memeriksa siapa saja teman Soleha yang mengalami kecelakaan pesawat, untuk menemukan kebenaran.



Bersambung....


#novel

#demoistar

Sama-sama Getir

Mei 24, 2022 Add Comment


Dua hari Arini tidak datang ke Rumah Baca. Azam pun begitu, ia sibuk membantu pekerjaan di bengkel milik Abah. Sabtu dan minggu memang diliburkan. Anak-anak akan datang kalau pintu gerbang terlihat terbuka. Tapi hari ini mereka tiba di sana bersamaan. Arini bersama Sally dan Azam sendiri. 

Azam menyapa Sally dan mengabaikan keberadaan Arini. Arini juga tidak ambil pusing, ia melewati Azam dan masuk ke perpustakaan mini untuk melanjutkan pekerjaannya dua hari yang lalu. 

Azam juga ikut masuk, tapi ia menuju sofa lalu menghidupkan televisi berukuran besar yang biasa digunakan untuk menonton bersama anak-anak. Ia menghidupkan lagu-lagu islami dengan suara yang keras. Pagi ini masih sepi, karena masih jam sekolah. 

Tiba-tiba Sally mendekati Azam seraya berkecak pinggang.

"Zam!"

Azam bergeming dan matanya fokus pada televisi

"Azam!" pekik Sally.

"Hm."

"Kamu kok nggak bantuin Arini, sih!"

Azam tidak menyahut, ia justru menggoyangkan kakinya.

"Zam! Kecilin dikit napa? Berisik tau!"

"Mbak, ntar kalo udah punya anak, di rumah juga bakal berisik."

"Iya, tapi nggak sekeras ini juga kali suaranya!"

"Biarin, biar nggak sepi."

Sally mendekat dan meraih dengan cepat remote televisi di atas meja. Ia menekan tombol merah lalu layar yang dilihat Azam seketika menghitam.

"Bantuin Arini, sana!"

"Lah, terus Mbak ngapain?"

"Aku mau nyiram bunga."

"Alasan."

"Bantuin Arini, Zam!" Nada Sally meninggi.

"Dia bisa sendiri, nggak butuh orang lain," jawab Azam ketus.

"Astaga. Ya udah, kamu siram bunga aja di luar!"

"Nggak, aku sedang malas."

"Allahu akbar, Azam!" Sally melempar remote televisi ke Azam yang masih duduk dengan posis semula, "Mentang-mentang Rumah Baca ini kamu yang bangun, lagaknya udah kayak bos aja." Sally bicara selalu ceplas ceplos dan tepat sasaran.

"Masa sih!" Azam tertawa kecil.

"Nyebelin!" Decak Sally makin kesal.

"Udahlah Sal!" Arini angkat bicara.

"Kamu  juga! Manusia itu butuh manusia lain. Pantes aja jadi jomlo karatan."

"Allah, apa hubungannya Sal?" Arini protes.

Azam tertawa geli. Sally meliriknya lantas pergi keluar.

Dua puluh menit kemudian, terdengar suara langkah mendekati Arini.

"Sal, kamu beliin pesenan aku nggak?" 

"Pesen apa ke Sally?"

Arini menghentikan tangannya yang sejak tadi mengetik dan membolak balik buku. Sorot mata Azam yang lembut membuat hatinya seketika hangat.

"Pesen apa?" Ulang Azam dengan lembut.

"Donat," jawabnya pelan dan mengalihkan tatapannya pada Azam.

"Beli di mana? Biar aku belikan."

"Aku udah pesen Sally, sepertinya dia lupa  karena marah-marah nggak jelas tadi."

Azam tertawa. 

Azam tertawa, "Oke." Ia mengangguk.

Setelah jeda beberapa detik ia berbicara kembali.

"Aku mau ajak Mbak nemuin Mama." Azam selalu to the point ke Arini, sebab ia memang tidak pandai basa-basi. Ia juga kadang berbicara formal.

"Hah!"

"Iya."

"Ngapain?"

"Minta restu."

"Restu?"

Azam mengangguk.

"Kita menikah."

"Memangnya saya bilang, iya?"

"Ngomongnya pake aku--kamu aja, jangan saya."

Arini melengkungkan ujung bibirnya.

"Boleh bantu?" tawarnya.

Tanpa pikir panjang, Arini memutar laptopnya sehingga menghadap ke Azam.

"Jadi, gimana?"

"Apanya?"

"Bisa nemuin Mama?"

Arini diam seraya meminum air rebus yang ia bawa dari rumah.

"Kapan bisa nerima aku sebagai teman hidup yang menghasilkan pahala berlimpah?" tanya Azam lagi.

"Sally belum selesai kayaknya, aku mau bantuin dia." Arini tidak merespon pertanyaan Azam. Ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar dengan bantuan penyangga.

"Ya Rabbi." Lirih Azam setelah punggung Arini tidak terlihat.

Niatnya hanya mengajak bicara, namun ia justru mendapat pekerjaan menggantikannya.

'Sepertinya ini juga salah, semakin ingin dekat justru kau semakin menjauh. Allah tidak ingin kita bersama mungkin, hatimu sulit sekali untuk luluh padaku. Atau karena terlalu memaksa untuk disegerakan. Tapi aku pejuang bukan pembuang peluang.' gumamnya sendiri.

Esok harinya, Azam menemui Mama. Mereka janjian bertemu di luar, karena memang Azam tidak ingin Papinya ikut campur dan membeo membuat luka di hatinya semakin menganga.

"Ma, ada yang ingin aku bicarakan."

Baru saja duduk, Azam sudah membuka percakapan.

"Mama lapar, Mbok sedang pulang kampung, jadi nggak ada yang masak."

'Memangnya Mama tidak bisa masak sendiri? Hah! Perempuan sosialita yang terlanjur kaya.' gumamnya dalam hati.

"Setelah aku bicara, Mama bisa makan sepuasnya."

"Mama mau makan sama kamu!"

Azam tertawa.

"Kenapa? Nggak boleh?"

"Aku nggak suka makan bareng Mama. Sudah terbiasa begitu," jawabnya getir.

Mama menghela napas, "Baiklah, katakan!"

"Aku mau Mama menemui seseorang besok. Nanti aku kirimkan alamatnya."

"Siapa?"

"Perempuan yang aku cintai."

"Kamu sudah benar-benar move on dari Soleha?"

'Move on? Aku tidak mencintainya sama sekali, Ma.' bisiknya dalam hati.

"Ya. Aku mau kenalkan Mama padanya."

"Apa dia cantik?"

"Tentu saja, sangat cantik."

"Kaya? Pekerjaannya apa?"

"Apa itu penting, Ma? Aku ini laki-laki. Aku yang menafkahi."

"Ya, jangan seperti Papamu."

"Nggak perlu bahas yang lalu."

"Ya memang, kalau saja Papamu laki-laki yang bertanggung jawab, Mama nggak bakal pindah ke lain hati."

'Cih.' Azam mengumpat kesal.

"Mama tidak pernah mau berkaca. Mamalah yang membuat Papa menderita, bangkrut karena selalu menuruti keinginan Mama."

"Kapan kamu akan bersikap baik sama Mama? Jangan jadi anak durhaka, percuma kamu sholat dan tinggal di pesantren belajar ilmu agama, tapi tidak menghormati perempuan yang melahirkanmu."

"Aku tidak minta untuk dilahirkan. Kalau Mama tidak datang besok, jangan harap aku akan memanggil dengan  sebutan Mama lagi. Permisi!"

"Apa minuman itu sudah dibayar?" pekik Mama.

Azam membalikkan badan dan mengeluarkan dompetnya. Banyak pasang mata menatap mereka seraya berbisik. Ia mengeluarkan uang lima lembar berwarna merah dan meletakkannya di atas meja depan Mama, dengan penekanan.

"Dasar anak tidak tau diri!" sentak Mama marah karena sudah merendahkannya.

Azam mengeratkan geraham, tangannya mengepal, dadanya berdegup tidak beraturan.

"Aku pergi, Ma." Suara Azam melunak.

Mama bergeming, ia duduk, beberapa saat kemudian ia melahap makanan yang dipesan.

Minggu pagi begitu ramai di Rumah Baca. Jam delapan anak-anak sudah menunggu pintu gerbang dibuka. Setiap minggu selalu ada agenda khusus, seperti senam, makan besar, lomba, nonton, menanam, menyiram tanaman, dan lain-lain.

Arinilah yang mengatur semua, dan dia juga menjadi pembina utama. Minggu ini anak-anak agendanya kerja bakti lalu makan besar. Ada salah satu donatur tetap mengadakan hajatan, dan mereka mengabari untuk membagikan makanan berupa nasi kotak dan jajanan. Hal ini seringkali terjadi, namun sebelum itu mereka mengkonfirmasi terlebih dulu, agar bisa dikondisikan, berapa jumlah yang akan diterima mengikuti banyak anak-anak yang hadir hari itu.

Azam duduk memandangi Arini yang tengah tertawa bersama anak-anak, desiran hangat menyelinap di lubuh hatinya. Betapa ingin ia, hidup berdampingan dan berbagi rasa. Netranya teralihkan oleh mobil mewah yang memasuki halaman. Perempuan cantik nan modis turun dari mobil. Azam bergegas mendekati.

"Asslamu'alaikum, Ma." Azam meraih tangannya.

"Waalaikumsalam."

"Mari Ma, aku antar, dia sedang duduk di sana." Azam menunjuk saung yang di depannya ada kolam ikan hias berukuran dua kali empat meter.

Tiba-tiba Azam muncul di depan Arini bersama seorang perempuan. Arini termangu melihat Mama yang begitu cantik seperti ABG.

"Sayang, kalian main ke sana dulu ya! Bunda ada tamu." Arini mengelus kepala anak perempuan berkepang dua, anak itu mengangguk dan pergi.

Arini berdiri, tatapan Mama seperti hendak memangsa. Netranya terus bergerak dari atas turun ke bawah dan naik lagi.

"Ma, ini Arini, yang aku bicarakan kemarin." Azam menyentuh lengan Mama.

Arini tersenyum lembut, matanya berbinar penuh cinta.

"Ini?" tanya Mama.

"Kamu nggak salah orang? Wajahnya memang manis tapi cacat," ucap Mama pelan. Namun itu masih terdengar oleh Arini.

Bibir Arini yang semula melengkung kini datar, matanya berkaca-kaca.

"Assalamu'alaikum, Tante." Sapa Arini mengulurkan tangan.

"Walaikumsalam." Dengan ketus ia menjawab lalu menyambut uluran tangan Arini dan menariknya cepat.

Mama kemudian menarik lengan Azam, menjauh.

"Kenapa, Ma?"

"Kamu bener suka sama perempuan itu?"

"Ma, jangan keras-keras!" pinta Azam pelan.

"Bagaimana dia akan mengurusmu dengan baik, sedang dirinya saja seperti itu. Dia hanya akan menjadi beban. Nggak, Mama nggak setuju!"

"Azam bisa menikahinya tanpa restu Mama!" suara Azam bergetar.

"Kamu mau jadi anak durhaka beneran, hah!"

"Ma, aku mohon, jangan bicara seperti itu. Aku mencintainya."

"Jangan-jangan kamu kena guna-guna."

"Astafirullah, Ma?" sergah Azam.

"Cari perempuan lain, banyak di dunia ini, Zam. Apalagi kamu tampan dan punya penghasilan lumayan."

Azam mengembus napas cepat. Dadanya bergemuruh. Ia melirik Arini yang duduk diam menatap ikan di kolam.

"Mama pulang saja," ucap Mama.

"Ma, tolong!" Azam memohon agar Mamanya mau menemui dan berbicara dengan Arini.

"Enggak, dia hanya akan menjadi bebanmu, kaki aja cuma satu."

"Ma, cukup! Mama pulang saja kalau begitu." Azam melebarkan tangannya mengisyaratkan.

Mama pergi tanpa pamit, sebentar ia menoleh ke arah Arini. Hatinya sangat perih, ia menata dirinya agar terlihat baik-baik saja. Azam menghampiri Arini.

"Mbak, Mama ada kerjaan, jadi buru-buru pulang. Maaf ya, nggak pamitan dulu tadi."

Arini mengulas senyum, hatinya perih, ia mendengar beberapa potong percakapan Azam dan Mama. Tatapan Mama juga ia bisa menafsirkannya.

"Iya, nggak papa."

Suasana mendadak hening Azam mengacak rambut lalu membetulkannya lagi. Ia merobek daun tanaman bunga menjadi kecil-kecil.

"Jangan bikin kotoran, kasihan anak-anak bersihkan lagi."

Azam menghentikan tangannya, ia tidak sanggup lagi menahan kelenjar lakrimal untuk keluar. Emosinya campur aduk bersamaan apa yang sedang dipikirikan. Pipinya pun basah.

"Menurut Mbak, aku harus gimana?" tanyanya seraya menyeka air mata.

"Apanya?" Arini balik bertanya.

"Kenapa Mbak bisa setenang ini? Padahal aku yakin, Mbak sedang tidak baik-baik saja karena sikap Mama tadi."

Arini membasahi bibirnya yang kering.

"Bukankah ini semakin membuat Mas Azam terluka?" 

Azam membetulkan posisi duduknya.

"Bukankah aku sudah bilang tidak bisa? Kenapa sangat keras kepala. Aku tidak mengingkan Mas Azam dalam hidupku." Arini berbicara seraya tatapannya menerawang ke depan.

"Katakan dengan melihatku!" pinta Azam parau.

Arini menggigit bibir atasnya. 

"Jangan menatapku seperti itu." Arini sedikit memiringkan badannya.

"Mbak, bohong kan?"

"Aku nggak bohong, aku serius dengan apa yang tadi terucap."

"Kalau begitu katakan dengan melihatku, sekali saja. Maka aku akan benar-benar pergi."

Bagaimana mungkin Arini sanggup menatap Azam, hatinya teramat perih mengingkari apa yang dirasa selama ini.

"Katakan Mbak!" 

Arini memutar badannya empat puluh lima derajat, sehingga tepat berhadapan dengan Azam. Sorot mata lelaki itu  membuat jantungnya berdesir hangat. 

'Aku harus mengakhiri ini, agar Azam tidak semakin terluka dan berharap banyak.'

"Aku tidak menginginkanmu, juga tidak membutuhkanmu dalam hidup." Jemari mungil nan lembut itu meremas gamis hitam yang ia kenakan.

"Apa sedikit pun tidak ada perasaan untuk saya?" Azam menjadi bicara dengan formal.

"Iya, tidak ada." 

Jantung Azam rasanya sudah pindah tempat menjadi di kepala. Ia bak tersambar petir, sendi di tubuhnya menjadi lemah. Ia duduk bersandar dan meringkuk.

Arini mengalihkan tatapannya.

"Maaf, saya permisi," ucap Arini meninggalkan Azam. 

Tanpa disadari pipi yang ranum dan dingin pun telah basah. Ia benar-benar tega kepada Azam juga dirinya sendiri.

Sejak hari itu, Azam tidak pernah menampakkan diri di hadapan Arini. Juga tidak membalas pesan Arini saat ia minta tanda tangan untuk laporan bulanan. Terpaksa ia meminta Rijal untuk menghubungi. Namun tetap tidak datang, Azam justru meminta Rijal untuk mengantarkannya ke pesantren.

"Rin, Azam kok nggak pernah nongol, apa dia sibuk banget?" Sally membuka percakapan di sore hari yang dingin. Magelang diguyur hujan, tidak lebat tapi lama.

"Kamu tanya aja ke dia, punya nomornya kan?"

Sally diam memperhatikan Arini yang sedang asyik mengetik novel keduanya. Ia merasa sesuatu telah terjadi di antara mereka.

"Temanya apa, Rin?" Sally mencoba mencairkan suasana.

"Rumah tangga."

"Wah, bakal segera naik pelaminan nih, Arini dan Azam." 

Arini menghentikan gerak tangannya, menatap Sally tajam. Sally meletakkan telunjuk di bibir, matanya melirik ke luar mendengar suara motor datang.

"Assalamu'alaikum."

"Oh, aku kira Azam, Jal."

"Jawab dulu salamnya."

"Oh, iya. Walaikumusalam."

Sally meringis menatap Rijal.

"Kamu ganteng banget sih, dek," ucap Sally, netranya masih mengikuti langkah Rijal.

"Jelas, adiknya siapa dulu," kelakar Rijal.

Sally dan Rijal tertawa. Arini bergeming tidak merespon apapun.

"Assalamu'alaikum."

Jantung Arini mencelos mendengar ucap salam dari seseorang yang sudah hapal suaranya, ia menoleh, tatapan mereka bertemu sejenak.

"Loh, Zam. Masuk gak ngucap salam." Sergah Sally.

"Sudah." Azam menjawab pelan.

"Kok lesu gitu, nggak nyapa yang di sana?" Sally menggoda.

"Jal, udah kamu kasihkan?" Azam tidak menjawab, ia justru membicarakan hal lain.

"Udah, Mas."

"Apaan?" tanya Sally pada Rijal dengan curiga.

"Berkas yang ditandatangani Mas Azam."

"Oh, kenapa nggak kamu kasih sendiri ke orangnya, tuh!" tunjuk Sally.

Azam bergeming.

"Kalian kenapa sih?"

Ruangan mendadak senyap, tidak ada yang menjawab pertanyaan Sally.

"Iih, ngeselin banget, deh!" Sally meletakkan buku yang ia baca dengan keras di atas meja.

"Katanya nggak boleh loh ndiemin orang lebih dari tiga hari."

Masih senyap.

"Zam, nggak boleh memutuskan silaturahmi. Arini, juga." Sally berkecak pinggang dan melotot.

"Bukan gitu Mbak, takut apa yang saya lakukan membuatnya tidak berkenan," jawab Azam seraya memasukkan barang ke dalam plastik besar.

"Mau di bawa ke mana itu?" tanya Sally lagi.

"Piknik."

"Ide bagus tuh, ayo minggu depan kita piknik!" ajak Sally.

"Wah bagus itu," sahut Rijal, "Gimana menurut Mas?"

"Silakan, lagian selama ini belum pernah diadakan, pasti anak-anak senang," terang Azam, "Tapi maaf, aku nggak bisa ikut."

"Loh, kenapa?" selidik Sally.

"Ada yang tidak suka dengan keberadaan saya," tutur Azam.

"Dia, maksudmu?" ucap Sally menggerakkan alisnya. "Ya, udah deket sama aku aja. Biar berasa princes didampingin dua pangeran ganteng. Gimana?"

"Siapa satunya?" celetuk Rijal.

"Kamulah." Sally menatap Rijal.

Rijal terbahak sedang Azam hanya tersenyum masam.

"Gimana menurutmu, Rin?" 

Arini diam tidak menjawab, Azam menatap dari kejauhan, ingin sekali mendengar suaranya yang membuat candu itu.

"Rin!" Pekik Sally.

"Aku belum menemukan jenis pita suaramu, Sal."

"Kenapa? Kurang kenceng? Hah!" Suara Sally naik satu tap.

Arini menyipitkan matanya, kepalanya sedikit pusing.

"Terserah kamu aja," ucap Arini pelan dan datar. Ia menutup laptopnya lalu beranjak dari tempatnya duduk.

"Ya udah aku pamit, ya. Assalamu'alaikum." Azam meninggalkan dua orang yang sama diamnya.

Tidak ada kata iya, hanya ada jawaban dari salam itu. Azam menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Matanya melirik ke arah Arini yang sedang duduk bersama tiga anak laki-laki, mereka tengah asyik memberi makan ikan. Ingin sekali rasanya ia menghampiri, namun tidak. Sebab melihat raut wajah Arini yang tampak baik-baik saja. Tidak ada perasaan sedih ataupun menyesal atas keputusannya menyikapi niat Azam.

Azam berjalan dengan perasaan hampa. Rasanya kaki tidak menapaki bumi lagi. Bagaimana tidak, perempuan yang sangat ia inginkan menolak untuk bersamanya. 



Bersambung ....


#novel

#demoistar

Ditolak Untuk Kedua Kali

Mei 21, 2022 Add Comment

 
Freepik.com


Arini, perempuan yang hampir selalu bisa untuk tidak menampakkan emosinya kepada orang lain saat memang dirasa perlu untuk dilakukan. Entah sedang marah, takut ataupun sedang mencintai seseorang, Arini hanya terlihat dingin dan menawan. Hal inilah yang justru membuat Azam semakin gigih mendapatkan hatinya. Bukankah memang perempuan selalu begitu, kalau sudah mendapatkan hatinya, ia siap memberikan segala, bahkan nyawa.

Wajar jika sosok Azam merasa nyaman saat bersamanya, sebab Arini selalu tampak tenang. Namun sikap itu juga yang membuatnya merasa gelisah. Ia tidak bisa menebak apa yang sedang dirasakan Arini.

"Mbak, pernah rindu?" tanya Azam tiba-tiba.

"Pernah," jawab Arini seraya mendata buku-buku yang baru saja tiba, sumbangan dari para donatur.

"Sama siapa?"

"Ibu dan Ayah. Mas Azam sedang merindukan mereka, ya?"

Azam menggeleng dengan kepala yang tertunduk.

"Saya sering merindukan Mbak, ingin tau apa saja yang sedang Mbak lakukan."

Arini mengerutkan dahinya. Namun tangan masih bergerak menekan keyboard laptop.

"Saya ingin menghalalkan rindu itu," lanjut Azam

Mendengarnya, Arini menghentikan aktifitas. Ia melirik Azam lalu mengulas senyum tipis. 

"Saya pernah mengatakan sewaktu di Lesehan depan kampus, apa Mbak tidak mengerti maksud saya?" Azam masih saja terus bicara.

Arini menggeleng.

Sepertinya, Azam akan menguraikan dengan jelas kali ini.

"Ada perasaan lebih ke Mbak. Ada rasa ingin memiliki, membersamai, dan perasaan lain-lain yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Saya ingin menjadikan itu semua halal."

"Maaf, saya tidak bisa," sahut Arini.

"Kenapa?" tanya Azam dengan cepat, "Apa ada seseorang yang lebih dulu mengatakan ini?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Maaf Mas, sepertinya itu suara motor Rijal." Arini membereskan pekerjaannya tadi, "Saya pulang duluan. Assalamu'alaikum."

"Waalaikumusalam," jawabnya dengan nada kecewa.

Azam tidak mengantarnya keluar, ia masih tidak percaya, ini kedua kali Arini menolak. 

"Mbak, Mas Azam nggak di sini?" tanya Rijal.

"Ada," jawabnya seraya menata diri untuk duduk di belakang Rijal.

"Mana?" 

"Di dalam." 

"Bukannya Mbak Arini juga dari sana?"

"Iya, kenapa?"

"Nggak papa, nanya doang."

Arini tidak lagi merespon, ia langsung duduk begitu saja.

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Rijal dalam perjalanan.

"Seperti?"

"Ungkapan perasaan."

"Macam-macam!" sentak Arini.

"Banyak berarti."

"Apa sih, dek?" Arini memukul helm Rijal.

"Lah, tadi katanya macam-macam."

"Maksudnya, kamu itu nggak usah banyak tanya."

"Iya deh, rahasia." Rijal tersenyum dari balik kaca helmnya.

Suasana menjadi hening, hanya ada suara deru kendaraan dan bel bersahutan di sepanjang jalan.

"Mbak, kenapa sih nolak Mas Azam?"

"Nggak denger." Arini tidak terlalu mendengar suara Rijal.

"Loh, mau ngapain?" seru Arini saat Rijal membelokkan laju kendaraannya.

"Makan. Udah keburu lapar, ntar pas lagi nyetir pingsan gimana?"

"Hm."

Sesampai di sana, Arini langsung mencari tempat duduk.

"Mbak mau makan apa?" tanyanya setelah Arini duduk.

Arini melirik daftar menu yang terbentang lebar di dekat meja kasir.

"Oke tunggu ya, aku pesankan."

Rijal cepat tanggap saat Arini melirik daftar menu. Ia tidak akan menanyakan sebab sudah hapal, menu apa yang akan dipilih. Ia masih fokus pada benda yang dipegang, sampai tidak mengetahui Azam datang melewati sampingnya.

Azam ternyata juga memesan makanan dan dimakan di tempat, ia mengambil posisi di pojok, meletakkan tasnya di sana. Di mana Arini tidak akan menoleh ke belakang. Namun di sana ada Rijal, tentu saja keberadaannya diketahui.

"Mas," sapa Rijal.

"Loh! Ke sini juga?" Azam pura-pura kaget.

Mereka sama-sama sedang berdiri mengantri. Toko Amse ini memang dikenal pelanggan di suruh ambil sendiri makanannya setelah siap. Mereka akan dipanggil berdasarkan nomor meja. Restauran yang cukup besar, memiliki jumlah pekerja yang lumayan banyak, namun pelanggan disuruh mengambil pesanannya sendiri.

"Iya nih, lapar, ntar nggak kuat nyetir." Rijal dan Azam tertawa.

Pesanan Rijal sudah siap.

"Mas, makan di sini juga kan?"

"Iya, udah lapar, ntar nggak kuat nyetir, nggak nyampe pesantren malah mampir ke RS." Azam menirukan perkataan Rijal barusan.

"Naudzubillah," ucap Rijal. 

Ia dan Azam kembali terkekeh.

"Aku tunggu di sana!" bisik Rijal.

Azam menyipitkan matanya.

Setelah pesanan Azam siap, ia tidak membawanya mendekati Rijal dan perempuan yang baru saja menolaknya. 

"Mas, sini aja, makan sama-sama."

"Tasnya di sana. Lagian ntar ada yang hilang selera makan, saya ikutan gabung di situ." Azam melirik Arini.

Rijal tersenyum melihat Azam memainkan matanya.

Arini masih bergeming, tetap fokus pada buku yang sedang ia baca. Setelah mendengar kalimat Azam, ia menutup buku, memasukkannya ke dalam tas. Dan mulai mencicipi kuah rawon yang legendaris.

"Ngasih tau dia?" tanya Arini di sela makan.

"Enggak kok. Qodarullah."

Arini meneruskan santapannya. Azam menyelesaikan makan lebih dulu. Ia mendekat ke meja Rijal.

"Jal, pulang duluan ya!"

"Iya Mas, hati-hati." Pesan Rijal pada Azam yang sudah cukup jauh melangkah.

Tidak seperti biasa, kali ini Azam tidak menyapanya. Namun Arini justru lega, meski sedikit pedih.

'Aku yakin dia akan lelah dan menjauhiku,' bisiknya dalam hati.

"Mbak." Panggil Rijal setelah punggung Azam tak terlihat.

"Iya."

"Mbak, kenapa sih nolak Mas Azam lagi?"

"Kok tau? O, iya iya paham." Arini mengunyah daging kambing yang telah dipotong dadu. Kuah rawon yang begitu nikmat ia seruput perlahan. "Kamu dan dia kan saling curhat."

"Ya, nggak gitu juga kali," sahut Rijal.

"Hilangkan kebiasaanmu yang suka membicarakanku kepadanya. Oke?" ucap Arini tegas.

Rijal tidak menjawab, masih mengunyah gado-gado yang begitu lunak. Rasanya ia tidak mau berhenti.

"Denger, nggak?" 

"Iya."

"Iya apa?"

"Iya nggak lagi."

"Nggak lagi apa?"

"Nggak lagi membicarakan Mbak ke Mas Azam."

Arini merasa puas. Rijal adalah tempat ia mengekspresikan rasa kesal. Ia bisa ngegas dan menampakkan kekesalannya dengan bebas.

Beberapa saat kemudian, Rijal bertanya dengan pertanyaan yang sama.

"Mbak, kenapa sih nolak Mas Azam? Padahal aku yakin, Mbak juga punya rasa yang sama."

"Nggak usah sok tau."

"Aku tau."

"Tau apa?"

"Waktu Ayah masih ada, Mbak pernah pulang kehujanan terus pingsan di pelukan Ibu. Itu habis ketemuan sama Mas Azam kan?"

Arini terbelalak, dari mana Rijal tau hal itu.

"Sok tau!"

"Emang tau, bukan sok tau."

"Kamu memata-matai aku?"

"Ayah aja tau kok."

"Serius?" Ekspresi wajahnya berubah lagi.

"Tuh kan, berarti Mas Azam nggak bohong."

"Maksudnya?" selidik Arini.

"Mbak Arini nggak liat Ayah ada di sana? Wah, luar biasa. Kalau sudah jatuh cinta, dunia terasa milik berdua memang."

Duk! Arini menendang kaki Azam.

"Aw!" Rijal mengaduh lalu memasang wajah galak.

"Dek, tolong bicara yang benar!" pintanya.

"Ternyata Mbak banyak nggak tau. Jadi gini, Mas Azam bilang dia kirim pesan ke Ayah, kalau mau nemuin Mbak di Lesehan depan kampus. Itu Mas Azam yang bilang bukan Ayah."

"Dia tau nomor Ayah dari mana?"

"Katanya sih, dia sendiri yang minta ke Ayah, waktu aku daftar ulang."

"Terus?"

"Ciye semangat banget," ejek Rijal.

Arini mengembuskan napas. "Ya udahlah, nggak usah diceritain, simpen aja."

"Udah terlanjur, aku nggak suka yang tangung,"  tukas Rijal.

"Dahlah." Arini berdiri meraih tongkat penyangganya.

Rijal memegang tangan Arini, memaksanya untuk kembali duduk. 

"Jadi, Ayah datang ke sana. Melihat pertemuan kalian."

Arini mendelik. Sedang Rijal tersenyum jahat.

"Kamu nggak lagi mengada-ada kan?" selidiknya lagi. Sebab ia tau perangai adiknya yang suka menggoda.

"Ya ampun Mbak, sebenernya udah lama mau cerita, tapi kayaknya nggak penting. Nah, sekarang kok jadi penting, ya. Aneh."

Arini mengernyit mencoba menelaah maksud Rijal.

"Apa maksudnya?"

"Nggak tau," jawab Rijal menaikkan kedua bahunya.

"Ayah juga kehujanan?"

"Enggak, hujan turun tepat saat Ayah masuk rumah. Hebat kan?"

"Apanya? Tapi kok Ayah nggak nyapa aku?"

"Iya lah, ntar Mbak malu, ketauan."

"Ish!" Arini menyunggingkan sebelah bibirnya, kesal. "Jadi Ayah, tau?"

Air mata Arini kini berlinang. Rijal mengangguk.

"Kok, nangis sih!"

"Abis kamu nyeritain Ayah ...."

"Hm, terus gimana? Kenapa Mbak nolak Mas Azam lagi? Padahal aku siap jadi wali."

Arini menyeringai  menatap Rijal seraya mengusap pipinya yang basah.

"Azam itu ... udahlah, intinya Mbak nggak cocok buat dia."

"Kenapa? Apa yang buat Mbak mikir kayak gitu?"

"Dia masih muda, fisik bagus, otak juga lumayan cerdas. Kabarnya dia jadi idola di pesantren kan?"

"Hm. Jangan bilang Mbak insecure."

"Bisa jadi juga."

"Mas Azam itu suka sama Mbak pada pandangan pertama, dan sampai detik ini."

"Oh, iya. Aku lupa kalau adekku ini tau banyak," ucap Arini, kemudian meminum segelas air hangat.

"Mas Azam cerita semuanya perihal Mbak."

Arini menjitak jidat Rijal menggunakan kelingkingnya. Berhubung duduk mereka berhadapan, sangat mudah menjangkau kepala Rijal.

"Lain kali aku akan menjitakmu pake telunjuk," ancamnya.

Rijal diam nyengir kuda menahan sakit. 'Pakai kelingking saja sakit apalagi pakai telunjuk. ' batinnya.

Untuk menghabiskan rawon dan gado-gado, mereka membutuhkan waktu satu jam. Lepas itu mereka pulang ke kontrakan.



Bersambung....


#novel

#demoistar


Novel Santri Hasil Makian Bab 6

Desember 04, 2021 2 Comments


"Azam," Tangis Rindu pecah, ada sesal juga sedih. Ia sakit mendengar kalimat dari darah dagingnya yang sudah ia sia-siakan.


_______


Azam meninggalkan Mamanya dengan perasaan kalut, ia melintasi jalan raya memicu suara bel kendaraan bersahutan. Mulutnya membisu namun pikiran terus berdebat. Ia ingin mati, tapi takut. Kendaraan juga tak ada yang mau menabraknya. Iya kalau langsung mati, bagaimana kalau cacat dan sekarat yang teramat sakit?

Azam pergi ke terminal Tidar, seketika mood buruk itu berubah kala melihat perempuan yang diikutinya saat pertama kali menginjakkan kaki di kota Magelang. Ia menyisir rambut dengan jemarinya yang jenjang.

Azam merapikan kaos lengan panjangnya, ia tarik hingga tiga per empat. Lengannya mulus seperti ubi kayu yang sudah dikelupas, banyak bulu halus kekuningan menutup pori-porinya. Sepertinya, masa kecil ia, tak pernah digigit serangga.

Seketika jantungnya berdesir lembut, kesal dan sedih yang dirasa tadi berubah. Ia merasa damai tanpa beban. Azam mengusap layar ponselnya untuk melihat jam. 

"Apa, setiap jam sepuluh dia, selalu di sini untuk ke suatu tempat?" Tanyanya dalam hati.

Azam perlahan mendekat, lalu duduk di kursi yang disiapkan oleh tukang bubur ayam. Ia memesan, dan memang lapar, sebab sejak pagi belum terisi apapun, ditambah mengeluarkan energi cukup banyak, bertengkar dengan papi tiri dan mamanya.

Azam sudah menghabiskan satu porsi bubur ayam, namun masih terasa longgar lambungnya. Satu porsi lagi ia pesan. Tukang bubur ayam itu menggeleng.

"Bubur ayam saya ini banyak loh, Mas, porsinya. Dan masih kurang? Berapa hari nggak makan?"

"Sejak pagi, energi saya terkuras. Makanya jadi laper banget."

"Emang habis ngapain? Kerja?"

"Emang kenapa Pak? Keberatan saya nambah satu porsi lagi?" Bukannya menjawab, ia justru bertanya dengan nada kesal.

"Ya, enggak dong. Seneng malah."

"Ya, udah." Azam nampak sewot, netranya masih mengikuti ke manapun perempuan itu berjalan. 

Kerudung yang menjuntai menutup dada berwarna kecoklatan, gamis hitam, sepatu kets, dan tas ransel berbahan rajut berwarna senada dengan kerudungnya. Ia terlihat begitu indah di mata Azam, seorang lelaki muda, yang tidak berpendidikan juga miskin. 

"Ini, Pak. Terima kasih." Setelah selesai menyantap dua porsi bubur ayam dan sebotol air mineral, ia bergegas menyusul Arini ke dalam bus. 

Sudah hampir sepekan, ia mengikuti Arini. Tidak bekerja, numpang tidur di rumah mamanya. Sekarang Azam menjadi gembel di terminal. Setiap hari mengonsumsi alkohol, untuk menenangkan diri, katanya. Orang-orang di stasiun sering meminta bantuan tenaga untuk mengangkut barang mereka. Tubuhnya yang atletis tidaklah sulit melakukan pekerjaan kuli. Ia sering mendapat upah, sehingga uang penjualan arloji yang ia bawa ke mana-mana itu, tidak banyak terpakai.

"Maaf." Ucap Arini seraya melihat ke bawah. Tapi sungguh Azam menikmati pemandangan indah di depan mata. Wajahnya terlihat masih remaja yang polos tanpa make up.

Azam masuk ke dalam bus setelahnya, sepertinya tujuan yang sama. Ia sama sekali tak melihat ke arahku. Hanya ada satu bangku kosong dan ditempati olehnya.

Baru saja Arini tak sengaja menginjak kaki Azam untuk kedua kali. Penumpang banyak kali ini, ia memaksa masuk duluan karena takut tidak muat lagi.

Bus mulai penuh. Berjejal. Arini yang sebelumnya duduk, kemudian berdiri mempersilakan ibu hamil besar yang pernah dilihat Azam kala itu, untuk duduk di tempatnya. Azam makin terpesona.

"Iya. Oh, gitu. Ya, udah aku langsung pulang aja deh. Iya gak papa." Arini menjawab telepon dari seseorang.

"Siapa? Apa mungkin kekasihnya." Azam bertanya-tanya.

"Ndok ayu, katanya mau turun lima belas menit lagi? Ini udah setengah jam." Ibu hamil bertanya Arini.

"Eh, iya Bu, gak jadi, tadi mau ketemu temen, tapi dianya buru-buru mau pulang, batal deh. Alhamdulillahnya dia telpon pas aku belum datang ke sana." Arini tersenyum. 

"Ya, Tuhan aku tak pernah melihat senyum semanis ini." Gumamnya.

Mobil hendak berhenti, Kondektur memberi aba-aba kepada penumpang, semua bersiap, kecuali mereka yang tak turun.

"Ibu, turun di sini?" Tanya Arini.

"Enggak Ndok, Ibu turun di depannya lagi, kira-kira  satu kilo lagi lah."

"Oh, gitu, ya udah aku turun duluan ya, Bu. Ini cewek apa cowok Bu bakalnya?" Ia mengelus perut ibu itu.

"Kata Dokter cewek Ndok. Tapi wallahu a'lam." Entah mengapa Azam hanya fokus mendengar suara mereka, bukan kebisingan lain di dalam bus.

"Masyaallah, semoga apapun itu, insyaallah yang shalih shalihah ya, Bu."

"Aamiin, shalihah dan cantik kayak sampean."

"Ah Ibu, bisa aja. Aku aamiin deh. Jadi doa. Aku maju ke depan ya Bu. Turun di sana aja, mau muter balik soalnya. Assalamu'alaikum." Ia melipir menerobos sempitnya jalan menuju pintu. Dan Azam kehilangan dirinya karena dihalangi oleh orang-orang.

"Maaf Bu, siapanya Ibu, ya?" Karena ingin tau yang tinggi padanya Azam memberanikan diri bertanya pada ibu itu.

"Yang barusan?" 

Azam mengangguk.

"Namanya Arini, Ibu kenal waktu di bus gini. Seumur hidup baru nemu sama perempuan kayak dia. Masyaallah, bukan cuma wajahnya yang sedap tapi juga kepribadiannya. Ramah sama siapa aja. Kecuali laki-laki. Dia nggak pernah natap kalo diajak ngomong sama laki-laki."

"Oh, gitu." Azam mengulas senyum.

"Eh, Masnya naksir, ya?"

Azam meringis saja.

"Dia udah kuliah. Selalu dijemput di terminal kalo nggak sama Papanya, ya adek laki-lakinya. Katanya sih, gak ada angkutan umum masuk menuju rumahnya. Gak mau naik ojek. Tahan nunggu di terminal kalo gak ada yang jemput.

Tapi ini tadi, kayaknya nggak jadi pergi. Turun, mau muter balik, katanya."

"Oh, kuliah?" 

Azam pura-pura tidak tahu, padahal ia mengetahui tentang Arini dari Ibu Nay, saat mengikuti Arini pertama kali.

"Haha. Kenapa? Kamu kira masih SMP? Sama, Ibu juga gitu pertama kali ketemu sama dia. Ya gitu, dia selalu menyisihkan tempat duduk untuk orang lain. Gak cuek aja kayak yang lain."

Azam menggaruk kepala yang tak gatal sambil meringis.

"Hehe, ternyata." 

Ia tak tau harus bilang apa, hanya ada dua kata itu saja yang terucap oleh bibirnya.

"Eh cie, mau nitip salam? Nanti tak sampein pas ketemu lagi. Gimana?" Ibu itu menggoda Azam.

"Jangan Bu. Jangan, bener deh. Cuma nanya doang. Kagum aja." Jelasnya biar tak makin panjang.

Ibu itu turun lebih dulu. Azam tetap di bus sampai kembali lagi ke terminal Tidar. Sopir bus sampai heran dengan kelakuan Azam.

Satu pekan kemudian. Azam tak melihat Arini, namun selalu naik bus yang biasa Arini tumpangi.

"Eh, Mas Azam." Sekarang ibu yang pernah ngobrol dengan Azam di bus waktu itu, sudah menggendong bayi yang sangat cantik.

"Loh, Bu. Ini." Ucap Azam, menunjuk bayi yang digendongannya.

"Iya, Alhamdulillah, cewek, namanya Rindi Trihapsari. Rindi itu singkatan dari Arini dan Dina nama saya."

"Hah! Emang nggak dimarah suami, Bu?"

"Enggak, saya sering cerita tentang Arini, dan suami juga suka. Katanya kapan-kapan mau ketemu gitu. Saya berharap putri saya ini mirip sama Arini." Ibu itu tersenyum tulus, terlihat dari gurat wajahnya yang sumringah.

"Nama kamu siapa? Kita belum kenalan."

"Azam."

"Saya Dina."

"Iya, tadi udah Ibu sebut."

"Ibu udah punya nomornya, loh."

"No siapa, Bu?"

"Ariniii ... Kamu mau, nggak?"

"Hehe, boleh."

"Dasar, malu-malu kucing." Azam nyengir disertai dada yang berdegup kencang. 

"Kamu tinggal di mana sih, Mas? Kerja? Atau kuliah? Kok kita sering ketemu di bus."

"Ehm aku ...." Azam bingung hendak mengatakan apa. Malu. Minder, bagaimana kalau ibu ini menceritakan ia kepada Arini?

"Tenang, aku belum cerita apapun ke Arini, kok." Ibu Dina mengerak-gerakkan alisnya, bola matanya melirik ke arah Azam yang duduk di sebelahnya. Azam makin kikuk dibuatnya. Namun ada perasaan lega.

"Ayo, dijawab." Katanya yang ternyata masih menunggu untuk memenuhi rasa ingin taunya itu.

"Saya tinggal nggak jauh dari Terminal Bu, saya masih sekolah kelas dua SMA."

"Hah? Kelas dua SMA?" Ibu itu melotot dan air ludahnya muncrat mengenai bayinya. Ia melihat wajah Azam dan menaik turunkan retina .

"Ternyata, dunia ini lucu. Saya kira sudah kuliah atau kerja. Tampang dan postur tubuh, nggak sesuai usia. Hahaha. Maaf ya." Ia menutup mulutnya dengan kain jarik untuk menggendong bayinya.

"Ya Allah. Semoga kalian berjodoh." Ucapnya lagi.

"Siapa Bu?" Azam bingung.

"Kamu dan Arini." Ia menepuk-nepuk pundak Azam.

Azam tersenyum dan di dalam hati mengaamiinkan. Namun pikiran berkata tak mungkin.

Jiwa terasa hampa, tak ada teman. Tepatnya Azam yang menolak berteman dengan siapapun. Selain merasa insecure, tak ada yang asyik menurut versinya. Ia juga tak mengerti asyik itu seperti apa. Hidupnya sangat flat, tak bergairah.

Di rumah, di terminal, di bus, hanya ada Arini di kepalanya. No yang diberikan oleh ibu Dina sudah tersimpan di ponsel, sering ia tulis pesan sapa, namun tak satupun yang terkirim. Kepengecutan itu membelenggu.

Ketika asyik memanikan ponselnya,  tiba-tiba Azam melihat sekelibat perempuan mirip Arini. Ia mengikuti dari jarak jauh, agar tak menyadari keberadaannya.

Arini berjalan bersama laki-laki kemudian duduk di kursi besi. Wajahnya mirip dengannya, tapi postur tubuhnya tak jauh beda dengan Azam. 

"Sepertinya itu yang namanya Rijal." Ucapnya.

"Awas aja aku, aduin ke Ayah. Uang tabunganku kamu pake buat beli kaset PS." Bibir Arini manyun, wajahnya memerah.

"Cie ... cie ... ngambek, ntar aku ganti deh, janji." Rijal mengeluarkan jari kelingkingnya lalu didekatkan ke wajah Arini.

Arini melengos. Dan laki-laki itu mengeluarkan sebuah buku berwarna putih dengan tulisan 'aku ingin nikah muda' terlihat di cover depannya.

Wajahnya mendadak berseri dan segera meraih buku itu. 

"Ini sogokan kah?"

"Ya, enggak lah. Makanya uang buat beli kaset kurang, karena beli itu."

"Ya, udah ayo pulang." Arini kemudian berjalan mendahului menghampiri motor maticnya.

"Janji gak kasih tau Ayah atau Ibu?" Rijal mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Arini.

"Oke, selama kamu, punya etikat baik mau balikin uangku."

"Oke. Cuma sedikit aja kok."

"Mau sedikit atau banyak, kalo bilangnya pinjem ya, dibalikin."

"Iya deh, iya."

Buk! Arini memukul helm Rijal.

Rijal meringis.

Mereka kemudian melaju meninggalkan terminal dan Azam, orang yang sedari tadi diam menguping.

.

.

Bersambung ....




#Karyaku
#Novel

Novel Santri Hasil Makian Bab 5

November 28, 2021 2 Comments


"Masnya, kuliah di mana?" Bu Nay bertanya, Azam menghentikan kunyahannya dan meminum air hangat yang sudah tersedia sesuai permintaan.


____________


"Saya masih sekolah, Bu."

"Sekolah? Kelas berapa?"

"Dua." 

"Di mana?"

"Palembang."

"Palembang? Lah kok, bisa terdampar di Magelang, ini gimana ceritanya? Kan nggak lagi libur panjang?"

Azam menceritakan kisahnya secara singkat. Air mata Bu Nay mengalir begitu saja, ia merasa iba pada Azam.

"Ya Allah. Maafkan Ibu, ya, harusnya nggak tanya apapun. Orang baru kenal juga, lagian sampean sih yang mulai duluan, nanyain Arini." Cerocos Bu Nay, padahal barusan dia meminta maaf, sekarang menyalahkan.

"Nggak papa Bu, Ibu jangan cerita kalau saya pernah menanyakan Arini." Azam sudah bisa menyebut namanya, tau dari Bu Nay.

Setelah perutnya terisi, Azam mulai mengantuk. Arini juga tidak keluar hampir satu jam.

"Bu, saya boleh tidur di sini sebentar?"

"Boleh, boleh, di pojok sana, ya!" 

"Makasih, Bu,"

Bu Nay mengangguk, mengulas senyum.

***

"Rin, aku anterin pulang, ya, kebetulan bawa mobil." Ucap seorang pria berwajah tampan dan tinggi.

"Maaf, aku dijemput adek, kok." 

"Cuacanya mendung, nanti kehujanan di jalan. Adekmu gak usah jemput, biar aku antar kamu aja."

"Makasih, Bri. Nggak usah."

"Kenapa sih, Rin? Sekali aja, aku pengen kenal sama orang tuamu." 

Terdengar helaan nafas Arini, ia melengos menatap wajah teman di sebelahnya. Azam sudah bangun dari tadi, mendengar suara keras menyebut nama Arini. Kini ia menguping seraya pura-pura tidur.

"Mas, itu lho, orangnya." Bu Nay menyenggol bahu Azam. Azam berdeham, mengusap wajahnya. 

"Aku denger semua, kok." Sahutnya mengulas senyum jahat.

"Rin," Brian menyentuh lengan Arini.

"Hey!" Arini menyeringai.

"Kamu kenapa sih Rin, nggak mau aku anter?"

Arini menarik nafas berat.

"Sepertinya harus diperjelas." Ia meminta persetujuan dari teman sebelahnya yang bernama Sally, tubuhnya berisi, memakai celana jeans hitam, kemeja biru, kerudung hitam dan berkacamata.

Temannya yang sedari tadi bersendakep, mengangguk mengiyakan.

"Gini ... mohon maaf sebelum dan sesudahnya nanti. Aku tidak mau dibonceng, diantar lelaki manapun, kecuali Ayah, adek, dan suamiku kelak."

"Kita kan bertiga?" 

"Sama siapa?"

"Sally." 

"Sally, nggak searah sama aku. Udahlah Bri, jangan sia-siakan waktumu dengan tetap di sini memaksaku, ya."

"Judes juga, Arini." Gumam Azam dalam hati.

Suara mereka terdengar jelas. 

"Tuh, adek aku udah dateng." Arini menunjuk seseorang memakai motor matic.

"Oh? Jadi itu adiknya, pantes tadi pake acara cium tangan. Eh, Arini ini .... Bu, Arini itu sekolah kelas berapa?"

"Astaga, dia kuliah semester tujuh."

"Hah! Yang bener?"

"Iya, kayak ABG kan?" 

Azam mengangguk. Bu Nay terkekeh.

"Bu De, Arini nggak mampir, ya." Ucap Arini dari luar.

"Iya, salam buat Ayah dan Ibumu ya." 

"Insyaallah ntar disampein. Assalamu'alaikum."

"Sal, aku pulang duluan ya, makasih udah nemenin aku nunggu Rijal." 

"Okey, salam buat si ganteng, itu."

"Haha, siap." 

"Duluan ya, Bri, assalamu'alaikum." 

Arini melangkah pergi, Azam pun berkemas hendak mengikutinya. Setelah berpamitan dengan Ibu Nay, ia naik ojek.

"Bang, susul motor matic biru di depan itu ya." Pintanya seraya menepuk pundak bang ojek.

"Ngebut banget." Gumam Azam. 

"Jadi, gimana Mas?" 

"Ya udahlah, antar saya ke terminal Tidar, aja."

Mereka kehilangan jejak Arinj. 

"Makasih ya, Bang."

"Sama-sama." Bang ojek itu pergi.

Azam mencari tempat duduk, ia menyandarkan bobot tubuhnya ke kursi besi panjang, di terminal. Ia lelah, matanya sangat berat. 

Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari nomor baru.

"Zam, ini Mama. Kamu di mana?"

"Mama?" Azam mengucek matanya. Jantungnya berdebar. Ada perasaan senang juga kesal. Ia berharap tidak bertemu Mamanya secara langsung.

 Di terminal Tidar." Balasnya.

"Oke, tetap di sana. Sepuluh menit, Mama nyampai."

Azam merebahkan tubuhnya, mengendorkan otot kaki. Ia terus memikirkan Arini. Perempuan anggun, berbaju gamis dan kerudung menjuntai menutupi dada. 

"Kenapa ia tidak menyukai Brian? Padahal tak ada kekurangan. Selain tampan, ia juga kaya. Apa aku layak untuknya?" Bisiknya pelan.

Ponselnya berdering lagi. Kali ini Mamanya menelpon.

"Halo sayang, Mama di luar."

"Ya." Jawabnya sebelum menutup sambungan.

Azam nampak lesu, ia tak bergairah. Pikirannya teringat saat Mamanya dengan kejam meninggalkan dia. Ia berjalan gontai. Nampak kusut, rambutnya sudah memanjang menutupi mata. Namun di bagian samping dan belakang masih agak tipis. Kain sapu tangan yang digunakan menutup wajahnya, ia lepas.

"Azam ... sayang ... Mama kangen banget sama kamu, Nak." Mamanya memeluk erat tubuh dempal Azam.

Azam bergeming, ia tak membalas pelukan Mamanya. 

"Dari mana tau nomorku?" 

Bukan pertanyaan apa kabar, ia justru menanyakan dari mana tau nomor ponselnya, dengan ekspresi datar. Sorot matanya nanar, ia menunduk enggan menatap.

"Itu nggak penting. Sekarang kamu tinggal sama Mama ya. Ayo!" Mamanya menggandeng lengan Azam, memasuki mobil sedan mewah. 

"Ini mobil yang berbeda." Batinnya.

"Ini Papi kamu, Danu."

"Papi? His, tak sudi aku memanggilnya dengan sebutan Papi." Sungutnya dalam hati.

"Azam." Senggol Mamanya agar segera menyalami suami baru itu.

"Hai, Om," sapanya acuh.

"Hai, kamu sudah besar dan tampan." Papi tirinya menyentuh pundak Azam yang lebih tinggi sepuluh senti darinya. Azam mengulas senyum lalu membuang muka.

Mamanya dan Danu sedikit menjauh dari Azam yang berdiri menatap orang keluar masuk bus. Ia mulai tak nyaman, meliirik dua orang sedang membicarakan entah apa. Ia melangkah menjauh menuju jalan raya.

"Azam!" Panggil Mamanya.

Ia menghentikan langkahnya dan menoleh. Mamanya berjalan cepat mendekati.

"Zam, kamu tinggal sama Mama, ya!"

"Apa dia, akan baik-baik saja?"

"Ya, tentu, ayo!" Mamanya memegang jemari Azam dan menariknya mendekati mobil.

Mereka bertiga masuk ke mobil menuju perumahan elit di tengah kota Magelang. Sesampai di gerbang yang menjulang tinggi dan kokoh, Azam menatap rumah itu, lalu menatap mamanya. Sampai hampir masuk rumah, Azam melakukan itu. 

Rumah itu mewah, bahkan jauh lebih mewah dibanding rumah mewah yang pernah ia tempati. Hawa sejuk menyeruak tubuhnya, ia memejamkan mata menikmati hawa sejuk setelah seharian berjubal dengan debu dan asap kendaraan. 

"Sini kamar kamu, ya. Mandi, dan istirahatlah." 

Ia mengangguk, melirik jam dinding berukir keemasan di setiap sisinya. Nampak elegan, dan itu pasti mahal. Azam merebahkan bobot tubuhnya yang lelah ke atas ranjang empuk dengan pendingin udara melengkapi kantuk pada matanya. Ia terhanyut, bangun karena perutnya terasa pedih. 

Azam membuka pintu kamar mencari dapur. Ada Mamanya yang sedang makan sendirian. Ia mendekat, duduk di samping kiri.

"Mama sengaja nggak bangunin, kamu pules banget tidurnya. Pasti lelah."

"Apa, ini Mama yang masak?" 

"Bukan, Mama jarang masak, habis isya ini Mama mau arisan, kamu dirumah sendiri nggak papa kan?"

Azam mengangguk, tak menanyakan apapun, meski dalam pikirannya banyak sekali pertanyaan.

Dua hari berlalu Azam tinggal di rumah Mamanya. Pekerjaannya makan, tidur dan beres-beres rumah. Ia merasa tak enak hati kalau tak melakukan apapun, hanya numpang hidup saja dengan Ayah sambung.

Rumah lengang, Azam masih merasa lelah, malam ini ia tidur nyenyak di tempat yang nyaman. Namun siapa sangka, tiba-tiba suara barang rumah pecah. 

"Ma, semalam itu suara apa, ya?"

"Oh, Mama nggak sengaja nyenggol guci."

"Oh," Azam merasa sesuatu telah terjadi.

"Kamu, masih mau sekolah?"

Hati Azam berdesir mendengar pertanyaan Mamanya.

"Mau,"

"Besok, Mama antar ke sekolah, ya."

"Besok?"

"Iya,"

Azam mengangguk. 

"Ma, pernah rindu Papa?"

Pertanyaan itu spontan terucap dari bibirnya, Mamanya menghentikan aktifitas mengecat kuku kaki. Perempuan itu tak menjawab, karena di belakang Azam ada suaminya yang menatap geram penuh amarah.

"Ma ...."

"Kenapa kamu ninggalin, Papa?" Mamanya kembali bertanya.

"Papa setres ditinggal Mama, ia jadi sering membawa perempuan ke rumah. Aku muak, jadi aku pergi."

"Papamu itu pembohong, dia menipu saya. Sekarang , sudah jatuh miskin, banyak tingkah, tidak becus mengurus anak. Liat aja, anaknya sampai datang ke sini, karena ... haus kasih sayang."

"Tutup mulut anda!"

"Hei! Berani kau membentak saya? Kau di sini itu menumpang. Tidak tau malu!"

Azam tertegun, dadanya tiba-tiba sesak. Ia menatap Mamanya yang tertunduk.

"Jangan menghina Papa saya, Om!"

"Kenapa? Kau itu tak jauh beda dengan Papamu. Besar marah."

"Papa saya menipu Om? Menipu apa?" Azam kini menedekati Danu yang sedang berkecak pinggang.

"Dia meminta saya untuk investasi. Tapi semua itu sia-sia, perusahaannya tetap bangkrut, uang saya tidak kembali. Bodoh tidak bisa mengolah perusahaan."

"Jadi, itu alasannya."

"Alasan apa?" Suara Danu kembali mengeras.

"Alasan perempuan itu meninggalkan Papa. Anda lebih kaya, dan pintar mengolah perusahaan."

"Saya memang mencintai istrinya, sekaligus ingin menyakiti Subhan. Lagian Mamamu itu tidak bisa hidup miskin." Danu dengan bangga mengatakan hal itu.

Azam mengangguk-angguk. Menetralisir perih di hatinya. 

"Sepertinya, saya ini hanya penghalang kebahagiaan orang." Ia melirik Mamanya yang masih menunduk.

"Ma, mau mengatakan sesuatu? Terakhir kali."

"Azam, tolong, mengertilah. Kamu harus bersikap baik dan menerima Papi Danu. Dia sangat baik."

"Ya, dia baik, bisa memenuhi semua keinginan Mama." Jawab Azam seraya tertawa.

"Azam, Papa kamu itu bodoh, tidak bisa mengurus perusahaan." Mamanya membela suami barunya, ikut merendahkan Subhan di depan anak kandung sendiri.

"Ya, Papa bodoh, karena memiliki istri yang banyak maunya. Ia tidak bisa bekerja dengan tenang. Menyeimbangkan kebutuhan dan kehidupan Mama yang serba wah. Harusnya, Mama menikahi Dia sejak dulu, agar tidak ada aku, di dunia ini." Azam menunjuk Danu yang memerah matanya.

"Azam!" Mamanya berteriak, agar Azam berhenti bicara.

Azam pergi ke kamar, ia mengemas barangnya. Amplop berisi uang penjualan arloji masih sembilan belas juta. Ia keluarkan dua puluh lembar.

Azam keluar mendekati dua orang yang sedang tak sehat kejiwaannya.

"Ini uang, biaya selama saya di sini. Terima kasih banyak, permisi."

"Azam, Azam!" Rindu memanggil Azam. Ia berhasil menarik lengan Azam.

"Azam. Mama minta maaf."

"Saya tidak tau harus bilang apa. Terima kasih untuk tujuh tahun dan sembilan hari di sini. Harusnya saya tidak hidup, karena hanya mengganggu anda."

"Azam," Tangis Rindu pecah, ada sesal juga sedih. Ia sakit mendengar kalimat darah daging yang ia siakan.


.

.

Bersambung ....