Loading...

Novel Santri Hasil Makian Bab 5

November 28, 2021 2 Comments


"Masnya, kuliah di mana?" Bu Nay bertanya, Azam menghentikan kunyahannya dan meminum air hangat yang sudah tersedia sesuai permintaan.


____________


"Saya masih sekolah, Bu."

"Sekolah? Kelas berapa?"

"Dua." 

"Di mana?"

"Palembang."

"Palembang? Lah kok, bisa terdampar di Magelang, ini gimana ceritanya? Kan nggak lagi libur panjang?"

Azam menceritakan kisahnya secara singkat. Air mata Bu Nay mengalir begitu saja, ia merasa iba pada Azam.

"Ya Allah. Maafkan Ibu, ya, harusnya nggak tanya apapun. Orang baru kenal juga, lagian sampean sih yang mulai duluan, nanyain Arini." Cerocos Bu Nay, padahal barusan dia meminta maaf, sekarang menyalahkan.

"Nggak papa Bu, Ibu jangan cerita kalau saya pernah menanyakan Arini." Azam sudah bisa menyebut namanya, tau dari Bu Nay.

Setelah perutnya terisi, Azam mulai mengantuk. Arini juga tidak keluar hampir satu jam.

"Bu, saya boleh tidur di sini sebentar?"

"Boleh, boleh, di pojok sana, ya!" 

"Makasih, Bu,"

Bu Nay mengangguk, mengulas senyum.

***

"Rin, aku anterin pulang, ya, kebetulan bawa mobil." Ucap seorang pria berwajah tampan dan tinggi.

"Maaf, aku dijemput adek, kok." 

"Cuacanya mendung, nanti kehujanan di jalan. Adekmu gak usah jemput, biar aku antar kamu aja."

"Makasih, Bri. Nggak usah."

"Kenapa sih, Rin? Sekali aja, aku pengen kenal sama orang tuamu." 

Terdengar helaan nafas Arini, ia melengos menatap wajah teman di sebelahnya. Azam sudah bangun dari tadi, mendengar suara keras menyebut nama Arini. Kini ia menguping seraya pura-pura tidur.

"Mas, itu lho, orangnya." Bu Nay menyenggol bahu Azam. Azam berdeham, mengusap wajahnya. 

"Aku denger semua, kok." Sahutnya mengulas senyum jahat.

"Rin," Brian menyentuh lengan Arini.

"Hey!" Arini menyeringai.

"Kamu kenapa sih Rin, nggak mau aku anter?"

Arini menarik nafas berat.

"Sepertinya harus diperjelas." Ia meminta persetujuan dari teman sebelahnya yang bernama Sally, tubuhnya berisi, memakai celana jeans hitam, kemeja biru, kerudung hitam dan berkacamata.

Temannya yang sedari tadi bersendakep, mengangguk mengiyakan.

"Gini ... mohon maaf sebelum dan sesudahnya nanti. Aku tidak mau dibonceng, diantar lelaki manapun, kecuali Ayah, adek, dan suamiku kelak."

"Kita kan bertiga?" 

"Sama siapa?"

"Sally." 

"Sally, nggak searah sama aku. Udahlah Bri, jangan sia-siakan waktumu dengan tetap di sini memaksaku, ya."

"Judes juga, Arini." Gumam Azam dalam hati.

Suara mereka terdengar jelas. 

"Tuh, adek aku udah dateng." Arini menunjuk seseorang memakai motor matic.

"Oh? Jadi itu adiknya, pantes tadi pake acara cium tangan. Eh, Arini ini .... Bu, Arini itu sekolah kelas berapa?"

"Astaga, dia kuliah semester tujuh."

"Hah! Yang bener?"

"Iya, kayak ABG kan?" 

Azam mengangguk. Bu Nay terkekeh.

"Bu De, Arini nggak mampir, ya." Ucap Arini dari luar.

"Iya, salam buat Ayah dan Ibumu ya." 

"Insyaallah ntar disampein. Assalamu'alaikum."

"Sal, aku pulang duluan ya, makasih udah nemenin aku nunggu Rijal." 

"Okey, salam buat si ganteng, itu."

"Haha, siap." 

"Duluan ya, Bri, assalamu'alaikum." 

Arini melangkah pergi, Azam pun berkemas hendak mengikutinya. Setelah berpamitan dengan Ibu Nay, ia naik ojek.

"Bang, susul motor matic biru di depan itu ya." Pintanya seraya menepuk pundak bang ojek.

"Ngebut banget." Gumam Azam. 

"Jadi, gimana Mas?" 

"Ya udahlah, antar saya ke terminal Tidar, aja."

Mereka kehilangan jejak Arinj. 

"Makasih ya, Bang."

"Sama-sama." Bang ojek itu pergi.

Azam mencari tempat duduk, ia menyandarkan bobot tubuhnya ke kursi besi panjang, di terminal. Ia lelah, matanya sangat berat. 

Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari nomor baru.

"Zam, ini Mama. Kamu di mana?"

"Mama?" Azam mengucek matanya. Jantungnya berdebar. Ada perasaan senang juga kesal. Ia berharap tidak bertemu Mamanya secara langsung.

 Di terminal Tidar." Balasnya.

"Oke, tetap di sana. Sepuluh menit, Mama nyampai."

Azam merebahkan tubuhnya, mengendorkan otot kaki. Ia terus memikirkan Arini. Perempuan anggun, berbaju gamis dan kerudung menjuntai menutupi dada. 

"Kenapa ia tidak menyukai Brian? Padahal tak ada kekurangan. Selain tampan, ia juga kaya. Apa aku layak untuknya?" Bisiknya pelan.

Ponselnya berdering lagi. Kali ini Mamanya menelpon.

"Halo sayang, Mama di luar."

"Ya." Jawabnya sebelum menutup sambungan.

Azam nampak lesu, ia tak bergairah. Pikirannya teringat saat Mamanya dengan kejam meninggalkan dia. Ia berjalan gontai. Nampak kusut, rambutnya sudah memanjang menutupi mata. Namun di bagian samping dan belakang masih agak tipis. Kain sapu tangan yang digunakan menutup wajahnya, ia lepas.

"Azam ... sayang ... Mama kangen banget sama kamu, Nak." Mamanya memeluk erat tubuh dempal Azam.

Azam bergeming, ia tak membalas pelukan Mamanya. 

"Dari mana tau nomorku?" 

Bukan pertanyaan apa kabar, ia justru menanyakan dari mana tau nomor ponselnya, dengan ekspresi datar. Sorot matanya nanar, ia menunduk enggan menatap.

"Itu nggak penting. Sekarang kamu tinggal sama Mama ya. Ayo!" Mamanya menggandeng lengan Azam, memasuki mobil sedan mewah. 

"Ini mobil yang berbeda." Batinnya.

"Ini Papi kamu, Danu."

"Papi? His, tak sudi aku memanggilnya dengan sebutan Papi." Sungutnya dalam hati.

"Azam." Senggol Mamanya agar segera menyalami suami baru itu.

"Hai, Om," sapanya acuh.

"Hai, kamu sudah besar dan tampan." Papi tirinya menyentuh pundak Azam yang lebih tinggi sepuluh senti darinya. Azam mengulas senyum lalu membuang muka.

Mamanya dan Danu sedikit menjauh dari Azam yang berdiri menatap orang keluar masuk bus. Ia mulai tak nyaman, meliirik dua orang sedang membicarakan entah apa. Ia melangkah menjauh menuju jalan raya.

"Azam!" Panggil Mamanya.

Ia menghentikan langkahnya dan menoleh. Mamanya berjalan cepat mendekati.

"Zam, kamu tinggal sama Mama, ya!"

"Apa dia, akan baik-baik saja?"

"Ya, tentu, ayo!" Mamanya memegang jemari Azam dan menariknya mendekati mobil.

Mereka bertiga masuk ke mobil menuju perumahan elit di tengah kota Magelang. Sesampai di gerbang yang menjulang tinggi dan kokoh, Azam menatap rumah itu, lalu menatap mamanya. Sampai hampir masuk rumah, Azam melakukan itu. 

Rumah itu mewah, bahkan jauh lebih mewah dibanding rumah mewah yang pernah ia tempati. Hawa sejuk menyeruak tubuhnya, ia memejamkan mata menikmati hawa sejuk setelah seharian berjubal dengan debu dan asap kendaraan. 

"Sini kamar kamu, ya. Mandi, dan istirahatlah." 

Ia mengangguk, melirik jam dinding berukir keemasan di setiap sisinya. Nampak elegan, dan itu pasti mahal. Azam merebahkan bobot tubuhnya yang lelah ke atas ranjang empuk dengan pendingin udara melengkapi kantuk pada matanya. Ia terhanyut, bangun karena perutnya terasa pedih. 

Azam membuka pintu kamar mencari dapur. Ada Mamanya yang sedang makan sendirian. Ia mendekat, duduk di samping kiri.

"Mama sengaja nggak bangunin, kamu pules banget tidurnya. Pasti lelah."

"Apa, ini Mama yang masak?" 

"Bukan, Mama jarang masak, habis isya ini Mama mau arisan, kamu dirumah sendiri nggak papa kan?"

Azam mengangguk, tak menanyakan apapun, meski dalam pikirannya banyak sekali pertanyaan.

Dua hari berlalu Azam tinggal di rumah Mamanya. Pekerjaannya makan, tidur dan beres-beres rumah. Ia merasa tak enak hati kalau tak melakukan apapun, hanya numpang hidup saja dengan Ayah sambung.

Rumah lengang, Azam masih merasa lelah, malam ini ia tidur nyenyak di tempat yang nyaman. Namun siapa sangka, tiba-tiba suara barang rumah pecah. 

"Ma, semalam itu suara apa, ya?"

"Oh, Mama nggak sengaja nyenggol guci."

"Oh," Azam merasa sesuatu telah terjadi.

"Kamu, masih mau sekolah?"

Hati Azam berdesir mendengar pertanyaan Mamanya.

"Mau,"

"Besok, Mama antar ke sekolah, ya."

"Besok?"

"Iya,"

Azam mengangguk. 

"Ma, pernah rindu Papa?"

Pertanyaan itu spontan terucap dari bibirnya, Mamanya menghentikan aktifitas mengecat kuku kaki. Perempuan itu tak menjawab, karena di belakang Azam ada suaminya yang menatap geram penuh amarah.

"Ma ...."

"Kenapa kamu ninggalin, Papa?" Mamanya kembali bertanya.

"Papa setres ditinggal Mama, ia jadi sering membawa perempuan ke rumah. Aku muak, jadi aku pergi."

"Papamu itu pembohong, dia menipu saya. Sekarang , sudah jatuh miskin, banyak tingkah, tidak becus mengurus anak. Liat aja, anaknya sampai datang ke sini, karena ... haus kasih sayang."

"Tutup mulut anda!"

"Hei! Berani kau membentak saya? Kau di sini itu menumpang. Tidak tau malu!"

Azam tertegun, dadanya tiba-tiba sesak. Ia menatap Mamanya yang tertunduk.

"Jangan menghina Papa saya, Om!"

"Kenapa? Kau itu tak jauh beda dengan Papamu. Besar marah."

"Papa saya menipu Om? Menipu apa?" Azam kini menedekati Danu yang sedang berkecak pinggang.

"Dia meminta saya untuk investasi. Tapi semua itu sia-sia, perusahaannya tetap bangkrut, uang saya tidak kembali. Bodoh tidak bisa mengolah perusahaan."

"Jadi, itu alasannya."

"Alasan apa?" Suara Danu kembali mengeras.

"Alasan perempuan itu meninggalkan Papa. Anda lebih kaya, dan pintar mengolah perusahaan."

"Saya memang mencintai istrinya, sekaligus ingin menyakiti Subhan. Lagian Mamamu itu tidak bisa hidup miskin." Danu dengan bangga mengatakan hal itu.

Azam mengangguk-angguk. Menetralisir perih di hatinya. 

"Sepertinya, saya ini hanya penghalang kebahagiaan orang." Ia melirik Mamanya yang masih menunduk.

"Ma, mau mengatakan sesuatu? Terakhir kali."

"Azam, tolong, mengertilah. Kamu harus bersikap baik dan menerima Papi Danu. Dia sangat baik."

"Ya, dia baik, bisa memenuhi semua keinginan Mama." Jawab Azam seraya tertawa.

"Azam, Papa kamu itu bodoh, tidak bisa mengurus perusahaan." Mamanya membela suami barunya, ikut merendahkan Subhan di depan anak kandung sendiri.

"Ya, Papa bodoh, karena memiliki istri yang banyak maunya. Ia tidak bisa bekerja dengan tenang. Menyeimbangkan kebutuhan dan kehidupan Mama yang serba wah. Harusnya, Mama menikahi Dia sejak dulu, agar tidak ada aku, di dunia ini." Azam menunjuk Danu yang memerah matanya.

"Azam!" Mamanya berteriak, agar Azam berhenti bicara.

Azam pergi ke kamar, ia mengemas barangnya. Amplop berisi uang penjualan arloji masih sembilan belas juta. Ia keluarkan dua puluh lembar.

Azam keluar mendekati dua orang yang sedang tak sehat kejiwaannya.

"Ini uang, biaya selama saya di sini. Terima kasih banyak, permisi."

"Azam, Azam!" Rindu memanggil Azam. Ia berhasil menarik lengan Azam.

"Azam. Mama minta maaf."

"Saya tidak tau harus bilang apa. Terima kasih untuk tujuh tahun dan sembilan hari di sini. Harusnya saya tidak hidup, karena hanya mengganggu anda."

"Azam," Tangis Rindu pecah, ada sesal juga sedih. Ia sakit mendengar kalimat darah daging yang ia siakan.


.

.

Bersambung ....



Resep JSR ala DR. Zaidul Akbar

November 20, 2021 Add Comment






🌿 RESEP JSR ALA DR. ZAIDUL AKBAR 🌿


Ini dia resep rimpang JSR yang bisa melancarkan haid atau pun program promil ala dr. Zaidul Akbar 😍


Bahan :

1️⃣ Jahe

2️⃣ Kunyit

3️⃣ Sereh

4️⃣ Jeruk Nipis

5️⃣ Madu


Cara membuat :

1️⃣ Geprek jahe, kunyit, dan sereh.


2️⃣ Masukkan seluruh bahan yang telah digeprek ke dalam gelas dan seduh dengan air panas.


3️⃣ Tunggu hingga hangat, kemudian tambahkan perasan jeruk nipis dan madu.


4️⃣ Aduk hingga semua bahan tercampur


Ramuan rimpang JSR ini bisa kamu minum secara rutin 1 - 2x sehari. Insyaallah haid menjadi lancar ✨


Yuk dicoba 😍

Novel Santri Hasil Makian Bab 4

November 20, 2021 2 Comments


Nina emosi karena ditolak dan dihardik oleh Azam. Ia memeluk Azam dari belakang. Sedang Azam berusaha keras membuka knop pintu. Knop pintu itu lepas. Nina terpelanting ke belakang, tangannya meraih kunci yang diselipkan di bawah bantal, dengan segera membuka pintu dan berlari, seolah sesuatu yang buruk sedang menimpanya. Azam yang sedari tadi berdiri, terjatuh karena dipukul Nina menggunakan vas bunga. Kepala Azam berdarah, Nina keluar bermain drama.



__________


"Bunda ... Bunda ... A-azam." Tangan Nina memegang kemejanya yang terpakai namun tidak terkancing. Rambutnya acak-acakan. 

Di kamar, Azam berusaha berdiri, ia menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya. Kepalanya sedikit pusing. Ia tertatih keluar, menyusul suara teriakan Nina yang menjijikkan.

"Bunda ...."

"Azam! Kamu!" Tangan Bunda mendarat ke pipi kanannya. Ia terhoyong, meringis menahan sakit, bukan karena tamparan, tapi efek benda keras yang beradu dengan kepalanya.

"Bunda sudah pulang," ucap Azam.

"Bunda, aku sudah telpon polisi. Itu mereka," Nina menunjuk keluar. Polisi itu berwajah garang. Ia masuk rumah dan menyidang dua orang itu.

Azam diam, sedang Nina membeo menuduh Azam. Semua memang terlihat ia lah pelakunya, sesuai settingan Nina. 

Tiba-tiba suara meja dipukul, kaca itu berhamburan. Bunda geram melihat Azam merusak meja kaca. 

"Jadi bagaimana? Dipenjara dia belum cukup umur." Tutur polisi itu.

"Biar dia pergi dari sini, Bunda kecewa sama kamu Azam!" Bunda Ratu menatap tajam Azam. 

"Kau tidak mengatakan apapun, berarti memang betul apa yang dikatakan Nina." Ucap polisi itu lagi.

Azam hanya diam, tanganya berdarah tergores pecaha kaca. Ia sama sekali tak menatap wajah Nina. Dadanya panas, rasanya ingin meledakkan bom, namun ia tak ingin meladeni perempuan gila itu.

Azam berdiri, ia menuju kamarnya kemudian keluar membawa tas, semua barang yang penting dan beberapa helai pakaian sudah berada di dalamnya.

"Bunda, terima kasih untuk semuanya, dan tolong maafkan Azam karena telah bodoh. Azam pamit, Assalamu'alaikum." Azam meraih tangan Bunda Ratu lalu menciumnya. Ia melenggang pergi, polisi itu hanya termangu melihat tingkahnya.

"Tidak punya sopan santun!" Ucap polisi itu kesal karena diabaikan. 

Azam sudah jauh, ada perasaan sesal di hati Bunda Ratu. Ia merasa kasihan, memikirkan Azam akan tinggal di mana, dan bagaimana sekolahnya. Anak-anak panti bergeming, mereka disuruh masuk ke dalam kamar masing-masing sebelum polisi tiba tadi. Kali ini mereka kehilangan seseorang yang dikagumi karena perbuatan bejat yang dituduhkan padanya.

Azam linglung, ia merogoh arloji dan memandangnya dengan seksama. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, ia memutuskan menjual arloji tersebut. 

Ia berjalan menuju toko Arloji. 

"Permisi, saya mau jual arloji, Pak."

Azam menyodorkan arloji berwarna coklat muda kepada bapak pemilik toko arloji. Ia nampak tertegun lama.

"Maaf, Pak, bisa?"

"Kamu, dapat dari mana jam ini?"

"Hadiah orang tua saya."

"Jangan bohong!" 

"Ini, surat menyuratnya, pembelian atas nama Subhan Rasyid." Azam mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.

"Saya tidak sanggup membelinya."

"Kenapa?"

"Ini, mahal."

"Kira-kira harganya berapa, Pak?"

"Dua puluhan, bisa lebih." 

Ternyata tidak sia-sia ia membawa arloji itu dan menjaganya dengan baik.

"Semahal itu, Pak?"

"Iya, dek. Lagian, kenapa dijual? Mau beli yang baru?"

"Oh, iya, Pak." Hati Azam merasa getir, ia berbohong untuk menutupi keadaannya.

"Coba adek ke toko swalayan yang khusus jual beli arloji. Kalo saya ini cuma ngejual, nggak beli."

"Baiklah kalo gitu, Pak. Saya permisi, terima kasih."

"Iya, iya, sama-sama."

Azam mendatangi toko swalayan terbesar khusus jual beli arloji. Ia mendapatkan uang lebih banyak dari yang bapak tadi katakan. Ia mulai berpikir untuk pergi ke tempat mamanya berada. Rasa rindu seorang anak memang tak bisa dipungkiri. Meski kisahnya menoreh lara, namun anak dan ibu tetaplah saling terikat.

Azam memilih jalur darat, ia ingin lebih santai dan menikmati perjalanan. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Ada lima belas notif dari nomor yang sama, bunda Ratu.

Ia mengetik pesan untuk menegaskan. 

"Sekali lagi maafkan Azam, Bunda. Mohon doanya saja, Azam akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir, Azam sudah tumbuh besar. Terima kasih untuk enam belas tahunnya, semoga Bunda selalu sehat."

Ia menekan tombol send. Pesan itu kini sudah diterima bunda Ratu.

"Semoga kamu segera bertemu mama ya." 

Balas bunda Ratu.

Setelah membacanya, Azam menekan tombol delete, hingga semua percakapan yang pernah ada sebelumnya pun terhapus. Azam tau mamanya tinggal di mana, ia membuat akun palsu saat sekolah menengah, untuk mengetahui keberadaan mamanya melalui sosial media.

Ia sering membuat pesan messenger untuk mamanya, namun tak pernah ia kirim. Setelah selesai diketik, dihapusnya kembali.

Perjalanan dua malam tiga hari sudah dilaluinya, ada kendala seperti bus mogok, dan cekcok antar kondektur--pemumpang, sehingga memakan waktu tak biasa, perjalanan Palembang--Magelang. 

Ia sampai di terminal Tidar. Bau khas terminal menyeruak membuatnya mual. Kepalanya pusing, ia mencari tempat duduk dan menenggak air mineral yang tinggal separuh botol. Netranya menangkap dua orang yang sedang mengendarai motor matic. Seorang perempuan turun, membuka helmnya. Lelaki itu mengambil helm dari tangannya dan diletakkan di pengait antara kedua kakinya.

Azam tersadar saat air mineral itu tak lagi mengalir di tenggorokannya. 

"Ow, ssst." Ia mendesah kesal.

Sedang tatapannya masih pada dua orang tadi. "Apa itu kekasihnya? Kenapa yang laki cium tangan? Aneh." Ia bergumam dalam hati.

"Perempuan itu ... indah sekali." Sahutnya lagi.

Perempuan itu naik bus kemudian duduk dua baris di belakang sopir. Azam mengikuti dan duduk tepat di belakangnya.

"Mau sekolah, ya?" 

"Iya, Pak." 

"Bukannya libur tanggal merah?"

"Mau ujian toefl." 

"Ooh ... semangat." Sopir itu mengangkat tangannya memberi semangat.

"Insyaallah."

Azam hanya terdiam menyimak juga menatap perempuan itu terus menerus. 

"Suaranya ...." ucap Azam pelan. Ada perasaan hangat di dalam dadanya, kala perempuan itu berbicara.

Bus sudah terisi beberapa baris. Mobil mulai dinyalakan hendak berangkat menuju selatan. Azam tidak tau arah tujuan, ia hanya mengikuti perempuan itu. 

Mobil sering berhenti mengambil penumpang di pinggir jalan. Baru berjalan dua kilo saja, bus sudah terisi penuh. Ada seorang ibu hamil besar tiba-tiba muncul di samping perempuan yang dibuntuti oleh Azam.

"Eh, Ibu," perempuan itu berdiri. "Ibu, duduk aja, sini." Pintanya seraya membetulkan tas Ibu itu.

"Makasih loh Neng, kamu mau ke mana?"

"Mau ujian toefl. Doain lancar ya, Bu." 

"Siapa Ibu itu? Kenapa begitu dekat? Apakah Ibunya? Ah, tidak mungkin. Tidak mirip sama sekali. Tapi bisa jadi, perempuan itu mirip Bapaknya." Azam menggelengkan kepala. Ia pun memutuskan berdiri. Meminta perempuan paruh baya menduduki tempatnya. 

"Ia sangat baik, perempuan yang duduk di depannya tak perduli ada perempuan hamil yang berdiri, memegangi perutnya yang besar." Keadaan di dalam bus ramai, banyak orang berbincang, namun bagi Azam dialah yang berisik. Ia berbicara pada dirinya sendiri.

Karena muatan yang tidak sesuai kapasitas, bus itu terhuyung menghindari andong di depannya. Pedal rem yang diinjak sopir membuat seisi penumpang ikut terhuyung. Perempuan itu tak sengaja menginjak kaki Azam, untung saja ia memakai sepatu.

"Astaghfirullah. Maaf, Mas, maaf." Ucapnya pada Azam. Namun matanya tak menatap ke arah mata Azam yang tak berhenti memandang. 

"Iya, gak papa." 

Mobil itu kembali berjalan normal setelah beberapa penumpang turun. Ada yang protes karena terlalu padat, bisa berakibat fatal pada seluruh penumpang. Memang acapkali beberapa sopir bus ingin mengangkut semua orang agar mendapat pundi rupiah yang lebih. Namun tak menyadari kondisi dan memikirkan keselamatan penumpang.

Perempuan itu nampak gelisah, beberapa kali matanya melirik ke bawah aeah belakang, tempat Azam berdiri. Ia menyadari bahwa sepatu Azam telah kotor karena diinjak olehnya tadi. Tangannya memegang kuat pada sandaran bangku, ia jongkok dan mengelap sepatu Azam dengan kerudungnya.

Tentu saja adegan itu membuat Azam terkejut sekaligus terenyuh. Beberapa detik kemudian, air matanya merembes, mengalir membasahi kain penutup wajahnya.

"Eh, nggak usah," Bibir Azam berucap pelan seraya menarik kakinya ke belakang. Namun terlambat, Noda di sepatunya sudah hilang, kini beralih menempel di kerudung perempuam itu.

"Nggak papa, nanti saya nggak bisa tidur karena merasa bersalah."

"Apa? Tidak bisa tidur hanya karena merasa bersalah, telah menginjak kaki orang yang tidak dia kenal sama sekali?" Azam merasa heran pada perempuan itu  ia masih saja berbicara sendiri di dalam hati. Menelan ludah, lalu menghela nafas panjang agar tidak terlalu sesak dadanya yang dipenuhi tanya.

"Gatot Subroto, siap-siap."

"Hah!" Azam mencari nama yang dimaksud Pak Kondektur. "Keren sekali, nama penumpang aja hapal."


"Bu, aku turun duluan ya, Assalamu'alaikum." Pamitnya.

Azam pun ikut turun, beberapa langkah di belakangnya.

Perempuan itu segera menyeberangi jalan, sedang Azam celigukan mencari tempat untuknya sembunyi. Ia melihat ada sebuah warung, selain perutnya memang sudah lapar, makan di sana bisa jadi pilihan yang tepat. 

Azam memesan satu porsi nasi rawon. Ia belum pernah makan makanan itu sebelumnya. Tanpa berpikir itu enak atau tidak, yang terpenting perutnya segera terisi dan kenyang.

"Maaf Bu, Ibu tau perempuan yang pakai kerudung biru langit itu?" Tanya Azam tiba-tiba.

"Oh, yang itu, namanya Arini. Cantik, baik, sholeha, pinter. Anaknya pemilik tempat kursus itu aja naksir berat. Ehem ... Mas juga naksir Mbak Arini, ya?" Setelah berdeham, Bu Nay menggoda Azam. Sampai kuah rawon tumpah mengenai kakinya.

"Tunggu aja, Mas Brian sebentar lagi datang. Dia anak kuliahan jurusan kedokteran." 

Mendengar tutur Bu Nay, Azam tersedak. Ia sadar akan dirinya yang bukan siapa-siapa. Sekolah saja putus di tengah jalan. Meski impiannya begitu besar namun takdir membuatnya mengubur impian itu.

"Masnya, kuliah di mana?" Bu Nay bertanya, Azam menghentikan kunyahannya dan minum air hangat yang dimintanya tadi.

.

.

Bersambung ....




Warna Darah Haid

November 19, 2021 Add Comment


💧 UDAH CEK WARNA DARAH HAID KAMU BELUM? 💧


Ternyata warna darah haid itu bervariasi loh, Yuspiners 😍

Tapi hati-hati, nih. Kita harus jeli dan juga memperhatikan setiap warna darah haid yang keluar, karena itu bisa jadi tanda kesehatan kita 🥰


💧 Darah Haid Berwarna Oranye

Darah haid juga bisa berwarna oranye. Kondisi ini muncul ketika darah bercampur dengan cairan serviks sehingga warnanya memudar. Warna orange juga dapat muncul sebagai tanda perdarahan implantasi saat sel telur yang telah dibuahi menempel ke rahim.


💧 Darah Haid Berwarna Pink Pucat

Pertanda kurangnya nutrisi tertentu, seperti zat besi sebagai tanda anemia.


💧 Darah Haid Berwarna Merah Muda

Pertanda kurangnya estrogen dan tanda ovulasi.


💧 Darah Haid Berwarna Merah Terang

Adalah warna darah haid normal.


💧 Darah Haid Berwarna Merah Tua

Pertanda kadar hormon yang tidak seimbang dan gejala fibroid rahim jika darah menggumpal.


💧 Darah Haid Berwarna Merah Keabuan

Pertanda ada infeksi bakteri.


💧 Darah Haid Berwarna Coklat

Adalah sisa darah yang mengendap di rahim atau bisa jadi pertanda kehamilan.


Tak perlu khawatir, Yuspiners 😊

Sangat normal jika warna darah haid berubah-ubah tiap bulannya. Bahkan, warna yang berbeda juga kerap muncul dalam satu kali haid. Pasalnya, ada banyak faktor yang bisa memicunya dan sering kali bukan masalah yang besar 🥰

Novel Santri Hasil Makian Bab 3

November 09, 2021 Add Comment
"Ambil! gak papa." Ungkap pria itu dengan lembut. Seketika hatinya berdesir, terasa begitu perih. Ini kali pertama ia membersihkan kaca mobil orang di jalan raya dan diberi uang.

_______


Perempuan di samping pria maskulin itu juga menyodorkan sebuah kantong kuning dengan merek berbentuk W di sisi depan dan belakang. Azam menatapnya hingga suara klakson mobil bersahutan.

"Ambil, dek!" Perempuan itu sangat cantik, rambutnya coklat bergelombang, juga berkacamata.

Azam menarik kantong dengan segera, kemudian ia menepi. Lelaki dan perempuan itu tersenyum seraya melambai. Sedang Azam hanya diam terpaku memegang selembar uang berwarna merah di tangan kirinya dan sebuah kantong di tangan kanannya.

Bulir air merembes di sudut matanya yang indah. 'Aku lupa rasanya kue ini' bisiknya dalam hati. Ia menyusuri jalanan berdebu, mencari tempat untuk menyantap kue satu kotak, masih utuh. Setelah beberapa suap, dadanya terasa mengganjal, rupanya kue tadi belum turun ke lambungnya. Perlu air agar berjalan dengan lancar di kerongkongan.

Azam membeli sebotol air mineral tak jauh dari tempatnya duduk. Ia kembali menyantap kue itu hingga habis. Air minum juga habis. Bulir air dari langit menjatuhinya satu per satu. Semakin banyak. Ia melihat sekawanan anak jalanan berlari terbirit-birit.

"Kenapa mereka? Masa iya, takut hujan? Aneh!" Gumamnya sendiri. Hatinya mencelos, seketika tangannya digelandang oleh lelaki bertubuh kekar berkumis tebal. Perutnya sedikit buncit, ada baton stick di tangan kanannya. 

"Sa-saya ... mau dibawa ke mana Pak?"

Lelaki itu tak menjawab, ia justru mengangkat tubuh Azam memasuki mobil pick up. Di sana sudah ada dua anak yang duduk. 

Dua anak itu tampak murung, wajah mereka pucat karena takut, atau mungkin karena lapar.

Azam memandang mereka serius. Sesekali ia melihat tangan dan kakinya. Ia nyengir melihat keadaan dua anak di depannya. Tangan mereka banyak koreng, juga sangat dekil. 

"Gimana? Mereka udah jauh. Aneh sekali, harusnya mereka senang, kok malah kabur." 

"Takut."

"Takut? Sama siapa?"

"Sama bosnya, lah. Sama siapa lagi?"

"Ya, kan udah gak bakal ketemu."

"Kalo ketemu, habis dia."

"Begitu?"

"Iya."

Dua lelaki itu mengepulkan asap rokok di sudut mobil, seraya meracau membuat Azam berkali-kali menggaruk kepalanya.

"Ya, udahlah, cabut aja!" Ajak lelaki yang baru saja datang membawa kantong plastik berisi nasi bungkus dan air mineral.

"Nih, bocil itu pasti lapar dan haus." Ia menyodorkan pada salah satu lelaki yang sedang merokok tadi.

"Oke, berangkat."

Mesin dinyalakan, mobil bergetar hendak melaju. Lelaki berkumis tebal itu membagikan nasi bungkus kepada mereka bertiga. 

"Saya mau dibawa ke mana Pak?"

"Panti sosial."

"Ngapain?"

"Kamu bisa main, sekolah, tidur nyenyak, makan enak, di sana."

"Benarkah? Terus, kenapa mereka terlihat tidak suka?"

"Karena mereka ini bodoh, tidak mau sekolah."

"Kenapa?"

"Haduh, banyak tanya. Makan nasimu itu, mumpung masih anget."

Azam diam lalu membuka bungkus nasi. Karet gelang yang mengikat bungkus nasi dipakai untuk mengikat rambutnya. Mata bulat kecoklatan itu nampak berbinar. Ia membayangkan perkataan Bapak di sebelahnya.

"Bapak polisi suka nangkap bocil ya?" Tanya Azam.

"Iya, biar pada sekolah, bukan keluyuran." Jawab polisi itu tegas.

"Kan cari duit, Pak." Jawab anak bertubuh kurus di depan Azam.

"Belum waktunya. Seusia kalian itu waktunya main dan belajar ... menuntut ilmu? Biar pintar."

"Apa kalo pintar bisa punya banyak uang?"

"Oh iya jelas, dengan sekolah, kamu bisa jadi presiden, menteri, dokter, polisi seperti Bapak. Bisa jadi apapun yang kamu mau lah." 

Azam diam mengangguk. Ia memang sangat ingin tetap sekolah.

"Kamu ... bawa apa di tas?

Kamu kabur dari rumah ya? Ayo, kita antar pulang saja anak ini."

"Jangan Pak!" Teriak Azam hingga membuat anak yang sedang menyuap nasi tersedak.

"Loh, kamu punya orang tua kan?"

"Iya, tapi mereka tidak sama-sama lagi."

Kedua polisi itu diam, mereka saling tatap. Memutuskan untuk tidak lagi mengatakan apapun.

"Saya mau sekolah, mau tinggal di panti aja."

"Baik." Jawab polisi berkumis tebal.

"Aku tau gimana rasanya," tambah polisi yang terlihat masih muda dengan tahi lalat di jidat kiri di atas alis.

Azam melirik dua anak di depannya yang melahap dengan cepat makanan mereka. 

"Kamu tadi ... cuci tangan nggak?"

Mereka menggeleng kompak. Azam menjadi tidak berselera makan.

"Kamu mau lagi?"

Mereka kompak mengangguk.

Azam menyodorkan nasinya, terlihat mereka berbagi lalu dengan sekejap nasi dan lauk itu ludes.

Azam menghela nafas, perutnya terasa mual. 

"Pak, saya mau muntah." Ia menyentuh lengan Pak Polisi.

"Ini, plastik."

Tak pakai waktu lama, Azam memuntahkan isi perutnya. Kue nikmat tadi pun ikut keluar juga. 

"Eh, maaf." Ia menyadari, merasa tidak sopan karena muntah di depan orang yang baru saja selesai makan.

"Sayang sekali, padahal enak." Jawab salah satu anak itu. 


Mendengar kalimat itu, Azam kembali muntah, hingga dadanya terasa sakit.

Ia lemas, bersandar di bahu Pak Polisi yang kekar. 

"Nama kamu siapa?" Tanya Azam kemudian, agar pikirannya teralihkan dari perasaan jijik yang membuatnya muntah.

"Pino." Jawab anak lelaki yang memiliki koreng lebih banyak dari yang di sebelahnya.

"Kamu?" Tanya Azam pada anak berambut pirang.

"Mail."

"Aku Azam." 

"Kenapa badanmu bersih dan nggak keliatan kaya gembel." Celetuk Mail.

"Karena anak baru." Kalimat itu keluar begitu saja.

"Oh."

"Kamu mabuk naik mobil?" Tanya polisi yang masih muda.

"Iya." Jawab Azam mengangguk. Tentu saja ia tak akan jujur, kalau merasa sangat mual karena melihat kedua anak di depannya.

Tak terasa, mobil pick up pun berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar setinggi dua meter berwarna hitam. Halamannya sangat luas, terdapat beberapa jenis tanaman hias dan buah. 

Azam dan kedua temannya mengikuti langkah ketiga polisi. Di pintu mereka disambut dengan ramah oleh dua perempuan yang memakai seragam biru muda, mereka terlihat masih muda. 

Satu orang lagi perempuan paruh baya memakai gaun batik, kulitnya kuning bersih, meski sudah nampak keriput di beberapa bagian tubuhnya, namun masih terlihat cantik. Kacamata tebal, bibir merah dan rambut pendek dengan uban, membuat warna rambut tak lagi hitam, tapi keabuan.

Mereka bersalaman, Azam pun ikut mencium tangan ketiga perempuan itu. Beberapa anak penghuni panti keluar menemui bakal teman baru mereka. Anak kecil berambut panjang bermata sipit, terlihat menyenggol tangan temannya.

"Ganteng banget sih, ih gemes. Kaya oppa korea."

Temannya tadi mengangguk dan tak melepas pandangan kepada Azam. Azam pura-pura tak mendengar. Sebenarnya ia merasa risih dilihat dengan cara seperti itu.

Dua perempuan berseragan biru muda, mengantar ketiga anak itu masuk ke dalam untuk berkenalan dengan anak-anak panti. Mereka juga ditunjukkan sebuah kamar. Azam akan tidur satu kamar yang telah membuatnya muntah di mobil tadi.

Hari berlalu, bulan berganti tahun. Azam diperlakukan dengan perlakuan khusus, ia termasuk yang tak pernah mendapat hukuman. Selain berprestasi di sekolah dan memiliki wajah rupawan. Ia juga ringan tangan. Siap melakukan pekerjaan apapun.

Kini usianya menginjak enam belas tahun. Ia menjadi kebanggaan panti. Meski ia selalu menutup diri dari perempuan, namun mereka masih saja mendekati. Tak terkecuali mbak yang sering memakai baju seragam. Nina nama perempuan yang sudah berusia kepala tiga namun belum menikah. Ia begitu sangat menginginkan Azam. 

Azam yang tumbuh seperti harapan, memiliki tubuh atletis. Secara fisik, ia sama sekali tak ada kekurangan. Ia dingin, tapi menawan. Rambutnya tak lagi panjang saat pertama kali datang. Gaya rambut soft side parting menjadi jenis potongan favoritnya sekarang. Karena peraturan sekolah tidak boleh berambut panjang.

Nina sudah tak lagi bisa menahan gejolak dalam dirinya, ia selalu mencari kesempatan untuk memiliki Azam. Memenuhi nafsu bejatnya yang sudah lama ditahan.

Siang itu gerimis sejak pagi, sebagian anak panti menghadiri undangan  bersama bunda Dara. Pemilik panti yang sering memakai kacamata tebal dan berambut pendek juga suka memakai gaun batik.

Hari minggu, hari santainya anak panti, kalau tidak sekolah, mereka hanya rebahan di kamar setelah membantu membersihkan rumah. Pino dan Mail tak berada di kamarnya. Hanya ada Azam yang sedang membaca komik Naruto. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Azam membukanya tanpa menduga kalau itu mbak Nina. 

"Iya, Mbak?"

"Mbak mau minta tolong kerikkan leher. Kayanya masuk angin." Ucapnya seraya memijat leher dengan tangan kirinya dan tangan kanannya memegang balsem.

"Emang anak cewek gak ada, Mbak?"

"Kan, pada ikut Bunda."

Azam terdiam cukup lama. Rasanya berat, tapi kasihan. Bagaimana kalau mati karena masuk angin?

"Oke." Jawabnya kemudian.

Nina merasa kegirangan.

"Di kamar, Mbak aja ya." Pintanya.

Azam mengikuti langkah Nina.

"Loh, kok ditutup?" Azam mulai merasa resah.

"Gak apa. Ntar diliat orang," Ucapnya seraya membuka pakaian.

"Loh? Katanya cuma di leher?"

"Sekalian Zam. Kamu nggak lagi sibuk, kan?"

"Enggak sih. Tapi kan, nggak enak, aku bukan anak kecil lagi, Mbak."

"Dulu ... kamu sering meremas *******a Mbak, apa sekarang nggak kepingin lagi?"

Azam termangu, ia lupa pernah melakukan itu. Dulu sama sekali tak mengerti maksud Nina. Tapi sekarang ... ia mulai paham. Kalau Nina ini tidak beres.

"Maaf Mbak, aku nggak bisa ngerikin Mbak." Ia meletakkan balsem di kasur dan melangkah pergi. Memegang knop pintu hendak dibuka, tapi tidak bisa. 

Ia menoleh ke Nina yang sudah tak memakai baju. Tiba-tiba ia teringat mamanya, teringat perempuan yang sering dibawa papanya pulang. Jantung Azam mulai berdegup tak beraturan, amarahnya meluap-luap. Namun ia masih bisa menahan.

"Berikan kuncinya!" Bentak Azam.

"Hmm ... kenapa sih Zam? Mbak juga cantik, seksi, apa kamu ingin melihat yang lain juga?"

"Kau gila!" Hardik Azam.

"Ya ... aku sudah lama tergila-gila padamu. Menginginkanmu. Betapa sabarnya aku menunggu kamu tumbuh sebesar ini." 

"Menjijikkan!" Azam menepis sentuhan Nina.

Nina emosi karena ditolak dan dihardik oleh Azam. Ia memeluk Azam dari belakang. Sedang Azam berusaha keras membuka knop pintu. Knop pintu itu lepas. Nina terpelanting ke belakang, tangannya meraih kunci yang diselipkan di bawah bantal, dengan segera membuka pintu dan berlari, seolah sesuatu yang buruk sedang menimpanya. Azam yang sedari tadi berdiri, terjatuh karena dipukul Nina menggunakan vas bunga. Kepala Azam berdarah, Nina keluar bermain drama.




Bersambung ....