Loading...

Warna Darah Haid

November 19, 2021 Add Comment


💧 UDAH CEK WARNA DARAH HAID KAMU BELUM? 💧


Ternyata warna darah haid itu bervariasi loh, Yuspiners 😍

Tapi hati-hati, nih. Kita harus jeli dan juga memperhatikan setiap warna darah haid yang keluar, karena itu bisa jadi tanda kesehatan kita 🥰


💧 Darah Haid Berwarna Oranye

Darah haid juga bisa berwarna oranye. Kondisi ini muncul ketika darah bercampur dengan cairan serviks sehingga warnanya memudar. Warna orange juga dapat muncul sebagai tanda perdarahan implantasi saat sel telur yang telah dibuahi menempel ke rahim.


💧 Darah Haid Berwarna Pink Pucat

Pertanda kurangnya nutrisi tertentu, seperti zat besi sebagai tanda anemia.


💧 Darah Haid Berwarna Merah Muda

Pertanda kurangnya estrogen dan tanda ovulasi.


💧 Darah Haid Berwarna Merah Terang

Adalah warna darah haid normal.


💧 Darah Haid Berwarna Merah Tua

Pertanda kadar hormon yang tidak seimbang dan gejala fibroid rahim jika darah menggumpal.


💧 Darah Haid Berwarna Merah Keabuan

Pertanda ada infeksi bakteri.


💧 Darah Haid Berwarna Coklat

Adalah sisa darah yang mengendap di rahim atau bisa jadi pertanda kehamilan.


Tak perlu khawatir, Yuspiners 😊

Sangat normal jika warna darah haid berubah-ubah tiap bulannya. Bahkan, warna yang berbeda juga kerap muncul dalam satu kali haid. Pasalnya, ada banyak faktor yang bisa memicunya dan sering kali bukan masalah yang besar 🥰

Novel Santri Hasil Makian Bab 3

November 09, 2021 Add Comment
"Ambil! gak papa." Ungkap pria itu dengan lembut. Seketika hatinya berdesir, terasa begitu perih. Ini kali pertama ia membersihkan kaca mobil orang di jalan raya dan diberi uang.

_______


Perempuan di samping pria maskulin itu juga menyodorkan sebuah kantong kuning dengan merek berbentuk W di sisi depan dan belakang. Azam menatapnya hingga suara klakson mobil bersahutan.

"Ambil, dek!" Perempuan itu sangat cantik, rambutnya coklat bergelombang, juga berkacamata.

Azam menarik kantong dengan segera, kemudian ia menepi. Lelaki dan perempuan itu tersenyum seraya melambai. Sedang Azam hanya diam terpaku memegang selembar uang berwarna merah di tangan kirinya dan sebuah kantong di tangan kanannya.

Bulir air merembes di sudut matanya yang indah. 'Aku lupa rasanya kue ini' bisiknya dalam hati. Ia menyusuri jalanan berdebu, mencari tempat untuk menyantap kue satu kotak, masih utuh. Setelah beberapa suap, dadanya terasa mengganjal, rupanya kue tadi belum turun ke lambungnya. Perlu air agar berjalan dengan lancar di kerongkongan.

Azam membeli sebotol air mineral tak jauh dari tempatnya duduk. Ia kembali menyantap kue itu hingga habis. Air minum juga habis. Bulir air dari langit menjatuhinya satu per satu. Semakin banyak. Ia melihat sekawanan anak jalanan berlari terbirit-birit.

"Kenapa mereka? Masa iya, takut hujan? Aneh!" Gumamnya sendiri. Hatinya mencelos, seketika tangannya digelandang oleh lelaki bertubuh kekar berkumis tebal. Perutnya sedikit buncit, ada baton stick di tangan kanannya. 

"Sa-saya ... mau dibawa ke mana Pak?"

Lelaki itu tak menjawab, ia justru mengangkat tubuh Azam memasuki mobil pick up. Di sana sudah ada dua anak yang duduk. 

Dua anak itu tampak murung, wajah mereka pucat karena takut, atau mungkin karena lapar.

Azam memandang mereka serius. Sesekali ia melihat tangan dan kakinya. Ia nyengir melihat keadaan dua anak di depannya. Tangan mereka banyak koreng, juga sangat dekil. 

"Gimana? Mereka udah jauh. Aneh sekali, harusnya mereka senang, kok malah kabur." 

"Takut."

"Takut? Sama siapa?"

"Sama bosnya, lah. Sama siapa lagi?"

"Ya, kan udah gak bakal ketemu."

"Kalo ketemu, habis dia."

"Begitu?"

"Iya."

Dua lelaki itu mengepulkan asap rokok di sudut mobil, seraya meracau membuat Azam berkali-kali menggaruk kepalanya.

"Ya, udahlah, cabut aja!" Ajak lelaki yang baru saja datang membawa kantong plastik berisi nasi bungkus dan air mineral.

"Nih, bocil itu pasti lapar dan haus." Ia menyodorkan pada salah satu lelaki yang sedang merokok tadi.

"Oke, berangkat."

Mesin dinyalakan, mobil bergetar hendak melaju. Lelaki berkumis tebal itu membagikan nasi bungkus kepada mereka bertiga. 

"Saya mau dibawa ke mana Pak?"

"Panti sosial."

"Ngapain?"

"Kamu bisa main, sekolah, tidur nyenyak, makan enak, di sana."

"Benarkah? Terus, kenapa mereka terlihat tidak suka?"

"Karena mereka ini bodoh, tidak mau sekolah."

"Kenapa?"

"Haduh, banyak tanya. Makan nasimu itu, mumpung masih anget."

Azam diam lalu membuka bungkus nasi. Karet gelang yang mengikat bungkus nasi dipakai untuk mengikat rambutnya. Mata bulat kecoklatan itu nampak berbinar. Ia membayangkan perkataan Bapak di sebelahnya.

"Bapak polisi suka nangkap bocil ya?" Tanya Azam.

"Iya, biar pada sekolah, bukan keluyuran." Jawab polisi itu tegas.

"Kan cari duit, Pak." Jawab anak bertubuh kurus di depan Azam.

"Belum waktunya. Seusia kalian itu waktunya main dan belajar ... menuntut ilmu? Biar pintar."

"Apa kalo pintar bisa punya banyak uang?"

"Oh iya jelas, dengan sekolah, kamu bisa jadi presiden, menteri, dokter, polisi seperti Bapak. Bisa jadi apapun yang kamu mau lah." 

Azam diam mengangguk. Ia memang sangat ingin tetap sekolah.

"Kamu ... bawa apa di tas?

Kamu kabur dari rumah ya? Ayo, kita antar pulang saja anak ini."

"Jangan Pak!" Teriak Azam hingga membuat anak yang sedang menyuap nasi tersedak.

"Loh, kamu punya orang tua kan?"

"Iya, tapi mereka tidak sama-sama lagi."

Kedua polisi itu diam, mereka saling tatap. Memutuskan untuk tidak lagi mengatakan apapun.

"Saya mau sekolah, mau tinggal di panti aja."

"Baik." Jawab polisi berkumis tebal.

"Aku tau gimana rasanya," tambah polisi yang terlihat masih muda dengan tahi lalat di jidat kiri di atas alis.

Azam melirik dua anak di depannya yang melahap dengan cepat makanan mereka. 

"Kamu tadi ... cuci tangan nggak?"

Mereka menggeleng kompak. Azam menjadi tidak berselera makan.

"Kamu mau lagi?"

Mereka kompak mengangguk.

Azam menyodorkan nasinya, terlihat mereka berbagi lalu dengan sekejap nasi dan lauk itu ludes.

Azam menghela nafas, perutnya terasa mual. 

"Pak, saya mau muntah." Ia menyentuh lengan Pak Polisi.

"Ini, plastik."

Tak pakai waktu lama, Azam memuntahkan isi perutnya. Kue nikmat tadi pun ikut keluar juga. 

"Eh, maaf." Ia menyadari, merasa tidak sopan karena muntah di depan orang yang baru saja selesai makan.

"Sayang sekali, padahal enak." Jawab salah satu anak itu. 


Mendengar kalimat itu, Azam kembali muntah, hingga dadanya terasa sakit.

Ia lemas, bersandar di bahu Pak Polisi yang kekar. 

"Nama kamu siapa?" Tanya Azam kemudian, agar pikirannya teralihkan dari perasaan jijik yang membuatnya muntah.

"Pino." Jawab anak lelaki yang memiliki koreng lebih banyak dari yang di sebelahnya.

"Kamu?" Tanya Azam pada anak berambut pirang.

"Mail."

"Aku Azam." 

"Kenapa badanmu bersih dan nggak keliatan kaya gembel." Celetuk Mail.

"Karena anak baru." Kalimat itu keluar begitu saja.

"Oh."

"Kamu mabuk naik mobil?" Tanya polisi yang masih muda.

"Iya." Jawab Azam mengangguk. Tentu saja ia tak akan jujur, kalau merasa sangat mual karena melihat kedua anak di depannya.

Tak terasa, mobil pick up pun berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar setinggi dua meter berwarna hitam. Halamannya sangat luas, terdapat beberapa jenis tanaman hias dan buah. 

Azam dan kedua temannya mengikuti langkah ketiga polisi. Di pintu mereka disambut dengan ramah oleh dua perempuan yang memakai seragam biru muda, mereka terlihat masih muda. 

Satu orang lagi perempuan paruh baya memakai gaun batik, kulitnya kuning bersih, meski sudah nampak keriput di beberapa bagian tubuhnya, namun masih terlihat cantik. Kacamata tebal, bibir merah dan rambut pendek dengan uban, membuat warna rambut tak lagi hitam, tapi keabuan.

Mereka bersalaman, Azam pun ikut mencium tangan ketiga perempuan itu. Beberapa anak penghuni panti keluar menemui bakal teman baru mereka. Anak kecil berambut panjang bermata sipit, terlihat menyenggol tangan temannya.

"Ganteng banget sih, ih gemes. Kaya oppa korea."

Temannya tadi mengangguk dan tak melepas pandangan kepada Azam. Azam pura-pura tak mendengar. Sebenarnya ia merasa risih dilihat dengan cara seperti itu.

Dua perempuan berseragan biru muda, mengantar ketiga anak itu masuk ke dalam untuk berkenalan dengan anak-anak panti. Mereka juga ditunjukkan sebuah kamar. Azam akan tidur satu kamar yang telah membuatnya muntah di mobil tadi.

Hari berlalu, bulan berganti tahun. Azam diperlakukan dengan perlakuan khusus, ia termasuk yang tak pernah mendapat hukuman. Selain berprestasi di sekolah dan memiliki wajah rupawan. Ia juga ringan tangan. Siap melakukan pekerjaan apapun.

Kini usianya menginjak enam belas tahun. Ia menjadi kebanggaan panti. Meski ia selalu menutup diri dari perempuan, namun mereka masih saja mendekati. Tak terkecuali mbak yang sering memakai baju seragam. Nina nama perempuan yang sudah berusia kepala tiga namun belum menikah. Ia begitu sangat menginginkan Azam. 

Azam yang tumbuh seperti harapan, memiliki tubuh atletis. Secara fisik, ia sama sekali tak ada kekurangan. Ia dingin, tapi menawan. Rambutnya tak lagi panjang saat pertama kali datang. Gaya rambut soft side parting menjadi jenis potongan favoritnya sekarang. Karena peraturan sekolah tidak boleh berambut panjang.

Nina sudah tak lagi bisa menahan gejolak dalam dirinya, ia selalu mencari kesempatan untuk memiliki Azam. Memenuhi nafsu bejatnya yang sudah lama ditahan.

Siang itu gerimis sejak pagi, sebagian anak panti menghadiri undangan  bersama bunda Dara. Pemilik panti yang sering memakai kacamata tebal dan berambut pendek juga suka memakai gaun batik.

Hari minggu, hari santainya anak panti, kalau tidak sekolah, mereka hanya rebahan di kamar setelah membantu membersihkan rumah. Pino dan Mail tak berada di kamarnya. Hanya ada Azam yang sedang membaca komik Naruto. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Azam membukanya tanpa menduga kalau itu mbak Nina. 

"Iya, Mbak?"

"Mbak mau minta tolong kerikkan leher. Kayanya masuk angin." Ucapnya seraya memijat leher dengan tangan kirinya dan tangan kanannya memegang balsem.

"Emang anak cewek gak ada, Mbak?"

"Kan, pada ikut Bunda."

Azam terdiam cukup lama. Rasanya berat, tapi kasihan. Bagaimana kalau mati karena masuk angin?

"Oke." Jawabnya kemudian.

Nina merasa kegirangan.

"Di kamar, Mbak aja ya." Pintanya.

Azam mengikuti langkah Nina.

"Loh, kok ditutup?" Azam mulai merasa resah.

"Gak apa. Ntar diliat orang," Ucapnya seraya membuka pakaian.

"Loh? Katanya cuma di leher?"

"Sekalian Zam. Kamu nggak lagi sibuk, kan?"

"Enggak sih. Tapi kan, nggak enak, aku bukan anak kecil lagi, Mbak."

"Dulu ... kamu sering meremas *******a Mbak, apa sekarang nggak kepingin lagi?"

Azam termangu, ia lupa pernah melakukan itu. Dulu sama sekali tak mengerti maksud Nina. Tapi sekarang ... ia mulai paham. Kalau Nina ini tidak beres.

"Maaf Mbak, aku nggak bisa ngerikin Mbak." Ia meletakkan balsem di kasur dan melangkah pergi. Memegang knop pintu hendak dibuka, tapi tidak bisa. 

Ia menoleh ke Nina yang sudah tak memakai baju. Tiba-tiba ia teringat mamanya, teringat perempuan yang sering dibawa papanya pulang. Jantung Azam mulai berdegup tak beraturan, amarahnya meluap-luap. Namun ia masih bisa menahan.

"Berikan kuncinya!" Bentak Azam.

"Hmm ... kenapa sih Zam? Mbak juga cantik, seksi, apa kamu ingin melihat yang lain juga?"

"Kau gila!" Hardik Azam.

"Ya ... aku sudah lama tergila-gila padamu. Menginginkanmu. Betapa sabarnya aku menunggu kamu tumbuh sebesar ini." 

"Menjijikkan!" Azam menepis sentuhan Nina.

Nina emosi karena ditolak dan dihardik oleh Azam. Ia memeluk Azam dari belakang. Sedang Azam berusaha keras membuka knop pintu. Knop pintu itu lepas. Nina terpelanting ke belakang, tangannya meraih kunci yang diselipkan di bawah bantal, dengan segera membuka pintu dan berlari, seolah sesuatu yang buruk sedang menimpanya. Azam yang sedari tadi berdiri, terjatuh karena dipukul Nina menggunakan vas bunga. Kepala Azam berdarah, Nina keluar bermain drama.




Bersambung ....

Cerpen Pilihan Tepat Wanita Cermat

November 05, 2021 Add Comment

Siang ini hujan turun cukup lama, selokan mulai penuh dan melimpar, halaman kampus menjadi tergenang air. Aku duduk di bangku teras kelas begitu menikmati aroma khas dari hujan, airnya mengenai apapun yang ada di sekitar. Suara brisik obrolan dua orang di kiri dan kananku, menjadi melodi menyusup antara rintik air yang jatuh dari langit. 

Sebab merasa sebagai penghalang, aku berdiri tapi bukan untuk pergi hanya pindah tempat saja, biar mereka berdua bicara dengan leluasa.

“Eh Mel, mau ke mana?”

“Kamu sebelah sana.” Aku menyuruh Siska duduk di samping Diana, “Biar aku tak jadi orang ketiga dan penghalang cinta kalian.”

“Hahaha.” Mereka berdua kompak tertawa.

“Kenapa?” Aku menampakkan wajah datar dan mereka menjadi semakin terbahak. Aku melengos mendekap kedua tangan. Hujan ternyata memberi efek dingin pada tubuh.

“Mela tu lagi ngayal.” Bisik Siska ke Diana terdengar jelas.

“Seru lho!” Aku mencebilkan bibir ke mereka.

“Haha, dasar aneh.” Siska menepak bahuku, rasanya enak seperti dipijat.

“Lagi donk.” Kataku kemudian.

“Apanya?”

“Bahuku lagi pegal, abis nyuci seabrek pagi tadi.”

“Dih, dasar.” Diana ikut memukul bahuku.

“Jadi main keroyokan nih.” Kami semua tertawa. Tiba-tiba ingat Dewi, “Eh, kriting mana ya?” Siska celingukan. 

Kami memanggilnya keriting, karena rambutnya yang keriting seperti mie. Namun tak terlihat sebab ia selalu memakai kerudung ketika bepergian. Panggilan ini kami sepakat hanya digunakan saat berempat saja. Ketika bersama orang lain kami memanggil dengan sebutan nama.

Sebenarnya masing-masing punya nama julukan, panggilan sayang katanya. Ini muncul begitu saja saat tengah makan di kantin Darma lantai satu kampus. Semua  gara-gara Siska. Dewi selalu memesan mie di kantin, akhirnya Siska spontan bilang ‘dasar keriting makan mie mulu’. 

Sedangkan Diana orangnya kalau melakukan sesuatu harus perfect, gak boleh ada kesalahan. Misal dalam penyusunan makalah, penggunaan huruf, susunan kata dan prosedur penulisan harus sempurna, meski yang tukang ketik itu aku.

Sikap yang berbeda daripada yang lain ketika menghadapi sesuatu, seperti keadaan tegang saat ujian, justru tertawa melihat ekspresi mereka. Ketika dimarah sedih, justru tersenyum dan bilang ‘ya karna memang aku yang salah’. Suka tiba-tiba diam, tertawa sendiri. Dan karena keperfectannya seorang teman, sering membuat kesal, tapi tetap enjoy dan merasa baik-baik saja. Sebab inilah Siska menyebutku si aneh.

Nah kalau Siska, kami bertiga menyebutnya cerewet, karena apa yang di lakukan temannya selalu dikomentari. Komentarnya mengandung kebaikan sih, tapi menciptakan kebisingan.

Dewi si kriting, Siska si cerewet, Diana si perfect dan aku Mela si aneh.

Dewi datang seraya memegang perut, wajahnya nampak pucat seperti belum sarapan. Tangannya dingin, kami curiga dia patah hati akut, sebab kemarin dia diputusin pacarnya. Parahnya lagi, saat dia curhat, kami seolah janjian bilang ‘Alhamdulillah’.

“Kamu kenapa Dew?” Diana menghampirinya lalu memegang lengan Dewi memapah mendekati kami.

“Kita bawa ke UKS aja. Yok.” Aku meraih tangan Dewi, disusul Siska dan Diana.

UKS kampus berada di lantai satu. Sesampai di sana aku meminta petugas kesehatan untuk memberikan sesuatu biar sakit di perut hilang dan staminanya pulih kembali.

Qodarullah dokter ada di tempat, jadi kami juga bisa konsultasi untuk Dewi yang selalu merasa sakit ketika haid. Setelah minum paracetamol Dewi tak lagi menekan perutnya dan keringetan.

“Nanti di rumah coba buat obat herbal sendiri, bisa dicatet takutnya lupa.” Dokter cantik ini meminta kami untuk mencatatnya.

“Kunyit 2 jempol, jahe satu jempol, sereh 1 batang. Kemudian direjang halus masukkan juga asam jawa dan gula aren secukupnya. Direbus sampai mendidih, minumnya dalam keadaan hangat ya.” Suaranya lembut, dengan bahasa yang tertata dan lugas, nampak betul bahwa ia orang berpendidikan tinggi.

“Manfaatnya buat ngilangin nyeri haid ya Dok?” Tanyaku setelah selesai menulis resep.

“Itu bisa untuk keputihan, haid yang tidak teratur atau yang tidak haid, haid yang disertai nyeri dan juga bisa untuk progam hamil.”

Kami mengangguk kompak.

“Wah, ternyata... Baru tau.” Kami saling pandang, ilmu baru kami dapatkan dari seorang dokter hari ini, siap mempraktikkannya.

Nyeri haid menjadi keluhan para wanita, meski tak semua tapi sebagian besar begitu. Hanya saja tingkat rasa sakitnya berbeda.

Kami kembali ke kelas, hujan mulai reda, tinggal rintik kecil saja, namun menyisakan air yang banyak di halaman kampus. Butuh waktu untuk air itu menyusut dan habis meresap ke tanah. Pelataran yang sudah rata dengan bata tertata rapi, membuat air lama meresap. Selokan juga jarang dibersihkan, banyak sampah di dalamnya.

Dosen jam kedua pun tak datang. Mungkin karena hujan. Kami harus menunggu lagi, masih dengan harapan.

Tempat duduknya sudah terisi karena ditinggalkan ke bawah. Kami masuk dan duduk di dalam. Tiga jam sudah kami di kampus ini.

“Eh Dew, kamu pake pembalut apa sih?” Aku bertanya setelah semua duduk dan memakan jajanan kripik pisang yang dibawa Diana dari rumahnya.

“Pembalut biasanya, sekali pakai itu. Beli di warung”

“Kamu mau nggak nyoba pembalut yang biasa aku pakai, aku pernah nunjukin ke kamu kan?”

“Iya, tapi kok mahal sih.”

“Mahal di awal, kamu cukup beli sekali aja. Kalo diitung-itung jatuhnya lebih hemat Dew. aku pake aja udah dua tahun ini dan masih bagus. Aku gak lagi ngelaurin duit tiap bulan buat beli pespak.”

Diana dan Siska saling senggol, Siska bilang. “Promosi.” Diana mengangguk-angguk.

Aku tertawa. “Diana pake juga kan?” Aku melakukan aksi testimoni.

“Iya, enak, ada anti bocornya jadi gak takut tembus, aku juga gak ngerasaain iritasi lagi, gatal, ruam, semua bye-bye deh.”

Kami semua tertawa. Sepertinya Diana juga jago marketing, buktinya aku tergoda membeli skincare yang dia jual.

“Tapi serius deh, kamu coba aja dulu, nanti buktiin sendiri. Lagian sebagai anak geografi kita juga harus memperhatikan dan menjaga lingkungan. Berdasarkan penelitian, sampah pembalut mencapai 26 ton perhari. Satu perempuan bisa sampe 9000 menghasilkan sampah pembalut seumur hidupnya. Satu sampah pembalut aja liatnya aja gimana gitu, apalagi sampe segitu banyaknya. Kebayang gak sih. Sampahnya dibakar jadi polusi, dibuang bisa mencemari air, dikubur butuh ratusan tahun untuk bisa terurai. Ngeri kan?”

“Oh My God.” Siska kambuh nyeletuknya. “Mantap Mel, aku mau beli juga, tapi bayar nyicil boleh?”

“Gak papa, boleh banget. Asal gak ada tawar harga.” Jawabku santai.

Lagi-lagi kami tertawa. 

“Iya, inget ceramah yang kita tonton waktu itu, harus mendukung usaha teman, dengan membeli pake harga normal.” Kami mengangguk membenarkan celoteh Diana.

“Ntar ambil aja di rumah, aku punya stok tiga paket. Emang kok pas haid kita dianjurin pake pembalut kain, atau celana dalam menstruasi ada juga menstrual cup.”

“Apaan menstrual cup?” Siska mengajukan pertanyaan seperti sedang kumur-kumur, mulutnya penuh dengan makanan.

Aku menunjukkan gambar dan penjelasan tentang menstrual cup, mereka membacanya sendiri.

“Aku pake pembalut yang kayak kamu ajalah Mel, ngeri aku.” Kata Dewi setelah membacanya.

“Hahaha, terserah, aku kan cuma nunjukin opsinya aja. Ngeri tu karna kita belum pernah nyoba. Bagi yang udah biasa, nyaman-nyaman aja.”

“Iya sih.” Katanya kemudian.

“Tapi aku tu suka jijik juga nyucinya Mel.”

“Ck, kamu ini Dew, darah haid sendiri aja jijik. Emang kalo kamu pake yang sekali pakai gak dicuci dulu ya, langsung buang gitu?”

“Kuinjek-injek pake kaki, masuk plastik terus buang.” Jawab Dewi seraya menggerakkan kakinya.

“Hmmm, terlalu.”

“Setan seneng banget itu,” Siska nyeletuk.

“Ih.” Dewi meringis.

Jualan itu bukan soal berapa jumlah angka yang mengalir ke rekening kita, tapi seberapa bermanfaatnya untuk banyak orang. Apalagi para wanita harus menjaga kesehatannya dengan memakai produk yang aman dan ramah lingkungan. 

Pembalut sekali pakai mengandung pemutih dan ini sangat membahayakan para wanita yang memakainya, pemutih mengendap bisa menimbulkan penyakit berbahaya, seperti kanker serviks, yang membunuh banyak wanita di Indonesia.

Menjaga kesehatan adalah bentuk mencintai diri.



_SELESAI_

Novel Santri Hasil Makian bab 2

November 01, 2021 Add Comment


Cover by me

"Iya, kamu kenalan dulu sama cewek cantik ini."


"Di dunia ini tidak ada cewek cantik dengan mulut lemes Pak!" Jawabnya, namun terlihat pak Rozak menelan ludah. Matanya mengerjap dengan kerap lalu kembali normal.

Entah kenapa nafasnya juga berat, Azam tak mungkin salah bicara. 

"Begitu?"

Pak Rozak menanggapi.

"Iya." 

Angguk Azam.

"Baiklah, saya mau memberi taumu sesuatu, boleh?"

"Silakan!"

"Meski kamu membenci seseorang, jangan memperlakukannya dengan buruk, kalau dia menghinamu, pergilah sejauh mungkin, agar telingamu tak lagi mendengar suara yang membuatmu sakit. Jangan menyakiti fisik, apalagi itu perempuan, paham?"

"Akan saya coba Pak. Apa hanya itu?"

Pak Rozak mengangguk. 

"Saya boleh keluar?"

Ia mengangguk lagi. 

"Saya permisi." Azam mencium tangannya dan melenggang pergi.

"Zam!" Ternyata Hengky menunggu di teras kantor, ia menyapa duluan lalu menggandeng tangan Azam.

"Kamu mau ke perpus kan?"

"Iya," angguk Azam.

"Aku mau tunjukkan sesuatu."

"Apa?"

"Ayo, di perpus aja!"

Sesampai di perpus, Hengky mengeluarkan buku gambar yang dipegangnya sedari tadi. Azam sempat melirik saat di jalan, tapi tak terlalu menghiraukan.

Azam menatapnya. Menunggu sebuah kalimat penjelas.

"Aku menggambar kamu yang lagi dorong Sinta. Tara ...."

Mata Azam melotot, coretan pensilnya seperti nyata.

"Waaw, keren banget, bakal jadi seniman sejati kamu Ky," tuturnya seraya menepuk bahu Hengky.

"Aamiin, kita pajang di mana ya?" Hengky merasa terbang setelah dipuji sahabatnya itu, persahabatan yang baru berusia satu bulan.

"Di mading." Jawab Azam cepat.

"Nah, biar semua orang liat. Aku sebel banget tau sama Sinta itu, mana centil, mulutnya nyerocos, suka ngomongin orang. Ih!" Azam melihat Hengky bergidik, ternyata tak hanya ia, yang tidak suka perempuan lemes. Batinnya.

"Biar kapok, dia," Hengky tertawa puas.

Azam tersenyum melihatnya yang ekspresif.

"Pulang sekolah aku ke rumahmu, ya?"

"Jangan langsung, aku mau istirahat dulu."

"Oke, jam dua deh."

"Oke."

"Bantu warnai ini dong, biar cepet selesaj!" Hengky menyodorkan pewarna.

"Warna apa ya?" 

Hengky memainkan pensilnya ke meja, sehingga menimbulkan suara.

"Putih merah dong. Kan kejadiannya di sekolah."

"Hahaha. Iya ya."

Mereka asyik memberi warna pada lukisan, sampai tak mendengar suara bel masuk. Sekolah lengang, dua anak itu langsung memasang lukisan di mading kemudian masuk ke dalam kelas. 

"Eh, mamanya Azam nikah lagi loh, sama om pake mobil mewah."

Sesaat Azam dan Hengky masuk, Sinta mulai membeo lagi, membicarakan orang tua Azam.

"Emang kamu liat Sin?"

Tanya teman sebangkunya.


"Liat, dia bawa koper gede."

Gigi Azam gemeletuk mendengar ocehan Sinta dan temannya. Ia beranjak dan memindahkan pantatnya ke sudut kelas, bertukar tempat dengan anak bertubuh tinggi, lebih tinggi darinya.

Jam belajar berakhir, Azam dan Hengky pulang bersama. Cukup lelah berjalan kaki. 

"Ayo, mampir dulu. Nanti ke rumahmu sama-sama."
Tawar Hengky pada Azam.

"Kamu nyusul aja gak papa dong? Aku banyak kerjaan, nanti kita gak bisa belajar kalo kerjaanku belum selesai."

"Ehm ... Oke deh."

Azam bergegas pulang, di jalan dihadang Sinta. Ia masih saja merasa kurang puas sudah menggunjingnya sedemikian rupa. Ucapan Sinta kali ini benar-benar membuat ia murka. Azam menjambak rambutnya dan mendorong tubuh Sinta, hingga jatuh. 
Tetangga dekat rumah seketika berkerumun. Tante Darmi marah besar karena Azam sudah menyakiti putrinya.

"Dasar kamu! Bapak dan anak memang sama, suka main tangan, pantes aja istrinya gak betah. Kasar sih!"

"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, memang." Jawab salah seorang dari belakang.

"Cukup!" 

Bentak Azam pada mereka yang mencibir. Ia berlari menuju rumah, membanting pintu dengan keras. Ia keluarkan semua yang menyesakkan dada berupa air mata. Setelah merasa baik, Azam menata tubuh dan mengganti pakaian. Ia mencari sesuatu di lemari dapur, menemukan sebungkus mi instan lalu diseduh dan memakannya dengan lahap. 

Azam bergegas membersihkan rumah, karena Hengky akan segera datang. 

Tiba-tiba suara pintu diketuk. Ia membukanya, Hengky sudah rapi dan wangi. Terbesit rasa iri padanya. 'Andai mama ... ah, tidak. Aku sudah membuangnya dari ingatan'.

"Eh, ayo masuk! Duduk dulu ya," Azam ke belakang mengambil air minum.

"Aku, tidak punya makanan, cuma air ini."

"Gak papa ... ibu tadi bawain ini." Hengky mengeluarkan sekotak wafer dari dalam tasnya. Isinya ada sekita dua puluh bungkus.

Azam tersenyum menatapnya yang juga tersenyum. Tatapannya hangat, cukup menenangkan seorang Azam. Hatinya terasa sangat getir. Belum lima belas menit mereka mengerjakan soal-soal, suara mobil papanya terdengar. Mereka yang berada di ruang tengah terkejut saat pintu didorong kasar. Azam menatapnya geram, ia membawa perempuan berpakaian serba kecil dengan bibir terlihat seperti cabai merah.

"Eh, anak papa. Belajar yang rajin ya." 

Papanya mengelus kepala Azam dengan tubuh sempoyongan dan masuk ke kamar. Perempuan itu merebahkan tubuh papanya ke ranjang. Azam dan Hengky diam, saling menatap dan melirik tingkah mereka.

Perempuan itu keluar, meletakkan bungkusan yang entah apa isinya di atas meja dihadapan dua anak itu. Jangankan menegur, melihat Azam saja tidak. Azam merasa jijik dengan bingkisan itu, hendak dibuang namun Hengky menghentikan.

"Jangan dibuang, itu makanan. Kalo kamu gak mau, biar aku yang makan." 

Hengky membuka bingkisan itu, aromanya nikmat, mulut Azam mulai berkuah.

"Cobain deh, enak." Pintanya.

Azam menelan ludah, perut kecil itu belum sepenuhnya kenyang, sebab hanya diisi mi instan satu bungkus tadi. Hengky menyuapkan ayam goreng ke mulut Azam.

"Enak kan?" Tanyanya. Azam mengangguk pilu.

"Yuk, kita habiskan." 

Azam begitu lahap, sedang Hengky mulai memperlambat makannya. Entah kenyang atau tak tega melihatnya seperti orang kelaparan. 
Makan sudah, belajarpun telah lelah, mereka memutuskan lanjut besok. Hengky pamit pulang. Perempuan itu entah di mana. Kemudian papanya keluar dari kamar.

"Kenapa?" Tanyanya saat Azam menatap tajam.

"Kalau kamu gak suka, pergi aja, pergi jauh, jauh." 

Seraya sempoyongan, tangannya melambai seolah muak terhadap Azam yang hanya menjadi beban baginya.

Mata Azam melirik ke kiri, ternyata perempuan itu tergeletak di kamar. Di dalam hati, ia berharap tak lagi bernyawa. Azam pergi ke kamar, tak mengindahkan papanya. Ucapannya tadi membulatkan tekad untuk pergi. Ia menata pakaian ke dalam tas dan beberapa buku. 

Suara pintu tertutup dengan keras, lalu perempuan itu terdengar marah karena terkejut. Papanya tertawa, sedang Azam merasa begitu jijik. 

Selembar kertas berisi tulisan, ia letakkan di atas dipan kamrnya, "aku pergi, selamat bersenang-senang." 

Berharap papanya baca. Azam melangkah keluar meski tak tau arah tujuan. Jalanan sepi, tak ada sesiapapun, ingin hati hendak pamit ke Hengky, namun ia tak, karena Hengky pasti melarang. Hatinya ini sudah terlanjur sakit, lagian malu berteman dengan Hengky dengan keadaan keluarga yang buruk.

Azam menulis di kertas, "aku pergi, semoga kita bertemu lagi." Kertas itu ia selipkan di pintu pagarnya.

Hidup di jalanan, punya sedikit uang untuk makan, tapi tidur di mana tempat selama tak kehujanan. Tak sekali disiram air atau dihardik karena dianggap akan mengotori tempat dagang mereka. Kemudian Azam melihat bangunan kokoh dan bagus, ada orang berlalu lalang keluar masuk dengan pakaian rapi, ada yang mengenakan sarung dan kopiah. Ada juga perempuan berkerudung dan tidak berkerudung. Ini masjid, batinnya. Azam memutuskan untuk mampir, bukan untuk solat, melainkan merasa haus dan lapar. Air keran sepertinya sangat nikmat membasahi kerongkongan yang kering.

Setelah minum hingga terasa kenyang, Azam duduk di teras paling sudut, merasa diri kotor, berhari-hari tak mandi. Kemudian ada seorang lelaki muda mendekatinya.

"Dek, kamu sudah makan?"

Azam menggeleng. Ia memang terlihat seperti gelandangan? 

"Maaf kak, saya boleh mandi di sini?" Tanyanya kemudian.

"Boleh dong. Sana, mandi! Habis mandi tunggu kakak di sini, ya!"

Azam mengangguk dan mengucap terima kasih. Bergegas berlari ke kamar mandi, ia mengguyur tubuh dengan air, rasanya begitu nikmat. Ada sabun cuci tangan di dalam botol. Ia memakainya untuk menggosok tubuh agar wangi. Bahkan digunakan untuk mencuci rambut.

Lelaki muda itu ternyata sudah duduk lebih dulu di tempat yang dijanjikan. 

"Ini ada nasi bungkus, kita makan bareng yuk."

Azam menatapnya. "Ayo, jangan melamun," pintanya.

"Ngomong-ngomong, rumah kamu di mana?"

"Pakjo."

"Loh, kok bisa sampe sini? Mana bawa tas, isinya berat." Katanya seraya mengangkat tas sebentar dan meletakkannya kembali.

"Kamu marah sama orang tua ya? Karena gak dibeliin mainan?"

Azam diam menunduk, menghentikan suapan.

"Ya udah gak papa, habis makan pulang ke rumah ya. Mungkin ibumu lagi gak punya uang, jangan memaksanya, kasian."

Azam menatapnya. 'Kalau saja kakak tau rasanya jadi aku' bisiknya pelan.

Nasi sebungkus dengan lauk ikan sambal dan sayur kangkung telah habis. Perutnya terasa sangat penuh, porsi nasi bungkus ini sangat banyak. Kalau bukan karena tak makan sejak pagi, mungkin hanya habis separuh saja.

"Makasih ya, kak,"

"Sama-sama," jawab lelaki muda itu, sambil tersenyum.

"Aku pergi dulu."

"Oke, hati-hati ya."

Tangannya melambai.

Azam mengangguk seraya tersenyum, pun ia, tak kalah tangannya juga melambai.

Azam kembali menyusuri jalanan dengan suara bising dan asap kendaran bercampur menimbulkan bau yang khas. Selama berjalan ia berpikir, kalau tak bekerja, mau makan apa. Apa yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang? Seketika terlintas ide cemerlang di otaknya yang memang cerdas.

"Kasian ya, ganteng loh padahal," bisik seorang perempuan dari dalam mobil yang kini kacanya sedang dibersihkan menggunakan kain, yang dipungut dari kotak sampah dekat warung di persimpangan jalan. Mereka dari keluarga kaya, mobilnya bagus. 

Lampu yang tadi merah sudah berubah kuning, kemudian kaca mobil diturunkan separuh.
Seorang pria berpenampilan maskulin mengulurkan uang berwarna merah dan seorang perempuan menyodorkan makanan. Azam menatap mereka cukup lama, antara mau ambil atau tidak.

"Ambil, gak papa!" Ungkap pria itu dengan lembut. Seketika hatinya berdesir, terasa begitu perih. Ini kali pertama membersihkan kaca mobil orang di jalan raya dan diberi uang.

.

.

Bersambung .....



Novel Santri Hasil Makian bab 1

Oktober 27, 2021 Add Comment

Cover by me pakai PPT

Suara gaduh dan teriakan kembali terdengar dari balik pintu kamar. Tak ada siapapun di ruang tengah, Sepertinya itu suara dari dalam kamar mama--papa, yang pintunya saling berhadapan. Tak lama kemudian mama keluar membanting pintu dengan keras. Jantung seketika mencelos, Aku mengintip dari pintu yang sudah mulai lapuk dimakan usia.


"Aku gak tahan sama kemiskinan ini Bang, kalau kau gak juga punya pekerjaan, aku akan pergi!" 
Kata mama yang sudah membawa tas kecil di tangannya. Sampai detik ini aku tak mengerti, mama selalu pergi setelah bertengkar dengan papa.

"Pergi saja kalau kau tak perduli dengan anakmu!" Teriak papa dari dalam kamar.

Aku melihat mama melangkah masuk, mendekati papa yang sedang bicara.

"Selain kau, dia juga beban, sama sekali tidak menguntungkan! Harusnya aku mencekik dia dari dulu!"

Bulu halus di sekujur tubuhku meremang, hati seperti disayat sembilu. Air di pelupuk mata menganak sungai. 

"Kau memang sudah gila Rin!" Teriak papa.

"Ya, aku memang sudah lama gila, kalau masih tinggal di rumah ini, bisa-bisa mati."

Terlihat mama mendekati pintu kamarku, belum sempat pindah tempat, mama sudah mendorong dengan kasar. Aku terpelanting dihempas pintu.

Mama masuk begitu saja, tak menghiraukan sakit tubuhku karenanya.

"Mama cari apa?" Aku menghampiri ia dan bertanya.

"Minggir!" Tangan mama dengan sigap mendorong tubuhku hingga jatuh lagi. 

Entah apa yang ia cari dari dalam lemari pakaianku. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan celengan berbentuk ayam. 

Prak! Celengan terbuat dari tanah liat itu kini berhamburan di lantai, uang kertas berwarna biru dan merah berserakan.

"Banyak juga duitmu ternyata, berguna." Katanya seraya menatap tajam dan tersenyum. Senyum yang entah artinya apa.

"Kamu sudah gila Rin. Itu tabungannya Azam!" Papa masuk setelah mendengar suara celengan yang dihempaskan ke lantai.

"Bodo amat!" Mama menjawab dengan santai. Setelah uangnya terkumpul digenggaman, ia bergegas pergi.

"Rin, Rindu, kembalikan uangnya!" Papa berusaha menarik tangan mama, mama menepis dan kaki papa tersandung kursi. Ia mengunci kami di dalam kamar. 

Aku dan papa terdiam saling menatap.

"Kaki papa sakit?" 

Papa mengelus kakinya. Aku beranjak dan mengambil minyak gosok di dalam laci meja. Kugosok kaki papa lalu mengurutnya perlahan. 

"Makasih ya nak." Papa meraih kepalaku dan diletakkan di dadanya yang bidang. Terdengar jelas degup jantungnya yang tak beraturan. 

Dua belas jam dua puluh lima menit, aku dan papa terkunci di dalam kamar. Mama belum juga pulang. Tak ada jalan keluar, jendela terpasang terali yang kuat. Kami menahan lapar berharap mama segera datang membuka pintu.

Ctek! ctek!

Suara kunci pintu terbuka. Kulihat mama dengan dandanan yang rapi dan jemarinya menggenggam erat gagang koper berukuran besar. Pakaiannya sudah ganti. Mungkin ia pulang sedari tadi, berhias dan menata pakaian ke dalam koper yang tubuhku pun muat di dalamnya.

"Urus anak itu!" Telunjuknya menunjuk ke wajahku. 

"Aku sudah gak sanggup lagi hidup miskin, apalagi dengan kamu, pemalas dan suka mukul." 
Ia pergi begitu saja tanpa menyentuhku. Darah mengucur di dalam dada. Aku mematung menatapnya yang seperti monster. Kulirik ke arah luar, sebuah mobil mewah terparkir di halaman. 

"Pergi aja, bodo amat, perempuan susah diatur." Papa membalas makian mama.

Aku menyusul mama keluar, ia masuk ke dalam mobil, sepertinya lebih mahal dari mobil papa. Satu tahun berlalu sejak usaha papa gulung tikar, mereka menjadi sering bertengkar. Ditambah papa sudah menjual rumah mewahnya dan membeli rumah berukuran lebih kecil dengan sedikit barang. Kini usiaku sudah sepuluh tahun, dan harus tumbuh tanpa kasih sayang mama lagi.

________________


Azan magrib berlalu tiga puluh menit, aku merasa sangat lapar. Membuka tutup saji hanya ada piring berisi sepotong tahu goreng. Aku melirik ke arah kamar, papa sedang duduk bersandar dipan. Tatapannya kosong. Pasti perutnya juga kosong.

Aku membawa tahu goreng dan mendekatinya.

"Pa, mau?" Aku menyodorkan tahu goreng berwarna kekuningan itu.

Ia mendongak, menatapku nanar.

"Papa sampai lupa, kita belum makan sejak tadi." Lirihnya.

Pipiku mengembang, biar papa tidak terlalu merasa bersalah. 

"Ada makanan apa di kulkas pa? Ayo kita masak!" Ajakku seraya mengunyah tahu goreng itu. Tangan kanan menyuapkan tahu bekas gigitan ke mulut papa. Awalnya ia menolak, tapi akhirnya mau. Aku tau papa lapar, jangan gengsi. Batinku.

"Yuk kita lihat!" Papa berdiri dan menggandeng tanganku yang mulai dingin.

"Kamu kalau lapar, tangannya dingin, ya," katanya seraya mencubit pipi dengan gemas.

Ayah mengambil dua butir telur lalu menggorengnya. Ekpresinya sangat menegangkan kala menggoreng.

"Sini piringnya!" Pinta papa.

Aku mendekatkan piring, kemudian meletakkannya di atas meja. Kuperhatikan bentuk telur itu.

"Itu telur ceplok ala chef Handoko." Kelakarnya sambil tertawa. Aku tau, ia sedang menertawakan dirinya sendiri.

Aku pun ikut tertawa, menertawakan bentuk telur ceplok yang tak beraturan. 

"Kira-kira dapat nilai berapa nih, telur ceplok papa?"

"Tiga puluh." Aku melirik papa setelah menjawabnya.

Wajahnya masam, sesaat kemudian ia tertawa. Dan hatiku rasanya begitu getir.

Kami begitu lahap menghabiskan telur ceplok disiram kecap manis dan nasi yang mulai kering di dalam ricecooker.

"Biar aku saja pa yang cuci," aku menarik piringnya.

"Ya sudah, papa ke kamar ya?"

Aku mengangguk, pikiran berkelana, ada perasaan takut, kalau-kalau papa tertekan dan mengakhiri hidupnya. Atau jangan-jangan, telur ceplok tadi sudah dibubuhi racun.

Malam yang sunyi dan dingin dilalui dengan air mata. Gemericik hujan jatuh, jendela kaca kamar mengembun. Aku menuliskan sesuatu menggunakan telunjuk, tak terasa air mata mengalir membasahi pipi. Mata juga hidung ini memanas, aku berjalan mundur, merebahkan bobot tubuh ke atas ranjang berukuran satu orang dewasa.

Ingatan tentang hari ini perlahan memudar, aku sudah berada di alam bawah sadar, bertemu dengan perempuan yang hari ini pergi datang. Ia mendorong tubuhku hingga terjatuh. 

Aku tergagap dan membuka mata, posisi tubuh kini sudah tidak lagi di ranjang, seketika suara ayam berkokok terdengar nyaring. Itu pasti ayam jantan milik tante Darmi pemilik warung makan sebelah rumah.

Aku mengumpulkan tenaga untuk bangkit, rumah begitu lengang, aku menghampiri kamar papa, tak ada siapapun, bahkan cicak yang biasanya berbunyi di jam sekarang ini pun tak terdengar suaranya.

Ada secarik kertas di meja makan, tertulis "papa kerja". Ia tak meninggalkan apapun di meja makan selain secarik kertas dengan tulisan yang sangat singkat. Ini sama sekali tak membuatku kenyang.

Aku bergegas ke kamar mandi, selain membersihkan diri, aku juga meminum airnya sampai sendawa. Pakaian merah putih tak lagi rapi, ku kenakan seadanya. Minyak rambut habis, bau seragam seperti bangkai cicak di dalam lemari. Teringat parfum papa, ku ambil lalu kesemprot sebanyak mungkin.

Langkah kaki gontai menyusuri jalan menuju sekolah. Tak kuhirau siapapun yang menyapa.

"Eh, Azam, kamu kok lesu gitu? Apa belum sarapan?" Tanya seorang perempuan di warung tante Darmi.

"Ssst, mamanya pergi kemarin." Bisik tante Darmi, namun telingaku ini pendengarannya sangat baik.

"Hah? Kenapa?"

"Biasalah, kalau perempuan sosialita, mana tahan hidup miskin." 

"Emang dia kaya?"

"Dulunya kaya banget, perusahaannya gulung tikar, rumah mewahnya dijual, tuh, sekarang beli rumahnya ustad Hasan. Beda banget sama rumahnya yang dulu."

"Ya Allah, kasian ya. Anaknya ganteng gitu, cumq satu, sayang banget."

"Yaa, namanya juga hidup, kadang di atas, kadang di bawah."

"Tapi kan gak harus pergi, bisa dampingi suami sampai bangkit lagi, ya kan?"

"Harusnya sih, tapi ya ... karena terbiasa hidup enak, jadi berat menjalani hidup susah."

Aku masih berdiri di depan rumah Hengky, menunggunya selesai sarapan. Sebenarnya, ibu Hengky menawarkan sarapan, tapi malu untuk mengiyakan.

Tak lama kemudian, Hengky keluar dan kami berjalan bersama. Ocehan ibu-ibu di warung tadi masih terngiang di telinga.

"Zam, nilai kamu seratus loh!"

Kalimat Hengky barusan menggugah lamunan tak berfaedah. 

"Oh ya? Kok tau?"

"Yee, kan ibuku sekarang wali kelas kita."

"Oh iya ya, lupa. Kamu seratus juga dong?"

"Aku delapan puluh."

"Aku sudah bilang sama ibu, kalau mau belajar sama kamu. Biar nilaiku seratus juga. Biar kita samaan. Ya kan?"

"Kenapa gak belajar sama ibumu saja?"

"Ibuku sibuk, pulang ngajar musti ngurus adek."

"Kan kamu ada pembantu."

"Pembantunya cuma sampe ibu pulang aja, mbak Dini kan mau sekolah siang."

"Gitu."

"Boleh ya? Belajarnya di rumah kamu aja."

"Oke."

"Pulang sekolah ya!"

Aku mengangguk, tak mau mengecewakannya. Sebenarnya akhir-akhir ini jarang sekali buka buku, bahkan pekerjaan rumah pun kerap kali dikerjakan di sekolah. Tapi Tuhan sangat bermurah hati, menganugerahkan otak yang cerdas dan paras tampan. Ini membuatku sedikit percaya diri, meski kini mereka sering menggunjing.

"Zam, apa iya, mamamu pergi sama pacarnya?" Aku tersontak menoleh ke arah sumber suara. Ternyata dia anak dari tante Darmi yang menggunjing pagi tadi.

Kupasang wajah seram dan menatapnya tajam.

"Zam, kamu tuh ganteng tau meski marah gitu, mau gak jadi pacarku? Tapi nanti kalau sudah besar."

Ternyata anak dan ibu sama-sama banyak bicara. Batinku. Aku melengos berlalu meninggalkannya menuju kelas. Di berlari menyusul dan menyejajarkan langkahnya. 

"Mau ke kelas kan? Bareng aja," ucapnya santai. Padahal sepagi ini dia sudah membuatku kesal.

Aku tak mengindahkannya, sepontan tubuhnya kudorong dan terjatuh. Ia menangis, seketika orang berkerumun. 

"Kamu kenapa Sinta?" Tanya bu Mela, ibunya Hengky.

"Azam ngedorong aku bu!" Tangannya menunjuk ke arah kuberdiri.

Terlihat bu Mela menghela nafas berat. Kalian berdua ikut ke kantor. Ayo!"

Perempuan itu berjalan tertatih, aku bahkan malas untuk menoleh, apalagi membantunya berjalan.

"Silakan duduk!" Pinta guru bimbingan konseling.

"Siapa nama temanmu ini?" Tanya pak Rozak."

"Azam Abdullah."

"Kamu tau namanya?" Pak Rozak bertanya padaku.

Aku menggeleng.

"Astaghfirullah. Kalian tidak satu kelas?"

"Sekelas pak." Jawab gadis itu dengan cepat.

Aku hanya diam. 

"Baiklah, meski sudah satu bulan, tapi kamu belum tau semua nama teman sekelas.

Hmm ... kalau begitu, sebutkan namamu padanya!" Pinta pak Rozak padanya.

"Gak perlu, saya tidak suka basa basi pak, katakan saja dengan jelas. Untuk apa saya duduk di sini!"

"Iya, kamu kenalan dulu sama cewek cantik ini."

"Di dunia ini tidak ada cewek cantik dengan mulut lemes pak." Jawabku, namun terlihat pak Rozak menelan ludah. Matanya mengerjap dengan kerap lalu kembali normal.

.

.

.

Kira-kira, gimana ya respon Sinta dan pak Rozak kali ini?